<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Krisis Keuangan, Arab Saudi Pangkas Subsidi Gas, Listrik hingga Air</title><description>Perhatian dunia saat ini tengah fokus pada konflik Arab Saudi- Iran. Padahal, banyak orang Saudi prihatin tentang &quot;bom ekonomi&quot; yang terjadi</description><link>https://economy.okezone.com/read/2016/01/07/320/1282092/krisis-keuangan-arab-saudi-pangkas-subsidi-gas-listrik-hingga-air</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2016/01/07/320/1282092/krisis-keuangan-arab-saudi-pangkas-subsidi-gas-listrik-hingga-air"/><item><title>Krisis Keuangan, Arab Saudi Pangkas Subsidi Gas, Listrik hingga Air</title><link>https://economy.okezone.com/read/2016/01/07/320/1282092/krisis-keuangan-arab-saudi-pangkas-subsidi-gas-listrik-hingga-air</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2016/01/07/320/1282092/krisis-keuangan-arab-saudi-pangkas-subsidi-gas-listrik-hingga-air</guid><pubDate>Kamis 07 Januari 2016 05:32 WIB</pubDate><dc:creator>Raisa Adila</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/01/06/320/1282092/krisis-keuangan-arab-saudi-pangkas-subsidi-gas-listrik-hingga-air-5X42ZaFvKi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi : Reuters</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/01/06/320/1282092/krisis-keuangan-arab-saudi-pangkas-subsidi-gas-listrik-hingga-air-5X42ZaFvKi.jpg</image><title>Ilustrasi : Reuters</title></images><description>JAKARTA - Perhatian dunia saat ini tengah fokus pada konflik Arab Saudi dengan Iran. Padahal, banyak orang Saudi prihatin tentang &quot;bom ekonomi&quot; yang terjadi di negaranya.

Hal tersebut karena pemerintah memotong sejumlah tunjangan bagi warganya. Pasalnya, terjadi krisis kas negara yang begitu mengerikan.

&quot;Mereka telah mengumumkan pemotongan subsidi yang akan menyakiti setiap satu orang Saudi,&quot; kata Mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Arab Saudi, Robert Jordan melansir CNN, Kamis (7/1/2015).

Pemotongan subsidi tersebut, berupa kenaikan harga gas yang sebesar 50 persen. Padahal, harga gas di Arab Saudi terbilang paling muyrah di dunia.

&quot;Biaya penggunaan gas hanya 16 sen per liter di Arab Saudi, salah satu harga termurah di dunia. Banyak orang Saudi mengendarai SUV besar dan tidak memiliki konsep hemat gas,&quot; kata Jordan.

Namun, kenaikan harga gas ternyata hanyalah permulaan. Pemerintah Arab Saudi juga berencana untuk menaikkan harga air dan listrik dan memotong anggaran belanja negara.

Kejatuhan tersebut mungkin terdengar normal untuk setiap pemerintah yang kehabisan uang tunai. Akan tetapi hal itu sangat bermasalah di Arab Saudi karena sebagian besar orang Saudi bekerja di sektor publik.

Seperti diketahui, sekira 75 persen dari anggaran pemerintah Saudi berasal dari minyak. Padahal, harga minyak telah jatuh dari lebih dari USD100 per barel pada 2014 menjadi sekira USD36 per barel saat ini.

Selama ini, pemerintah Saudi menggunakan kekayaan minyaknya untuk memberikan manfaat kepada warga negaranya. Beberapa manfaat tersebut meliputi murahnya harga gas per liter, perawatan kesehatan gratis, air dan listrik yang disubsidi, sekolah gratis, tidak adanya pajak penghasilan dan lebih dari 90 persen warga Arab Saudi yang dipekerjakan oleh pemerintah.(rai)</description><content:encoded>JAKARTA - Perhatian dunia saat ini tengah fokus pada konflik Arab Saudi dengan Iran. Padahal, banyak orang Saudi prihatin tentang &quot;bom ekonomi&quot; yang terjadi di negaranya.

Hal tersebut karena pemerintah memotong sejumlah tunjangan bagi warganya. Pasalnya, terjadi krisis kas negara yang begitu mengerikan.

&quot;Mereka telah mengumumkan pemotongan subsidi yang akan menyakiti setiap satu orang Saudi,&quot; kata Mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Arab Saudi, Robert Jordan melansir CNN, Kamis (7/1/2015).

Pemotongan subsidi tersebut, berupa kenaikan harga gas yang sebesar 50 persen. Padahal, harga gas di Arab Saudi terbilang paling muyrah di dunia.

&quot;Biaya penggunaan gas hanya 16 sen per liter di Arab Saudi, salah satu harga termurah di dunia. Banyak orang Saudi mengendarai SUV besar dan tidak memiliki konsep hemat gas,&quot; kata Jordan.

Namun, kenaikan harga gas ternyata hanyalah permulaan. Pemerintah Arab Saudi juga berencana untuk menaikkan harga air dan listrik dan memotong anggaran belanja negara.

Kejatuhan tersebut mungkin terdengar normal untuk setiap pemerintah yang kehabisan uang tunai. Akan tetapi hal itu sangat bermasalah di Arab Saudi karena sebagian besar orang Saudi bekerja di sektor publik.

Seperti diketahui, sekira 75 persen dari anggaran pemerintah Saudi berasal dari minyak. Padahal, harga minyak telah jatuh dari lebih dari USD100 per barel pada 2014 menjadi sekira USD36 per barel saat ini.

Selama ini, pemerintah Saudi menggunakan kekayaan minyaknya untuk memberikan manfaat kepada warga negaranya. Beberapa manfaat tersebut meliputi murahnya harga gas per liter, perawatan kesehatan gratis, air dan listrik yang disubsidi, sekolah gratis, tidak adanya pajak penghasilan dan lebih dari 90 persen warga Arab Saudi yang dipekerjakan oleh pemerintah.(rai)</content:encoded></item></channel></rss>
