<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   BBM Non-Subsidi untuk Industri Sepi, Pertamina Putar Otak   </title><description>Pelanggan BBM industri atau marine di Kalimantan yang membeli dalam jumlah besar akan memperoleh reward.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2015/10/30/19/1240809/bbm-non-subsidi-untuk-industri-sepi-pertamina-putar-otak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2015/10/30/19/1240809/bbm-non-subsidi-untuk-industri-sepi-pertamina-putar-otak"/><item><title>   BBM Non-Subsidi untuk Industri Sepi, Pertamina Putar Otak   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2015/10/30/19/1240809/bbm-non-subsidi-untuk-industri-sepi-pertamina-putar-otak</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2015/10/30/19/1240809/bbm-non-subsidi-untuk-industri-sepi-pertamina-putar-otak</guid><pubDate>Jum'at 30 Oktober 2015 14:08 WIB</pubDate><dc:creator>Amir Sarifudin </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/10/30/19/1240809/bbm-non-subsidi-untuk-industri-sepi-pertamina-putar-otak-PnlOXO6Xv8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi SPBU milik Pertamina. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/10/30/19/1240809/bbm-non-subsidi-untuk-industri-sepi-pertamina-putar-otak-PnlOXO6Xv8.jpg</image><title>Ilustrasi SPBU milik Pertamina. (Foto: Okezone)</title></images><description>BALIKPAPAN - PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region VI Kalimantan untuk melakukan penjualan produk BBM dengan pola budling atau crosssales. Pelanggan BBM industri atau marine di Kalimantan yang membeli dalam jumlah besar akan memperoleh reward.

Sales Excecutive Industrial I Fuel Marketing Region VI, Ferry Pasalini, mengatakan bentuk reward dalam program ini adalah pemberian produk-produk Pertamina yang dibutuhkan oleh konsumen secara gratis dalam setiap pembelian BBM industri. Dia yakin, model budling seperti ini tidak dapat diterapkan oleh pesaing lainnya.

&amp;ldquo;Tapi syaratnya konsumen harus kontrak pembelian dulu dengan kami. Jadi setiap konsumen membeli BBM industri dalam jumlah tertentu akan kami  berikan reward berupa produk Pertamina lain sesuai kebutuhan. Kami memberikan reward tapi kami juga ingin menjaga pangsa penjualan,&amp;rdquo; tutur Ferry, Jumat (30/10/2015).

Program reward khusus untuk industri dan kemaritiman ini diharapkan dapat mendongkrak penjualan BBM industri di Kalimantan, yang sampai dengan akhir tahun di targetkan mencapai 5 juta KL. Ferry mengakui melemahnya industri pertambangan batu bara di Kalimantan cukup mempengaruhi penjualan produk Pertamina nonsubsidi itu.

&quot;Ada pengaruhnya dan terjadi penurunan pembelian apalagi di sini kan banyak sekali mengandalkan batu baru. Kalau bicara turunnya mungkin sekitar 10 persen,&amp;rdquo; ujarnya.

&amp;ldquo;Target penjualan itu turun sekitar 10 persen dari tahun lalu. Konsumen utama  kami banyak berasal dari industri pertambangan batu bara. Saat ini  realisasi penjualan BBM industri sudah mencapai sekitar 85 persen, masih ada 15 persen  lagi yang harus kami kejar,&amp;rdquo;tandasnya.

Ferry melanjutkan, saat ini sudah ada perusahaan yang membeli produk BBM nonsubsidi di atas 100 KL per bulan. Sampai dengan akhir tahun, Pertamina menargetkan sebanyak enam perusahaan dapat tergabung dalam program ini.

&amp;ldquo;Target penjualan BBM industri dalam program reward ini dipatok  sampai dengan 1.000-1.500 ton per bulannya. Reward yang diberikan Pertamina  tak hanya dalam bentuk pelumas, namun juga bisa berupa voucher pembelian  bahan bakar khusus dan diskon tapi soal diskon ini rahasia,&amp;rdquo; tandasnya.

Salah satu perusahaan yang telah mengikuti program ini adalah PT Pelayaran Bahari Mas dengan kontrak pembelian BBM industri selama setahun dan reward berupa 8 drum pelumas per bulan yang diberikan sesuai dengan masa kontrak pembelian, termasuk diskon.

