<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Alumni ITB Dorong Insentif Proyek Listrik 35 GW</title><description>Alumni Institut Teknologi Bandung mendorong insentif proyek listrik 35 GW yang mencapai Rp1.100 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2016/01/16/320/1289920/alumni-itb-dorong-insentif-proyek-listrik-35-gw</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2016/01/16/320/1289920/alumni-itb-dorong-insentif-proyek-listrik-35-gw"/><item><title>Alumni ITB Dorong Insentif Proyek Listrik 35 GW</title><link>https://economy.okezone.com/read/2016/01/16/320/1289920/alumni-itb-dorong-insentif-proyek-listrik-35-gw</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2016/01/16/320/1289920/alumni-itb-dorong-insentif-proyek-listrik-35-gw</guid><pubDate>Sabtu 16 Januari 2016 22:17 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/01/16/320/1289920/aumni-itb-dorong-insentif-proyek-listrik-35-gw-IYy1odbmJf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/01/16/320/1289920/aumni-itb-dorong-insentif-proyek-listrik-35-gw-IYy1odbmJf.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>JAKARTA - Guna menyukseskan proyek listrik 35 GW, pemerintah diharapkan memberikan insentif dalam jangka pendek agar menarik minat investor. Peluang-peluang dalam mega proyek ini antara lain akan melibatkan 107 proyek dengan nilai mencapai Rp1.100 triliun, menyerap 400 ribu pekerja, dan 25 persen khusus dialokasikan untuk pengembangan energi terbarukan. Inilah benang merah dalam diskusi Forum Energi Alumni ITB yang digelar Kamis malam, 14 Januari 2016, di kawasan Senayan, Jakarta.
Direktur Utama Teknologi Riset Global Investama, Hiramsyah Sambudhy Thaib, yang juga sebagai penggagas dan tuan rumah acara tersebut menegaskan bahwa alumni ITB sejak lama telah menjadi bagian penting dari Industri Kelistrikan Indonesia. Mereka ada di semua bidang industri kelistrikan mulai dari birokrat, wakil dari investor, EPC contractor, operator, fuel supplier, konsultan dan wakil dari lembaga keuangan.
&amp;ldquo;Bila semua kita bersinergi, maka saya yakin akan menjadi kekuatan baru untuk suksesnya program pemerintah ini. Jika semua duduk bersama seperti saat ini, semua masalah-masalah yang menghambat bisa teratasi,&amp;rdquo; kata Hirmansyah.
Hiramsyah menyarankan agar para praktisi energi membantu almamater dalam pembaruan kurikulum dan mendorong riset nasional. &amp;ldquo;ITB harus memberi masukan kepada pemerintah bahwa yang harus diperbaiki tidak hanya teknologi dan infrastruktur, tetapi mentalitas sumber daya manusia. Sering-seringlah ngobrol dan berkolaborasi,&amp;rdquo; pesannya.
Acara yang dikemas dengan santai namun padat itu mengambil tema &amp;ldquo;Menyukseskan Program Kelistrikan 35 GW: &amp;ldquo;Peluang, Keterlibatan, dan Kontribusi Alumni ITB&amp;rdquo;. Acara yang dipandu Agung Wicaksono dari Kementerian ESDM tersebut dihadiri oleh para alumni senior dari berbagai latar belakang kepemimpinan di berbagai industri, terutama di sektor energi.
Nantan Dirjen EBTKE Luluk Sumiarso menegaskan bahwa sinergi ITB menjadi satu kekuatan besar dalam dan menggalang potensi alumni untuk mewujudkan dan menyukseskan proyek listrik 35 GW. Karena itu, komunikasi antar alumni harus tetap terjaga. Hal yang sama dikemukakan oleh Ami, Pendiri Institute Ekonomi Energi Indonesia. Ia menyatakan bahwa sejak awal pemerintah perlu melakukan kajian secara spesifik agar investor tertarik untuk terlibat. Perlu strategi khusus agar tema sinergi mampu mendukung keberhasilan, di mana antara teknologi, pemilik modal, dan skill harus bersinergi.
