<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Industri Rotan dan Batik Alami Stagnasi Regenerasi Perajin</title><description>Industri yang mulai bangkit dari keterpurukan ini sedang mengalami stagnasi regenerasi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2016/04/15/320/1363725/industri-rotan-dan-batik-alami-stagnasi-regenerasi-perajin</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2016/04/15/320/1363725/industri-rotan-dan-batik-alami-stagnasi-regenerasi-perajin"/><item><title>Industri Rotan dan Batik Alami Stagnasi Regenerasi Perajin</title><link>https://economy.okezone.com/read/2016/04/15/320/1363725/industri-rotan-dan-batik-alami-stagnasi-regenerasi-perajin</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2016/04/15/320/1363725/industri-rotan-dan-batik-alami-stagnasi-regenerasi-perajin</guid><pubDate>Jum'at 15 April 2016 13:40 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Kabar Cirebon</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/04/15/320/1363725/industri-rotan-dan-batik-alami-stagnasi-regenerasi-perajin-UZmxZI3g5g.jpg" expression="full" type="image/jpeg">foto: KC Online</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/04/15/320/1363725/industri-rotan-dan-batik-alami-stagnasi-regenerasi-perajin-UZmxZI3g5g.jpg</image><title>foto: KC Online</title></images><description>CIREBON - Pemerintah Kabupaten Cirebon harus segera membuat terobosan baru di industri rotan. Sebab, industri yang mulai bangkit dari keterpurukan ini sedang mengalami stagnasi regenerasi.

Saat ini, dari 1.300 industri rotan yang tersebar memiliki 50 ribu tenaga kerja. Sayang, dari 50 ribu tenaga kerja ini hanya sedikit saja yang memiliki keterampilan khusus. Padahal, untuk memenuhi kebutuhan pasar tak hanya barang rotan yang sederhana saja yang dibuat, melainkan juga barang rotan yang memiliki estetika. Untuk itu, Kabupaten Cirebon membutuhkan desainer rotan.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon, Supardi mengatakan, meski belum maksimal tapi saat ini industri rotan sedang mengalami kebangkitan.

&amp;ldquo;Peningkatan industri baru 2-3 persen saja. Harusnya ini dibarengi oleh ketersediaan tenaga kerja yang bukan hanya sekadar terampil menganyam rotan saja,&amp;rdquo; kata Supardi kepada KC Online, Kamis (14/4/2016).

Saat ini, kapasitas produksi dari 1.300 industri rotan di Kabupaten Cirebon mencapai 1.500-2.000 kontainer per bulan. Dibutuhkan sekitar 30 pekerja untuk satu industri saja, dari 30 pekerja ini dibutuhkan di antaranya bukan hanya pekerja biasa.

&amp;ldquo;Bayangkan saja, minimalnya kita membutuhkan 45 ribu pekerja dan maksimalnya 60 ribu pekerja. Sementara dari 50 ribu pekerja yang ada saat ini banyak yang memiliki keterampilan biasa saja,&amp;rdquo; katanya.

Apalagi, saat ini pengusaha rotan Kabupaten Cirebon gencar mengikuti berbagai ajang pameran. Banyak di antaranya para pembeli yang berasal dari luar negeri. Biasanya para pembeli ini menindaklanjuti hasil pameran dengan cara mendatangi langsung perusahaan. &amp;ldquo;Kita akan mengalami stagnasi regenerasi kalau tidak ada terobosan apapun,&amp;rdquo; katanya.

Kondisi yang sama terjadi pula pada industri batik. Saat ini, Kabupaten Cirebon memiliki 400 industri batik yang per industrinya menyediakan lima hingga enam tenaga kerja. Para tenaga kerja atau perajin ini rata-rata memiliki usia tua.

&amp;ldquo;Belum ada anak muda yang menyatakan ketertarikannya untuk menjadi pembatik. Lihat saja mereka yang menjadi perajin pasti usianya sudah pada tua,&amp;rdquo; katanya.

Supardi juga mengungkapkan, kondisi seperti ini sebenarnya bisa ditanggulangi dengan cara melibatkan sekolah. Misalnya, bisa saja rotan dan batik ini dimasukkan menjadi sebuah muatan lokal di masing-masing sekolah.

