<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertamina Rela Premium Rugi karena Dapat Untung dari Solar</title><description>Perhitungan BBM tidak bisa dilihat dari harga saat ini, harus  dihitung secara rata-rata sebulan atau dua bulan yang lalu.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2015/08/28/19/1204329/pertamina-rela-premium-rugi-karena-dapat-untung-dari-solar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2015/08/28/19/1204329/pertamina-rela-premium-rugi-karena-dapat-untung-dari-solar"/><item><title>Pertamina Rela Premium Rugi karena Dapat Untung dari Solar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2015/08/28/19/1204329/pertamina-rela-premium-rugi-karena-dapat-untung-dari-solar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2015/08/28/19/1204329/pertamina-rela-premium-rugi-karena-dapat-untung-dari-solar</guid><pubDate>Jum'at 28 Agustus 2015 18:31 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/08/28/19/1204329/pertamina-rela-premium-rugi-karena-dapat-untung-dari-solar-BlRoTlT19M.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi SPBU milik Pertamina. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/08/28/19/1204329/pertamina-rela-premium-rugi-karena-dapat-untung-dari-solar-BlRoTlT19M.jpg</image><title>Ilustrasi SPBU milik Pertamina. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Harga bahan bakar minyak (BBM) hingga saat ini masih belum ada tanda-tanda akan dinaikkan. PT Pertamina (Persero) sebagai pengelola pun telah mengalami kerugian Rp12-Rp14 triliun.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soejipto mengatakan, saat ini pihaknya sedang mempelajari hitungan setiap bulannya. Menurutnya, perhitungan ini tidak bisa hanya menghitung dari harga saat ini, harus dihitung secara rata-rata sebulan atau dua bulan yang lalu.

&quot;Dan kita mesti lihat. Bahwa sejak sekitar Mei kita tidak ada perubahan tidak ada penyesuaian. Artinya tiga bulan lebih. Nah ini yang harus kita perhitungkan. Kita sudah lakukan exercise dengan harga rata-rata yang sebulan saja,&quot; ujar dia di Kantor Pertamina Pusat, Jakarta, Jumat (28/8/2015).

Menurut Dwi, harga premium dengan formula yang ditetapkan oleh pemerintah dan DPR harganya masih jatuh di atas Rp8.000. Namun harga saat ini masih Rp7.400. &quot;Kalau memang hasilnya hitungannya di bawah itu, tentu saja Pertamina akan menerima,&quot;ujar Dwi.

&quot;Apapun, kalau pemerintah memiliki pertimbangan yang lain kita siap. Toh selama ini untuk premium saja Pertamina memikul 12-14 triliun. Kerugian premium. Kalau pertamina kan sampai saat ini sekitar 12 sampai 14 triliun untuk premium saja,&quot;ujar Dwi.

Kendati Premium merugi, Dwi mengatakan untuk BBM jenis Solar sudah mulai meraup untung. Oleh karena itu, Pertamina masih belum mau menaikkan harga jual BBM jenis Premium.

&quot;Kita berikan masukan kepada pemerintah. Kita selalu cocokkan. Kalau satu komoditas rugi enggak masalah. Selama pertamina masih bisa jalankan investasi. Kalau tidak ya kita tidak bisa berkembang,&quot; ujarnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Harga bahan bakar minyak (BBM) hingga saat ini masih belum ada tanda-tanda akan dinaikkan. PT Pertamina (Persero) sebagai pengelola pun telah mengalami kerugian Rp12-Rp14 triliun.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soejipto mengatakan, saat ini pihaknya sedang mempelajari hitungan setiap bulannya. Menurutnya, perhitungan ini tidak bisa hanya menghitung dari harga saat ini, harus dihitung secara rata-rata sebulan atau dua bulan yang lalu.

&quot;Dan kita mesti lihat. Bahwa sejak sekitar Mei kita tidak ada perubahan tidak ada penyesuaian. Artinya tiga bulan lebih. Nah ini yang harus kita perhitungkan. Kita sudah lakukan exercise dengan harga rata-rata yang sebulan saja,&quot; ujar dia di Kantor Pertamina Pusat, Jakarta, Jumat (28/8/2015).

Menurut Dwi, harga premium dengan formula yang ditetapkan oleh pemerintah dan DPR harganya masih jatuh di atas Rp8.000. Namun harga saat ini masih Rp7.400. &quot;Kalau memang hasilnya hitungannya di bawah itu, tentu saja Pertamina akan menerima,&quot;ujar Dwi.

&quot;Apapun, kalau pemerintah memiliki pertimbangan yang lain kita siap. Toh selama ini untuk premium saja Pertamina memikul 12-14 triliun. Kerugian premium. Kalau pertamina kan sampai saat ini sekitar 12 sampai 14 triliun untuk premium saja,&quot;ujar Dwi.

Kendati Premium merugi, Dwi mengatakan untuk BBM jenis Solar sudah mulai meraup untung. Oleh karena itu, Pertamina masih belum mau menaikkan harga jual BBM jenis Premium.

&quot;Kita berikan masukan kepada pemerintah. Kita selalu cocokkan. Kalau satu komoditas rugi enggak masalah. Selama pertamina masih bisa jalankan investasi. Kalau tidak ya kita tidak bisa berkembang,&quot; ujarnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