Sementara Eddy Danu dari Indika Energy menyambut penuh kegembiraan program ini. Dalam pandangannya, Edy mengaku bahwa banyak peraturan yang mendukung pelaksanaan program ini. &amp;ldquo;Contohnya bagi pemain lama diberi kemudahan untuk perpanjangan kontrak tanpa tender,&amp;rdquo; katanya.
Gde Pradnyana dari SKK Migas menegaskan pentingnya sinergi antarlembaga pemerintahan. &amp;ldquo;Harus dibuat sinergi antarlembaga agar PLN tidak sendirian. Harus jelas arahnya apakah PLN akan dijadikan sumber profit bagi negara atau sekadar diberi penugasan oleh pemerintah untuk menyediakan listrik,&amp;rdquo; tegasnya.
Sementara Bakti Luddin dari Wijaya Karya menegaskan bahwa sinergi menjadi hal yang sangat penting, &amp;ldquo;Di sektor listrik banyak sekali lika-likunya. Investasi dan operasional adalah dua hal yang berbeda. Oleh karena perlu sinergi yang saling mendukung,&amp;rdquo; paparnya.
Rudianto Rimbono dari SKK Migas menegaskan pentingnya ketersediaan energi dalam proyek listrik ini. &amp;ldquo;Pemerintah telah fokus kepada gas domestik sejak 2002, dimana semua kontrak ekspor tak diperpanjang lagi sejak itu. Tahun 2016 ini alokasi gas untuk domestik sebesar 64 persen,&amp;rdquo; katanya.
Imron Gazali dari Medco Energi Internasional mengkritisi besarnya dana yang harus disiapkan dalam keterlibatan mega proyek ini. &amp;ldquo;Untuk proyek listrik 35 GW ada persyaratan berat yakni harus ada dana di awal hingga 10 persen. Ini saya rasa cukup memberatkan,&amp;rdquo; katanya.
John Karamoy, tokoh senior energi, alumni ITB tahun 1957 mengingatkan agar kita terus memikirkan sumber energi masa depan. &amp;ldquo;Hidup kita sudah diatur migas, sehingga semua yang tumbuh, harus dikembangkan dengan migas.  Apa yang terjadi kalau migas habis. Maka fokus kita ke depan adalah renewable energy,&amp;rdquo; ujarnya.
Hiramsyah mengapresiasi kehadiran para alumni dalam pertemuan itu, meski situasi keamanan Jakarta sedang terganggu. Ada keraguan antara batal atau tetap jalan. Kalau tetap jalan takut dianggap tidak peduli, sementara kalau batal berarti tujuan teroris berhasil, yakni mengacaukan situasi. Tetapi nyatanya bangsa Indonesia adalah bangsa yang kuat, tidak bisa disetir dan takuti oleh siapapun.</description><content:encoded>JAKARTA - Guna menyukseskan proyek listrik 35 GW, pemerintah diharapkan memberikan insentif dalam jangka pendek agar menarik minat investor. Peluang-peluang dalam mega proyek ini antara lain akan melibatkan 107 proyek dengan nilai mencapai Rp1.100 triliun, menyerap 400 ribu pekerja, dan 25 persen khusus dialokasikan untuk pengembangan energi terbarukan. Inilah benang merah dalam diskusi Forum Energi Alumni ITB yang digelar Kamis malam, 14 Januari 2016, di kawasan Senayan, Jakarta.
Direktur Utama Teknologi Riset Global Investama, Hiramsyah Sambudhy Thaib, yang juga sebagai penggagas dan tuan rumah acara tersebut menegaskan bahwa alumni ITB sejak lama telah menjadi bagian penting dari Industri Kelistrikan Indonesia. Mereka ada di semua bidang industri kelistrikan mulai dari birokrat, wakil dari investor, EPC contractor, operator, fuel supplier, konsultan dan wakil dari lembaga keuangan.
&amp;ldquo;Bila semua kita bersinergi, maka saya yakin akan menjadi kekuatan baru untuk suksesnya program pemerintah ini. Jika semua duduk bersama seperti saat ini, semua masalah-masalah yang menghambat bisa teratasi,&amp;rdquo; kata Hirmansyah.
