<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hary Tanoe: APBN Kita Kalah dari Kekayaan Facebook</title><description>CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengatakan di era global saat ini kecepatan teknologi tak bisa dibendung lagi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2016/01/29/320/1300079/hary-tanoe-apbn-kita-kalah-dari-kekayaan-facebook</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2016/01/29/320/1300079/hary-tanoe-apbn-kita-kalah-dari-kekayaan-facebook"/><item><title>Hary Tanoe: APBN Kita Kalah dari Kekayaan Facebook</title><link>https://economy.okezone.com/read/2016/01/29/320/1300079/hary-tanoe-apbn-kita-kalah-dari-kekayaan-facebook</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2016/01/29/320/1300079/hary-tanoe-apbn-kita-kalah-dari-kekayaan-facebook</guid><pubDate>Jum'at 29 Januari 2016 12:02 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/01/29/320/1300079/hary-tanoe-apbn-kita-kalah-dari-kekayaan-facebook-BLlAeOqToZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (Foto: Bramantyo/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/01/29/320/1300079/hary-tanoe-apbn-kita-kalah-dari-kekayaan-facebook-BLlAeOqToZ.jpg</image><title>CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (Foto: Bramantyo/Okezone)</title></images><description>KARANGANYAR - CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengatakan di era global saat ini kecepatan teknologi tak bisa dibendung lagi.
Menurut Hary Tanoe, bila jeli melihat peluang, teknologi pun bisa menjadi sumber pemasukan utama, salah satunya mengembangkan bisnis online shopping. Pasalnya, dibandingkan membangun mal yang membutuhkan dana cukup besar, namun konsumen justru berasal dari daerah tertentu, maka membangun bisnis online bisa menjadi solusi utama.
Hary Tanoe mencontohkan, bagaimana sebuah perusahaan online di China (Tiongkok), Alibaba membangun kerajaan bisnis online. Dari modal yang tak begitu banyak, pemilik Alibaba justru merangkul semua produsen barang untuk menjual produknya melalui website yang dibangunannya.
&quot;Hasilnya, semua produsen barang di Tiongkok menjual barangnya melalui online ini. Dan saat ini kekayaan yang dimiliki pemilik online Alibaba luar biasa, sekitar USD150 miliar atau setara Rp2.000 triliun,&quot; papar Hary Tanoe saat Gathering Komunitas Pasar Modal MNC Security bersama Bursa Efek Indonesia di Hotel Sunan, Solo, Jawa Tengah, Kamis kemarin.
Selain itu Hary Tanoe pun mencontohkan pemilik Facebook. Menurutnya, Mark Zuckerberg yang saat itu masih menjadi mahasiswa mencoba memulai usahannya dengan modal yang tidak begitu banyak.
&quot;Tapi sekarang perusahaannya sudah memiliki kekayaan sekitar USD3.500 triliun. APBN kita saja ya itu baru USD2.000 triliun. Padahal yang gotong itu 250 juta orang termasuk saya tapi masih kalah dengan Mark Zuckerberg yang hanya seorang diri,&quot; ungkap Hary Tanoe.
Menurutnya, apa yang dia ilustrasikan dua contoh tadi hanyalah pesan sebagai investor harus benar-benar jeli melihat adanya peluang bagus.
Awalnya, Hary Tanoe pun mengakui kalau dirinya enggan bisnis online. Meskipun dirinya telah berulang kali diajak menggarap bisnis online ini oleh temannya.
&quot;Saya dulu juga buta tentang online. Saya diajak bisnis online sama teman saya, saya tidak mau. Sekarang ini, dia jadi orang kaya se-Asia. Dia investasikan dananya USD200 juta. Waktu itu saya bilang berani juga ini orang. Tapi hari ini berkembang menjadi USD15 miliar,&quot; jelasnya.
Untuk itu, bisnis pada sektor online perlu dikembangkan agar dapat menghasilkan pendapatan iklan yang besar.
&quot;Ini seperti pajak, pajak apabila hanya dari basis eksisting pasti kurang. Basisnya harus diperbesar, jadi kita juga harus begitu. Basisnya diperbesar untuk iklan,&quot; ujarnya.(rai)</description><content:encoded>KARANGANYAR - CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengatakan di era global saat ini kecepatan teknologi tak bisa dibendung lagi.
Menurut Hary Tanoe, bila jeli melihat peluang, teknologi pun bisa menjadi sumber pemasukan utama, salah satunya mengembangkan bisnis online shopping. Pasalnya, dibandingkan membangun mal yang membutuhkan dana cukup besar, namun konsumen justru berasal dari daerah tertentu, maka membangun bisnis online bisa menjadi solusi utama.
Hary Tanoe mencontohkan, bagaimana sebuah perusahaan online di China (Tiongkok), Alibaba membangun kerajaan bisnis online. Dari modal yang tak begitu banyak, pemilik Alibaba justru merangkul semua produsen barang untuk menjual produknya melalui website yang dibangunannya.
&quot;Hasilnya, semua produsen barang di Tiongkok menjual barangnya melalui online ini. Dan saat ini kekayaan yang dimiliki pemilik online Alibaba luar biasa, sekitar USD150 miliar atau setara Rp2.000 triliun,&quot; papar Hary Tanoe saat Gathering Komunitas Pasar Modal MNC Security bersama Bursa Efek Indonesia di Hotel Sunan, Solo, Jawa Tengah, Kamis kemarin.
Selain itu Hary Tanoe pun mencontohkan pemilik Facebook. Menurutnya, Mark Zuckerberg yang saat itu masih menjadi mahasiswa mencoba memulai usahannya dengan modal yang tidak begitu banyak.
&quot;Tapi sekarang perusahaannya sudah memiliki kekayaan sekitar USD3.500 triliun. APBN kita saja ya itu baru USD2.000 triliun. Padahal yang gotong itu 250 juta orang termasuk saya tapi masih kalah dengan Mark Zuckerberg yang hanya seorang diri,&quot; ungkap Hary Tanoe.
Menurutnya, apa yang dia ilustrasikan dua contoh tadi hanyalah pesan sebagai investor harus benar-benar jeli melihat adanya peluang bagus.
Awalnya, Hary Tanoe pun mengakui kalau dirinya enggan bisnis online. Meskipun dirinya telah berulang kali diajak menggarap bisnis online ini oleh temannya.
&quot;Saya dulu juga buta tentang online. Saya diajak bisnis online sama teman saya, saya tidak mau. Sekarang ini, dia jadi orang kaya se-Asia. Dia investasikan dananya USD200 juta. Waktu itu saya bilang berani juga ini orang. Tapi hari ini berkembang menjadi USD15 miliar,&quot; jelasnya.
Untuk itu, bisnis pada sektor online perlu dikembangkan agar dapat menghasilkan pendapatan iklan yang besar.
&quot;Ini seperti pajak, pajak apabila hanya dari basis eksisting pasti kurang. Basisnya harus diperbesar, jadi kita juga harus begitu. Basisnya diperbesar untuk iklan,&quot; ujarnya.(rai)</content:encoded></item></channel></rss>