&amp;ldquo;Saat ini memang baru tiga perusahaan yang tergabung. Masih ada prospek  lain yang belum deal kontraknya. Sebenarnya ini juga terbilang sudah  melebihi karena perusahaan terakhir yang tergabung itu punya 15 perusahaan lagi di bawahnya,&amp;rdquo; sambungnya.

Diakuinya pola reward ini ikut mendongkrak penjualan BBM non-subdisi untuk industri dan marine. Dia menyebutkan PT Singlurus yang awalnya membeli 70 KL kini telah membeli per bulan sekitar 100 KL. &amp;ldquo; Jadi kalau dihitung berapa persen ikut mendongkrak bisa dilihat dari situ awalnya 70 KL sekarang 100 KL per bulan ,&amp;rdquo; tukasnya.</description><content:encoded>BALIKPAPAN - PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region VI Kalimantan untuk melakukan penjualan produk BBM dengan pola budling atau crosssales. Pelanggan BBM industri atau marine di Kalimantan yang membeli dalam jumlah besar akan memperoleh reward.

Sales Excecutive Industrial I Fuel Marketing Region VI, Ferry Pasalini, mengatakan bentuk reward dalam program ini adalah pemberian produk-produk Pertamina yang dibutuhkan oleh konsumen secara gratis dalam setiap pembelian BBM industri. Dia yakin, model budling seperti ini tidak dapat diterapkan oleh pesaing lainnya.

&amp;ldquo;Tapi syaratnya konsumen harus kontrak pembelian dulu dengan kami. Jadi setiap konsumen membeli BBM industri dalam jumlah tertentu akan kami  berikan reward berupa produk Pertamina lain sesuai kebutuhan. Kami memberikan reward tapi kami juga ingin menjaga pangsa penjualan,&amp;rdquo; tutur Ferry, Jumat (30/10/2015).

Program reward khusus untuk industri dan kemaritiman ini diharapkan dapat mendongkrak penjualan BBM industri di Kalimantan, yang sampai dengan akhir tahun di targetkan mencapai 5 juta KL. Ferry mengakui melemahnya industri pertambangan batu bara di Kalimantan cukup mempengaruhi penjualan produk Pertamina nonsubsidi itu.

&quot;Ada pengaruhnya dan terjadi penurunan pembelian apalagi di sini kan banyak sekali mengandalkan batu baru. Kalau bicara turunnya mungkin sekitar 10 persen,&amp;rdquo; ujarnya.

&amp;ldquo;Target penjualan itu turun sekitar 10 persen dari tahun lalu. Konsumen utama  kami banyak berasal dari industri pertambangan batu bara. Saat ini  realisasi penjualan BBM industri sudah mencapai sekitar 85 persen, masih ada 15 persen  lagi yang harus kami kejar,&amp;rdquo;tandasnya.

Ferry melanjutkan, saat ini sudah ada perusahaan yang membeli produk BBM nonsubsidi di atas 100 KL per bulan. Sampai dengan akhir tahun, Pertamina menargetkan sebanyak enam perusahaan dapat tergabung dalam program ini.

&amp;ldquo;Target penjualan BBM industri dalam program reward ini dipatok  sampai dengan 1.000-1.500 ton per bulannya. Reward yang diberikan Pertamina  tak hanya dalam bentuk pelumas, namun juga bisa berupa voucher pembelian  bahan bakar khusus dan diskon tapi soal diskon ini rahasia,&amp;rdquo; tandasnya.

Salah satu perusahaan yang telah mengikuti program ini adalah PT Pelayaran Bahari Mas dengan kontrak pembelian BBM industri selama setahun dan reward berupa 8 drum pelumas per bulan yang diberikan sesuai dengan masa kontrak pembelian, termasuk diskon.

&amp;ldquo;Saat ini memang baru tiga perusahaan yang tergabung. Masih ada prospek  lain yang belum deal kontraknya. Sebenarnya ini juga terbilang sudah  melebihi karena perusahaan terakhir yang tergabung itu punya 15 perusahaan lagi di bawahnya,&amp;rdquo; sambungnya.

Diakuinya pola reward ini ikut mendongkrak penjualan BBM non-subdisi untuk industri dan marine. Dia menyebutkan PT Singlurus yang awalnya membeli 70 KL kini telah membeli per bulan sekitar 100 KL. &amp;ldquo; Jadi kalau dihitung berapa persen ikut mendongkrak bisa dilihat dari situ awalnya 70 KL sekarang 100 KL per bulan ,&amp;rdquo; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
