<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Neraca Perdagangan Surplus, Mantan Menkeu Cuit-Cuit di Twitter</title><description>Dikutip dari Akun resminya @ChatibBasri mengatakan Indonesia jangan terbuai dengan pencapaian surplus.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2015/04/15/20/1134599/neraca-perdagangan-surplus-mantan-menkeu-cuit-cuit-di-twitter</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2015/04/15/20/1134599/neraca-perdagangan-surplus-mantan-menkeu-cuit-cuit-di-twitter"/><item><title>Neraca Perdagangan Surplus, Mantan Menkeu Cuit-Cuit di Twitter</title><link>https://economy.okezone.com/read/2015/04/15/20/1134599/neraca-perdagangan-surplus-mantan-menkeu-cuit-cuit-di-twitter</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2015/04/15/20/1134599/neraca-perdagangan-surplus-mantan-menkeu-cuit-cuit-di-twitter</guid><pubDate>Rabu 15 April 2015 15:55 WIB</pubDate><dc:creator>Kurniasih Miftakhul Jannah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/04/15/20/1134599/neraca-perdagangan-surplus-mantan-menkeu-cuit-cuit-di-twitter-H4k5LNAfjY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Chatib Basri (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/04/15/20/1134599/neraca-perdagangan-surplus-mantan-menkeu-cuit-cuit-di-twitter-H4k5LNAfjY.jpg</image><title>Chatib Basri (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri menilai meskipun neraca perdagangan surplus, Indonesia harus tetap berhati-hati lantaran adanya penurunan impor tajam.

Dikutip dari Akun resminya @ChatibBasri mengatakan Indonesia jangan terbuai dengan pencapaian surplus. Sebaiknya Indonesia harus tetap fokus pada perbaikan ekspor.

&quot;Saya kira ada berita baik untuk Indonesia, neraca perdagangan surplus USD1,13 miliar. Ini baik sekali. Namun ada baiknya kita tetap hati-hati, mengapa? Karena suprlus yang besar ini, lebih didorong oleh penurunan impor yang tajam ketimbang perbaikan ekspor,&quot; kata dia di Twitter, Rabu (15/4/2015)

Lebih lanjut, dia mengatakan, jika melihat data, pada Maret 2015 (yoy) ekspor minus 6,6 persen, sedangkan impor dalam periode sama minus 13,39 persen.

Pada Januari-Maret 2015 (yoy) ekspor minus 11,67 persen, sedangkan dalam periode yang sama impor minus 15,1 persen. Penurunan impornya  lebih tajam, katanya.

&quot;Nah mengapa perlu hati-hati? Karena komponen impor terbesar adalah barang modal dan bahan baku. Impor barang modal tumbuh -10,3 persen dan bahan baku -16,1 persen,&quot; imbuhnya.

Menurutnya kalau impor barang modal, bahan baku turun perusahaan mengurangi pembelian bahan baku dan modal.

&quot;Karena itu kita surplus neraca perdagangan ini bisa jadi indikasi awal perlambatan pertumbuhan ekonomi,&quot; tukasnya.

Seperti diketahui, hari ini Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus di angka USD 1,13 miliar di bulan Maret 2015. Ini merupakan kali ke 3 dalam tahun ini neraca perdagangan Indonesia surplus.
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri menilai meskipun neraca perdagangan surplus, Indonesia harus tetap berhati-hati lantaran adanya penurunan impor tajam.

Dikutip dari Akun resminya @ChatibBasri mengatakan Indonesia jangan terbuai dengan pencapaian surplus. Sebaiknya Indonesia harus tetap fokus pada perbaikan ekspor.

&quot;Saya kira ada berita baik untuk Indonesia, neraca perdagangan surplus USD1,13 miliar. Ini baik sekali. Namun ada baiknya kita tetap hati-hati, mengapa? Karena suprlus yang besar ini, lebih didorong oleh penurunan impor yang tajam ketimbang perbaikan ekspor,&quot; kata dia di Twitter, Rabu (15/4/2015)

Lebih lanjut, dia mengatakan, jika melihat data, pada Maret 2015 (yoy) ekspor minus 6,6 persen, sedangkan impor dalam periode sama minus 13,39 persen.

Pada Januari-Maret 2015 (yoy) ekspor minus 11,67 persen, sedangkan dalam periode yang sama impor minus 15,1 persen. Penurunan impornya  lebih tajam, katanya.

&quot;Nah mengapa perlu hati-hati? Karena komponen impor terbesar adalah barang modal dan bahan baku. Impor barang modal tumbuh -10,3 persen dan bahan baku -16,1 persen,&quot; imbuhnya.

Menurutnya kalau impor barang modal, bahan baku turun perusahaan mengurangi pembelian bahan baku dan modal.

&quot;Karena itu kita surplus neraca perdagangan ini bisa jadi indikasi awal perlambatan pertumbuhan ekonomi,&quot; tukasnya.

Seperti diketahui, hari ini Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus di angka USD 1,13 miliar di bulan Maret 2015. Ini merupakan kali ke 3 dalam tahun ini neraca perdagangan Indonesia surplus.
</content:encoded></item></channel></rss>
