<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rapuhnya Fundamental Ekonomi Jadi Penyebab Pelemahan Rupiah</title><description>Rapuhnya fundamental perekonomian Indonesia dinilai terkait dengan pelemahan Rupiah yang terjadi saat ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2015/03/29/278/1126121/rapuhnya-fundamental-ekonomi-jadi-penyebab-pelemahan-rupiah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2015/03/29/278/1126121/rapuhnya-fundamental-ekonomi-jadi-penyebab-pelemahan-rupiah"/><item><title>Rapuhnya Fundamental Ekonomi Jadi Penyebab Pelemahan Rupiah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2015/03/29/278/1126121/rapuhnya-fundamental-ekonomi-jadi-penyebab-pelemahan-rupiah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2015/03/29/278/1126121/rapuhnya-fundamental-ekonomi-jadi-penyebab-pelemahan-rupiah</guid><pubDate>Minggu 29 Maret 2015 21:12 WIB</pubDate><dc:creator>Dhera Arizona Pratiwi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/03/29/278/1126121/rapuhnya-fundamental-ekonomi-jadi-penyebab-pelemahan-rupiah-5FDuJwPuqO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Shutterlock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/03/29/278/1126121/rapuhnya-fundamental-ekonomi-jadi-penyebab-pelemahan-rupiah-5FDuJwPuqO.jpg</image><title>Ilustrasi: Shutterlock</title></images><description>
JAKARTA &amp;ndash; Rapuhnya fundamental perekonomian Indonesia dinilai terkait dengan pelemahan Rupiah yang terjadi saat ini. Rupiah hingga saat ini kembali melemah ke level Rp13.000 per USD.
&quot;Saya telah sampaikan kepada pemerintah, bahwa masalah pelemahan Rupiah ini memang terus terjadi, karena salah satunya adalah karena fundamental perekonomian Indonesia yang rapuh,&quot; kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Natsir Mansyur di dalam sebuah acara diskusi bertajuk 'Gejolak dan Masa Depan Rupiah' di Senayan City, Minggu (29/3/2015).
Lebih lanjut, dia mengatakan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan fundamental perekonomian Indonesia rapuh. Pertama adalah faktor defisit transaksi perdagangan.
&quot;Sebanyak 75 persen kita impor bahan baku untuk industri manufaktur. Karena industri hulu kita tidak jalan, seperti program hilirisasi mineral maupun pangan,&quot; jelas dia.
Program hilirisasi tersebut dinilai Natsir harus dijalankan sendiri oleh industri, karena hal tersebut tidak akan menyehatkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) apabila terus ketergantungan.
&quot;Apa yang terjadi kalau suatu negara hanya mengandalkan APBN? Itu tidak sehat. Harus dari industri itu sendiri,&quot; ungkapnya.
Lebih lanjut, faktor lain adalah impor migas Indonesia yang mencapai 45 persen. Begitu pula dengan industri pangan Indonesia yang juga mengimpor bahan baku sekira 60 persen.
&quot;Negara kita luas, kita harus bisa swasembada beras dan kedelai. Yang strategis itu beras, gula, kedelai dan jagung,&quot; tegas dia.
Faktor terakhir terkait rapuhnya fundamental perekonomian Indonesia disebutkan Natsir adalah jasa. Industri penerbangan di Indonesia bertransaksi menggunakan dolar Amerika Serikat (USD).
&quot;Siapa pun yang punya airlines, pasti bayar sewanya pakai dolar AS. Yang banyak menggunakan jasa itu adalah industri penerbangan,&quot; tutupnya.
</description><content:encoded>
JAKARTA &amp;ndash; Rapuhnya fundamental perekonomian Indonesia dinilai terkait dengan pelemahan Rupiah yang terjadi saat ini. Rupiah hingga saat ini kembali melemah ke level Rp13.000 per USD.
&quot;Saya telah sampaikan kepada pemerintah, bahwa masalah pelemahan Rupiah ini memang terus terjadi, karena salah satunya adalah karena fundamental perekonomian Indonesia yang rapuh,&quot; kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Natsir Mansyur di dalam sebuah acara diskusi bertajuk 'Gejolak dan Masa Depan Rupiah' di Senayan City, Minggu (29/3/2015).
Lebih lanjut, dia mengatakan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan fundamental perekonomian Indonesia rapuh. Pertama adalah faktor defisit transaksi perdagangan.
&quot;Sebanyak 75 persen kita impor bahan baku untuk industri manufaktur. Karena industri hulu kita tidak jalan, seperti program hilirisasi mineral maupun pangan,&quot; jelas dia.
Program hilirisasi tersebut dinilai Natsir harus dijalankan sendiri oleh industri, karena hal tersebut tidak akan menyehatkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) apabila terus ketergantungan.
&quot;Apa yang terjadi kalau suatu negara hanya mengandalkan APBN? Itu tidak sehat. Harus dari industri itu sendiri,&quot; ungkapnya.
Lebih lanjut, faktor lain adalah impor migas Indonesia yang mencapai 45 persen. Begitu pula dengan industri pangan Indonesia yang juga mengimpor bahan baku sekira 60 persen.
&quot;Negara kita luas, kita harus bisa swasembada beras dan kedelai. Yang strategis itu beras, gula, kedelai dan jagung,&quot; tegas dia.
Faktor terakhir terkait rapuhnya fundamental perekonomian Indonesia disebutkan Natsir adalah jasa. Industri penerbangan di Indonesia bertransaksi menggunakan dolar Amerika Serikat (USD).
&quot;Siapa pun yang punya airlines, pasti bayar sewanya pakai dolar AS. Yang banyak menggunakan jasa itu adalah industri penerbangan,&quot; tutupnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