Hiramsyah menyarankan agar para praktisi energi membantu almamater dalam pembaruan kurikulum dan mendorong riset nasional. &amp;ldquo;ITB harus memberi masukan kepada pemerintah bahwa yang harus diperbaiki tidak hanya teknologi dan infrastruktur, tetapi mentalitas sumber daya manusia. Sering-seringlah ngobrol dan berkolaborasi,&amp;rdquo; pesannya.
Acara yang dikemas dengan santai namun padat itu mengambil tema &amp;ldquo;Menyukseskan Program Kelistrikan 35 GW: &amp;ldquo;Peluang, Keterlibatan, dan Kontribusi Alumni ITB&amp;rdquo;. Acara yang dipandu Agung Wicaksono dari Kementerian ESDM tersebut dihadiri oleh para alumni senior dari berbagai latar belakang kepemimpinan di berbagai industri, terutama di sektor energi.
Nantan Dirjen EBTKE Luluk Sumiarso menegaskan bahwa sinergi ITB menjadi satu kekuatan besar dalam dan menggalang potensi alumni untuk mewujudkan dan menyukseskan proyek listrik 35 GW. Karena itu, komunikasi antar alumni harus tetap terjaga. Hal yang sama dikemukakan oleh Ami, Pendiri Institute Ekonomi Energi Indonesia. Ia menyatakan bahwa sejak awal pemerintah perlu melakukan kajian secara spesifik agar investor tertarik untuk terlibat. Perlu strategi khusus agar tema sinergi mampu mendukung keberhasilan, di mana antara teknologi, pemilik modal, dan skill harus bersinergi.
Sementara Eddy Danu dari Indika Energy menyambut penuh kegembiraan program ini. Dalam pandangannya, Edy mengaku bahwa banyak peraturan yang mendukung pelaksanaan program ini. &amp;ldquo;Contohnya bagi pemain lama diberi kemudahan untuk perpanjangan kontrak tanpa tender,&amp;rdquo; katanya.
Gde Pradnyana dari SKK Migas menegaskan pentingnya sinergi antarlembaga pemerintahan. &amp;ldquo;Harus dibuat sinergi antarlembaga agar PLN tidak sendirian. Harus jelas arahnya apakah PLN akan dijadikan sumber profit bagi negara atau sekadar diberi penugasan oleh pemerintah untuk menyediakan listrik,&amp;rdquo; tegasnya.
Sementara Bakti Luddin dari Wijaya Karya menegaskan bahwa sinergi menjadi hal yang sangat penting, &amp;ldquo;Di sektor listrik banyak sekali lika-likunya. Investasi dan operasional adalah dua hal yang berbeda. Oleh karena perlu sinergi yang saling mendukung,&amp;rdquo; paparnya.
Rudianto Rimbono dari SKK Migas menegaskan pentingnya ketersediaan energi dalam proyek listrik ini. &amp;ldquo;Pemerintah telah fokus kepada gas domestik sejak 2002, dimana semua kontrak ekspor tak diperpanjang lagi sejak itu. Tahun 2016 ini alokasi gas untuk domestik sebesar 64 persen,&amp;rdquo; katanya.
Imron Gazali dari Medco Energi Internasional mengkritisi besarnya dana yang harus disiapkan dalam keterlibatan mega proyek ini. &amp;ldquo;Untuk proyek listrik 35 GW ada persyaratan berat yakni harus ada dana di awal hingga 10 persen. Ini saya rasa cukup memberatkan,&amp;rdquo; katanya.
John Karamoy, tokoh senior energi, alumni ITB tahun 1957 mengingatkan agar kita terus memikirkan sumber energi masa depan. &amp;ldquo;Hidup kita sudah diatur migas, sehingga semua yang tumbuh, harus dikembangkan dengan migas.  Apa yang terjadi kalau migas habis. Maka fokus kita ke depan adalah renewable energy,&amp;rdquo; ujarnya.
Hiramsyah mengapresiasi kehadiran para alumni dalam pertemuan itu, meski situasi keamanan Jakarta sedang terganggu. Ada keraguan antara batal atau tetap jalan. Kalau tetap jalan takut dianggap tidak peduli, sementara kalau batal berarti tujuan teroris berhasil, yakni mengacaukan situasi. Tetapi nyatanya bangsa Indonesia adalah bangsa yang kuat, tidak bisa disetir dan takuti oleh siapapun.</content:encoded></item></channel></rss>
