<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi RI Anjlok karena Minimnya Belanja Negara</title><description>Enny Sri Hartati mengakui, wajar bila pertumbuhan ekonomi tercatat hanya 4,71 persen pada kuartal I-2015.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2015/05/06/20/1144939/ekonomi-ri-anjlok-karena-minimnya-belanja-negara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2015/05/06/20/1144939/ekonomi-ri-anjlok-karena-minimnya-belanja-negara"/><item><title>Ekonomi RI Anjlok karena Minimnya Belanja Negara</title><link>https://economy.okezone.com/read/2015/05/06/20/1144939/ekonomi-ri-anjlok-karena-minimnya-belanja-negara</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2015/05/06/20/1144939/ekonomi-ri-anjlok-karena-minimnya-belanja-negara</guid><pubDate>Rabu 06 Mei 2015 06:16 WIB</pubDate><dc:creator>Rachmad Faisal Harahap</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/05/05/20/1144939/ekonomi-ri-anjlok-karena-minimnya-belanja-negara-6ScHDirilI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto : Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/05/05/20/1144939/ekonomi-ri-anjlok-karena-minimnya-belanja-negara-6ScHDirilI.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto : Shutterstock)</title></images><description>
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2015 hanya sebesar 4,71 persen year on year (yoy). Catatan tersebut berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Pengamat Ekonomi Indef Enny Sri Hartati mengakui, wajar bila pertumbuhan ekonomi tercatat hanya 4,71 persen pada kuartal I-2015. Hal ini karena pemerintah belum merealisasikan anggaran yang sifatnya stimulus.

&quot;Angka ini bukan turun lagi, tapi anjlok. Daya dorong untuk kinerja produksi tidak ada dari pemerintah, sedangkan sektor perdagangan dari luar negeri tidak punya kontribusi,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (6/5/2015).

Anjloknya pertumbuhan ekonomi, lanjutnya, membuat investor mempunyai banyak komitmen tapi tidak ada realisasinya. Apalagi, daya beli masyarakat turun.

&quot;Konsumsi rumah tangga sebesar 0,01 persen saja sudah tinggi, jadi wajar pertumbuhan ekonomi sampai 4,7 persen dengan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar lima persen,&quot; ucapnya.

Anggaran pemerintah belum terealisasi atau belum cair, tapi pemerintah sudah menaikkan harga, sehingga motor penggerak ekonomi tidak ada.

&quot;Maka tidak ada pergerakan produksi, ditambah lagi asosiasi ritel Indonesia drop. Tapi harga yang tinggi mendorong daya jual beli,&quot; ungkapnya.
</description><content:encoded>
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2015 hanya sebesar 4,71 persen year on year (yoy). Catatan tersebut berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Pengamat Ekonomi Indef Enny Sri Hartati mengakui, wajar bila pertumbuhan ekonomi tercatat hanya 4,71 persen pada kuartal I-2015. Hal ini karena pemerintah belum merealisasikan anggaran yang sifatnya stimulus.

&quot;Angka ini bukan turun lagi, tapi anjlok. Daya dorong untuk kinerja produksi tidak ada dari pemerintah, sedangkan sektor perdagangan dari luar negeri tidak punya kontribusi,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (6/5/2015).

Anjloknya pertumbuhan ekonomi, lanjutnya, membuat investor mempunyai banyak komitmen tapi tidak ada realisasinya. Apalagi, daya beli masyarakat turun.

&quot;Konsumsi rumah tangga sebesar 0,01 persen saja sudah tinggi, jadi wajar pertumbuhan ekonomi sampai 4,7 persen dengan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar lima persen,&quot; ucapnya.

Anggaran pemerintah belum terealisasi atau belum cair, tapi pemerintah sudah menaikkan harga, sehingga motor penggerak ekonomi tidak ada.

&quot;Maka tidak ada pergerakan produksi, ditambah lagi asosiasi ritel Indonesia drop. Tapi harga yang tinggi mendorong daya jual beli,&quot; ungkapnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