&amp;ldquo;Sepengetahuan saya, hanya beberapa sekolah saja yang sudah mengajarkan batik, itupun sekolah yang letaknya dekat dengan industri batik,&amp;rdquo; ujarnya.

Sementara itu, Bupati H Sunjaya Purwadisastra mengatakan, dirinya memiliki upaya untuk menghidupkan kembali rotan dengan cara memberikan pelatihan bagi para pelajar melalui pendidikan non formal.

&amp;ldquo;Saya sudah minta Disnakertrans untuk menindaklanjuti program pendidikan non formal bagi para remaja ini. Harapan saya agar tidak ada lagi stagnasi regenerasi perajin rotan,&amp;rdquo; ujarnya.</description><content:encoded>CIREBON - Pemerintah Kabupaten Cirebon harus segera membuat terobosan baru di industri rotan. Sebab, industri yang mulai bangkit dari keterpurukan ini sedang mengalami stagnasi regenerasi.

Saat ini, dari 1.300 industri rotan yang tersebar memiliki 50 ribu tenaga kerja. Sayang, dari 50 ribu tenaga kerja ini hanya sedikit saja yang memiliki keterampilan khusus. Padahal, untuk memenuhi kebutuhan pasar tak hanya barang rotan yang sederhana saja yang dibuat, melainkan juga barang rotan yang memiliki estetika. Untuk itu, Kabupaten Cirebon membutuhkan desainer rotan.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon, Supardi mengatakan, meski belum maksimal tapi saat ini industri rotan sedang mengalami kebangkitan.

&amp;ldquo;Peningkatan industri baru 2-3 persen saja. Harusnya ini dibarengi oleh ketersediaan tenaga kerja yang bukan hanya sekadar terampil menganyam rotan saja,&amp;rdquo; kata Supardi kepada KC Online, Kamis (14/4/2016).

Saat ini, kapasitas produksi dari 1.300 industri rotan di Kabupaten Cirebon mencapai 1.500-2.000 kontainer per bulan. Dibutuhkan sekitar 30 pekerja untuk satu industri saja, dari 30 pekerja ini dibutuhkan di antaranya bukan hanya pekerja biasa.

&amp;ldquo;Bayangkan saja, minimalnya kita membutuhkan 45 ribu pekerja dan maksimalnya 60 ribu pekerja. Sementara dari 50 ribu pekerja yang ada saat ini banyak yang memiliki keterampilan biasa saja,&amp;rdquo; katanya.

Apalagi, saat ini pengusaha rotan Kabupaten Cirebon gencar mengikuti berbagai ajang pameran. Banyak di antaranya para pembeli yang berasal dari luar negeri. Biasanya para pembeli ini menindaklanjuti hasil pameran dengan cara mendatangi langsung perusahaan. &amp;ldquo;Kita akan mengalami stagnasi regenerasi kalau tidak ada terobosan apapun,&amp;rdquo; katanya.

Kondisi yang sama terjadi pula pada industri batik. Saat ini, Kabupaten Cirebon memiliki 400 industri batik yang per industrinya menyediakan lima hingga enam tenaga kerja. Para tenaga kerja atau perajin ini rata-rata memiliki usia tua.

&amp;ldquo;Belum ada anak muda yang menyatakan ketertarikannya untuk menjadi pembatik. Lihat saja mereka yang menjadi perajin pasti usianya sudah pada tua,&amp;rdquo; katanya.

Supardi juga mengungkapkan, kondisi seperti ini sebenarnya bisa ditanggulangi dengan cara melibatkan sekolah. Misalnya, bisa saja rotan dan batik ini dimasukkan menjadi sebuah muatan lokal di masing-masing sekolah.

&amp;ldquo;Sepengetahuan saya, hanya beberapa sekolah saja yang sudah mengajarkan batik, itupun sekolah yang letaknya dekat dengan industri batik,&amp;rdquo; ujarnya.

Sementara itu, Bupati H Sunjaya Purwadisastra mengatakan, dirinya memiliki upaya untuk menghidupkan kembali rotan dengan cara memberikan pelatihan bagi para pelajar melalui pendidikan non formal.

&amp;ldquo;Saya sudah minta Disnakertrans untuk menindaklanjuti program pendidikan non formal bagi para remaja ini. Harapan saya agar tidak ada lagi stagnasi regenerasi perajin rotan,&amp;rdquo; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
