<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jokowi: Peluang RI Jadi Negara Maju Terbuka Lebar</title><description>Ada beberapa hal yang mendukung pernyataannya tersebut, seperti tingginya tingkat tenaga kerja Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2015/08/14/20/1196051/jokowi-peluang-ri-jadi-negara-maju-terbuka-lebar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2015/08/14/20/1196051/jokowi-peluang-ri-jadi-negara-maju-terbuka-lebar"/><item><title>Jokowi: Peluang RI Jadi Negara Maju Terbuka Lebar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2015/08/14/20/1196051/jokowi-peluang-ri-jadi-negara-maju-terbuka-lebar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2015/08/14/20/1196051/jokowi-peluang-ri-jadi-negara-maju-terbuka-lebar</guid><pubDate>Jum'at 14 Agustus 2015 08:43 WIB</pubDate><dc:creator>Raisa Adila</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/08/14/20/1196051/jokowi-peluang-ri-jadi-negara-maju-terbuka-lebar-qU3o6EqyzK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Joko Widodo. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/08/14/20/1196051/jokowi-peluang-ri-jadi-negara-maju-terbuka-lebar-qU3o6EqyzK.jpg</image><title>Presiden Joko Widodo. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) optimistis Indonesia akan menjadi negara maju. Menurutnya, ada beberapa hal yang mendukung pernyataannya tersebut, seperti tingginya tingkat tenaga kerja Indonesia.

&quot;Peluang Indonesia untuk menjadi negara maju terbuka lebar, dengan tingginya jumlah penduduk, sistem politik demokrasi, muslim yang moderat, dan kekuatan ekonomi ke-16 dengan pertumbuhan ekonomi sekira Rp10 triliun,&quot; kata dia dalam pembacaan nota keuangan di DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2015).

Meski demikian, dia mengatakan hal tersebut hanya dapat diperoleh dengan kerja keras dan mengubah sifat konsumtif menjadi produktif. Karenanya, Jokowi meminta dukungan dari segenap masyarakat Indonesia.

&quot;Ini harus dilakukan seluruh rakyat Indonesia. Ubah sifat konsumtif ke produktif. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah fokus lakukan pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, waduk, listrik dan kereta api,&quot; jelas dia.

Menurutnya, dengan kekompakan lembaga-lembaga negara tersebut, maka pemerintah akan stabil dan mampu melindungi masyarakatnya. Pasalnya, saat ini masih banyak masalah yang menghadang.

&quot;Pemerintah mengakui masih banyak persoalan, sampai hari ini, ketidakstabilan pangan masih terjadi, kesenjangan antarwilayah masih terbuka,&quot; tukas dia.
</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) optimistis Indonesia akan menjadi negara maju. Menurutnya, ada beberapa hal yang mendukung pernyataannya tersebut, seperti tingginya tingkat tenaga kerja Indonesia.

&quot;Peluang Indonesia untuk menjadi negara maju terbuka lebar, dengan tingginya jumlah penduduk, sistem politik demokrasi, muslim yang moderat, dan kekuatan ekonomi ke-16 dengan pertumbuhan ekonomi sekira Rp10 triliun,&quot; kata dia dalam pembacaan nota keuangan di DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2015).

Meski demikian, dia mengatakan hal tersebut hanya dapat diperoleh dengan kerja keras dan mengubah sifat konsumtif menjadi produktif. Karenanya, Jokowi meminta dukungan dari segenap masyarakat Indonesia.

&quot;Ini harus dilakukan seluruh rakyat Indonesia. Ubah sifat konsumtif ke produktif. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah fokus lakukan pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, waduk, listrik dan kereta api,&quot; jelas dia.

Menurutnya, dengan kekompakan lembaga-lembaga negara tersebut, maka pemerintah akan stabil dan mampu melindungi masyarakatnya. Pasalnya, saat ini masih banyak masalah yang menghadang.

&quot;Pemerintah mengakui masih banyak persoalan, sampai hari ini, ketidakstabilan pangan masih terjadi, kesenjangan antarwilayah masih terbuka,&quot; tukas dia.
</content:encoded></item></channel></rss>
