<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Minimnya Pendapatan Daerah Jadi Masalah Ekonomi Lokal</title><description>Sekira 60 persen daerah otonomi baru dikatakan tidak mampu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2015/02/23/320/1109257/minimnya-pendapatan-daerah-jadi-masalah-ekonomi-lokal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2015/02/23/320/1109257/minimnya-pendapatan-daerah-jadi-masalah-ekonomi-lokal"/><item><title>Minimnya Pendapatan Daerah Jadi Masalah Ekonomi Lokal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2015/02/23/320/1109257/minimnya-pendapatan-daerah-jadi-masalah-ekonomi-lokal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2015/02/23/320/1109257/minimnya-pendapatan-daerah-jadi-masalah-ekonomi-lokal</guid><pubDate>Senin 23 Februari 2015 12:25 WIB</pubDate><dc:creator>Raisa Adila</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/02/23/320/1109257/minimnya-pendapatan-daerah-jadi-masalah-ekonomi-lokal-4i4n81i59B.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Minimnya Pendapatan Daerah Jadi Masalah Ekonomi Lokal (Ilustrasi: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/02/23/320/1109257/minimnya-pendapatan-daerah-jadi-masalah-ekonomi-lokal-4i4n81i59B.jpg</image><title>Minimnya Pendapatan Daerah Jadi Masalah Ekonomi Lokal (Ilustrasi: Okezone)</title></images><description>
JAKARTA - Sekira 60 persen daerah otonomi baru dikatakan tidak mampu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Padahal hingga saat ini sudah banyak bermunculan otonomi baru tersebut.

&quot;Hanya 60 persen daerah otonomi baru itu tidak mampu mencapai PAD,&quot; ungkap Menteri Dalam Negeri Thahjo Kumolo di kantor BKPM, Senin (23/2/2015).

Menurutnya, ketidakmampuan tersebut akan mengakibatkan permasalahan terhadap perekonomian daerah. Terlebih lagi sebenarnya, persyaratan otonomi baru salah satunya untuk meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan asli daerah.

&quot;Mereka terbatas anggarannya tapi kewenangannya pun inginnya sama,&quot; kata dia.

Thahjo menambahkan, banyak orang lebih senang menjadi kepala tikus daripada buntut gajah. Hal ini berakibat banyak bermunculan otonomi baru.

&quot;Banyak yang senang jadi kepala tikus. Kalah pilkada, pecah otonomi yang penting jadi kepala daerah,&quot; ucap dia.
</description><content:encoded>
JAKARTA - Sekira 60 persen daerah otonomi baru dikatakan tidak mampu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Padahal hingga saat ini sudah banyak bermunculan otonomi baru tersebut.

&quot;Hanya 60 persen daerah otonomi baru itu tidak mampu mencapai PAD,&quot; ungkap Menteri Dalam Negeri Thahjo Kumolo di kantor BKPM, Senin (23/2/2015).

Menurutnya, ketidakmampuan tersebut akan mengakibatkan permasalahan terhadap perekonomian daerah. Terlebih lagi sebenarnya, persyaratan otonomi baru salah satunya untuk meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan asli daerah.

&quot;Mereka terbatas anggarannya tapi kewenangannya pun inginnya sama,&quot; kata dia.

Thahjo menambahkan, banyak orang lebih senang menjadi kepala tikus daripada buntut gajah. Hal ini berakibat banyak bermunculan otonomi baru.

&quot;Banyak yang senang jadi kepala tikus. Kalah pilkada, pecah otonomi yang penting jadi kepala daerah,&quot; ucap dia.
</content:encoded></item></channel></rss>
