<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Teken Inpres, Jokowi Hemat Rp64,7 Triliun untuk Anggaran 83 Kementerian</title><description>Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani Instruksi Presiden  (Inpres) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Langkah-Langkah Penghematan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2016/08/29/20/1475508/teken-inpres-jokowi-hemat-rp64-7-triliun-untuk-anggaran-83-kementerian</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2016/08/29/20/1475508/teken-inpres-jokowi-hemat-rp64-7-triliun-untuk-anggaran-83-kementerian"/><item><title>Teken Inpres, Jokowi Hemat Rp64,7 Triliun untuk Anggaran 83 Kementerian</title><link>https://economy.okezone.com/read/2016/08/29/20/1475508/teken-inpres-jokowi-hemat-rp64-7-triliun-untuk-anggaran-83-kementerian</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2016/08/29/20/1475508/teken-inpres-jokowi-hemat-rp64-7-triliun-untuk-anggaran-83-kementerian</guid><pubDate>Senin 29 Agustus 2016 09:58 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/08/29/20/1475508/teken-inpres-jokowi-hemat-rp64-7-triliun-untuk-anggaran-84-kementerian-L1gIErpDoE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/08/29/20/1475508/teken-inpres-jokowi-hemat-rp64-7-triliun-untuk-anggaran-84-kementerian-L1gIErpDoE.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA -  Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Langkah-Langkah Penghematan Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) Tahun Anggaran 2016.
Inpres ini ditandatangani pada 26 Agustus 2016 yang bertujuan melanjutkan pengendalian dan pengamanan pelaksanaan anggaran yang tertuang dalam APBNP 2016.
Instruksi itu ditujukan kepada, para Menteri Kabinet Kerja, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia, Panglima Tentara Nasional Indonesia, Sekretaris Kabinet, Kepala Kantor Staf Presiden, para Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian dan para Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Negara.
Kepada para pejabat tersebut, Presiden menginstruksikan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing dalam rangka penghematan belanja K/L dalam APBN-P Tahun Anggaran 2016 dengan berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam rangka penghematan belanja K/L Tahun Anggaran 2016, Presiden menginstruksikan masing-masing K/L melakukan identifikasi secara mandiri terhadap program/kegiatan di dalam Rencana Kerja dan Anggaran K/L Tahun Anggaran 2016, yang akan dihemat dan memastikan anggarannya tidak dicairkan melalui blokir mandiri (self blocking).
&amp;ldquo;Besaran rincian penghematan per K/L sebagaimana dimaksud tercantum dalam Lampiran Instruksi Presiden ini,&amp;rdquo; bunyi diktum kedua poin kedua Inpres tersebut seperti dilansir Setkab, Jakarta, Senin (29/8/2016).
Dalam lampiran itu disebutkan rincian penghematan anggaran dari 84 K/L dengan total penghematan mencapai Rp64,712 triliun.
Dalam Inpres itu disebutkan, dalam melakukan penghematan, Menteri/Pimpinan Lembaga tetap mengamankan program prioritas yang menjadi tanggung jawabnya.
&amp;ldquo;Menteri/Pimpinan Lembaga menyampaikan revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) self blocking dengan mencantumkannya pada Catatan Halaman IV DIPA kepada Menteri Keuangan Direktorat Jenderal Anggaran untuk disahkan paling lambat tujuh hari sejak Instruksi Presiden ini dikeluarkan sesuai mekanisme revisi anggaran yang berlaku,&amp;rdquo; bunyi diktum kedua poin keempat Inpres Nomor 8 Tahun 2016 itu.
Tembusan usulan revisi DIPA self blocking sebagaimana dimaksud, disampaikan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, serta Kepala Kantor Staf Presiden.Belanja Honorarium dan Iklan
Pada diktum ketiga Inpres tersebut ditegaskan, penghematan dilakukan  utamanya terhadap belanja honorarium, perjalanan dinas, paket meeting,  langganan daya dan jasa, honorarium tim/kegiatan, biaya rapat, iklan,  operasional perkantoran lainnya, pemeliharaan gedung, peralatan kantor  serta pembangunan gedung kantor, pengadaan kendaraan, sisa dana lelang  dan/atau swakelola, anggaran dari kegiatan yang belum dikontrakkan atau  yang tidak akan dilaksanakan hingga akhir tahun, serta kegiatan yang  tidak mendesak atau dapat dilanjutkan (carry over) ke tahun anggaran  berikutnya.
&amp;ldquo;Penghematan tidak dilakukan terhadap anggaran yang bersumber dari  pinjaman dan hibah, Rupiah Murni Pendamping kecuali tidak dapat  dilaksanakan sampai dengan akhir Tahun Anggaran 2016 dan anggaran yang  bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak Badan Layanan Umum  (PNBP-BLU) kecuali yang disetor ke kas negara tahun anggaran 2016,&amp;rdquo;  bunyi diktum keempat Inpres tersebut.
Melalui Inpres tersebut, Presiden menginstruksikan Menteri Keuangan  Direktur Jenderal Anggaran dan Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk  bersama-sama mengoordinasikan penghematan anggaran melalui blokir  mandiri (self blocking) dan/atau menunda/menghentikan pencairan dana  kegiatan-kegiatan yang dikenai penghematan. Selanjutnya, Menteri  Keuangan melaporkan pelaksanaan penghematan kepada Presiden.
Presiden juga menginstruksikan Menteri Koordinator Bidang  Perekonomian, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan  Perencanaan dan Pembangunan Nasional, dan Kepala Kantor Staf Presiden  untuk memantau pelaksanaan penghematan APBN-P Tahun Anggaran 2016.
Ditegaskan dalam Inpres tersebut, pada saat Instruksi Presiden ini  mulai berlaku, Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2016 tentang  Langkah-Langkah Penghematan dan Pemotongan Belanja K/L Dalam Rangka  Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2016  dinyatakan tetap berlaku sepanjang belum diubah atau tidak diatur dalam  Instruksi Presiden ini.
&amp;ldquo;Melaksanakan Instruksi Presiden ini dengan penuh tanggung jawab,&amp;rdquo;  bunyi diktum kedelapan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2016 itu.</description><content:encoded>JAKARTA -  Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Langkah-Langkah Penghematan Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) Tahun Anggaran 2016.
Inpres ini ditandatangani pada 26 Agustus 2016 yang bertujuan melanjutkan pengendalian dan pengamanan pelaksanaan anggaran yang tertuang dalam APBNP 2016.
Instruksi itu ditujukan kepada, para Menteri Kabinet Kerja, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia, Panglima Tentara Nasional Indonesia, Sekretaris Kabinet, Kepala Kantor Staf Presiden, para Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian dan para Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Negara.
Kepada para pejabat tersebut, Presiden menginstruksikan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing dalam rangka penghematan belanja K/L dalam APBN-P Tahun Anggaran 2016 dengan berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam rangka penghematan belanja K/L Tahun Anggaran 2016, Presiden menginstruksikan masing-masing K/L melakukan identifikasi secara mandiri terhadap program/kegiatan di dalam Rencana Kerja dan Anggaran K/L Tahun Anggaran 2016, yang akan dihemat dan memastikan anggarannya tidak dicairkan melalui blokir mandiri (self blocking).
&amp;ldquo;Besaran rincian penghematan per K/L sebagaimana dimaksud tercantum dalam Lampiran Instruksi Presiden ini,&amp;rdquo; bunyi diktum kedua poin kedua Inpres tersebut seperti dilansir Setkab, Jakarta, Senin (29/8/2016).
Dalam lampiran itu disebutkan rincian penghematan anggaran dari 84 K/L dengan total penghematan mencapai Rp64,712 triliun.
Dalam Inpres itu disebutkan, dalam melakukan penghematan, Menteri/Pimpinan Lembaga tetap mengamankan program prioritas yang menjadi tanggung jawabnya.
&amp;ldquo;Menteri/Pimpinan Lembaga menyampaikan revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) self blocking dengan mencantumkannya pada Catatan Halaman IV DIPA kepada Menteri Keuangan Direktorat Jenderal Anggaran untuk disahkan paling lambat tujuh hari sejak Instruksi Presiden ini dikeluarkan sesuai mekanisme revisi anggaran yang berlaku,&amp;rdquo; bunyi diktum kedua poin keempat Inpres Nomor 8 Tahun 2016 itu.
Tembusan usulan revisi DIPA self blocking sebagaimana dimaksud, disampaikan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, serta Kepala Kantor Staf Presiden.Belanja Honorarium dan Iklan
Pada diktum ketiga Inpres tersebut ditegaskan, penghematan dilakukan  utamanya terhadap belanja honorarium, perjalanan dinas, paket meeting,  langganan daya dan jasa, honorarium tim/kegiatan, biaya rapat, iklan,  operasional perkantoran lainnya, pemeliharaan gedung, peralatan kantor  serta pembangunan gedung kantor, pengadaan kendaraan, sisa dana lelang  dan/atau swakelola, anggaran dari kegiatan yang belum dikontrakkan atau  yang tidak akan dilaksanakan hingga akhir tahun, serta kegiatan yang  tidak mendesak atau dapat dilanjutkan (carry over) ke tahun anggaran  berikutnya.
&amp;ldquo;Penghematan tidak dilakukan terhadap anggaran yang bersumber dari  pinjaman dan hibah, Rupiah Murni Pendamping kecuali tidak dapat  dilaksanakan sampai dengan akhir Tahun Anggaran 2016 dan anggaran yang  bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak Badan Layanan Umum  (PNBP-BLU) kecuali yang disetor ke kas negara tahun anggaran 2016,&amp;rdquo;  bunyi diktum keempat Inpres tersebut.
Melalui Inpres tersebut, Presiden menginstruksikan Menteri Keuangan  Direktur Jenderal Anggaran dan Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk  bersama-sama mengoordinasikan penghematan anggaran melalui blokir  mandiri (self blocking) dan/atau menunda/menghentikan pencairan dana  kegiatan-kegiatan yang dikenai penghematan. Selanjutnya, Menteri  Keuangan melaporkan pelaksanaan penghematan kepada Presiden.
Presiden juga menginstruksikan Menteri Koordinator Bidang  Perekonomian, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan  Perencanaan dan Pembangunan Nasional, dan Kepala Kantor Staf Presiden  untuk memantau pelaksanaan penghematan APBN-P Tahun Anggaran 2016.
Ditegaskan dalam Inpres tersebut, pada saat Instruksi Presiden ini  mulai berlaku, Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2016 tentang  Langkah-Langkah Penghematan dan Pemotongan Belanja K/L Dalam Rangka  Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2016  dinyatakan tetap berlaku sepanjang belum diubah atau tidak diatur dalam  Instruksi Presiden ini.
&amp;ldquo;Melaksanakan Instruksi Presiden ini dengan penuh tanggung jawab,&amp;rdquo;  bunyi diktum kedelapan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2016 itu.</content:encoded></item></channel></rss>
