<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Produksi Minyak Mentah Terus Turun</title><description>Produksi minyak mentah Indonesia terus mengalami penurunan hingga rata-rata 20 persen per tahun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2016/09/16/320/1490749/produksi-minyak-mentah-terus-turun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2016/09/16/320/1490749/produksi-minyak-mentah-terus-turun"/><item><title>Produksi Minyak Mentah Terus Turun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2016/09/16/320/1490749/produksi-minyak-mentah-terus-turun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2016/09/16/320/1490749/produksi-minyak-mentah-terus-turun</guid><pubDate>Jum'at 16 September 2016 11:02 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/09/16/320/1490749/produksi-minyak-mentah-terus-turun-nqpAykElAv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/09/16/320/1490749/produksi-minyak-mentah-terus-turun-nqpAykElAv.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>SURABAYA - Produksi minyak mentah Indonesia terus mengalami penurunan hingga rata-rata 20 persen per tahun.

Bahkan, dalam waktu tiga sampai lima tahun ke depan, produksi minyak mentah Indonesia tinggal 500.000 barel per hari (bph). Jadi, dapat dipastikan bahwa jumlah produksi tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Untuk itu, dibutuhkan SDM yang pandai dalam menghasilkan sumber gas dan minyak baru (energi terbarukan) tanpa mengeluarkan dana banyak dari negara.

Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa) Ali Masyhar menjelaskan, penurunan produksi minyak mentah ini berpengaruh pada pendapatan negara, terbukti pendapatan negara dari gas dan minyak saat ini turun drastis per tahunnya.

Dengan demikian, harus dilakukan penekanan pada pengeluaran negara, termasuk untuk eksplorasi sumber gas dan minyak baru. Lebih lanjut Ali menandaskan, potensi Indonesia untuk menghasilkan minyak dan gas hanya tersisa 300-350 wilayah.

Untuk tahap eksplorasi ada sekitar 250 sumber, sedangkan pada tahap proses eksploitasi ada 65-70 sumber yang terletak di wilayah Aceh, Sumatra Selatan, Kalimantan, Jatim, dan lainnya. Dia menandaskan, pada 2014 sekitar 70-80 persen pemenuhan APBN berasal dari migas.

&amp;ldquo;Tapi saat ini, pendapatan migas turun menjadi Rp100 triliun per tahun sehingga penghasilan negara dari minyak dan gas hanya menyumbang Rp1 triliun per harinya,&amp;rdquo; kata Ali. U

ntuk membangun SDM dalam migas, SKK Migas melakukan sosialisasi pengelolaan industri hulu migas di Indonesia di Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS), kemarin.

Ali mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari sharing knowledge antara dunia migas dan dunia pendidikan. Dia menilai, ITATS adalah salah satu Institut yang mencetak SDM pertambangan. Untuk itu, dengan adanya sosialisasi serta paparan perkembangan gas dan minyak yang tengah digarap oleh SKK Migas, diharapkan menjadi ajang untuk menyiapkan tenaga migas yang lebih update.

Dalam sosialisasi tersebut dipaparkan gambaran umum tentang dunia pengeboran minyak dan gas, baik di darat maupun di lepas pantai. Para mahasiswa juga diperkenalkan dengan peralatan-peralatan yang digunakan dalam operasi pengeboran.
&amp;ldquo;Kami berharap dengan ini akan mampu membuka wawasan terkait besarnya kesempatan yang mungkin tercipta dari industri migas,&amp;rdquo; tegasnya.

Dosen Teknik Geologi ITATS Handoko Teguh Wibowo mengatakan, geologi merupakan ilmu yang tepat dalam menghasilkan minyak dan gas tanpa mengeluarkan dana negara yang besar.
&amp;ldquo;Proses pembentukan dan sejarah bumi serta geologi terapannya, seperti geologi minyak dan gas bumi ini bisa membuat negara kita lebih untung,&amp;rdquo; katanya.

Dosen yang juga Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Jatim ini menambahkan, saat ini kehidupan gas merupakan sebuah primadona karena bisa menjadi dua fungsi, yaitu energi dan bahan. Dia juga melihat, Jatim sebagai salah satu kawasan yang sangat potensial dalam pencarian sumber minyak.</description><content:encoded>SURABAYA - Produksi minyak mentah Indonesia terus mengalami penurunan hingga rata-rata 20 persen per tahun.

Bahkan, dalam waktu tiga sampai lima tahun ke depan, produksi minyak mentah Indonesia tinggal 500.000 barel per hari (bph). Jadi, dapat dipastikan bahwa jumlah produksi tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Untuk itu, dibutuhkan SDM yang pandai dalam menghasilkan sumber gas dan minyak baru (energi terbarukan) tanpa mengeluarkan dana banyak dari negara.

Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa) Ali Masyhar menjelaskan, penurunan produksi minyak mentah ini berpengaruh pada pendapatan negara, terbukti pendapatan negara dari gas dan minyak saat ini turun drastis per tahunnya.

Dengan demikian, harus dilakukan penekanan pada pengeluaran negara, termasuk untuk eksplorasi sumber gas dan minyak baru. Lebih lanjut Ali menandaskan, potensi Indonesia untuk menghasilkan minyak dan gas hanya tersisa 300-350 wilayah.

Untuk tahap eksplorasi ada sekitar 250 sumber, sedangkan pada tahap proses eksploitasi ada 65-70 sumber yang terletak di wilayah Aceh, Sumatra Selatan, Kalimantan, Jatim, dan lainnya. Dia menandaskan, pada 2014 sekitar 70-80 persen pemenuhan APBN berasal dari migas.

&amp;ldquo;Tapi saat ini, pendapatan migas turun menjadi Rp100 triliun per tahun sehingga penghasilan negara dari minyak dan gas hanya menyumbang Rp1 triliun per harinya,&amp;rdquo; kata Ali. U

ntuk membangun SDM dalam migas, SKK Migas melakukan sosialisasi pengelolaan industri hulu migas di Indonesia di Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS), kemarin.

Ali mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari sharing knowledge antara dunia migas dan dunia pendidikan. Dia menilai, ITATS adalah salah satu Institut yang mencetak SDM pertambangan. Untuk itu, dengan adanya sosialisasi serta paparan perkembangan gas dan minyak yang tengah digarap oleh SKK Migas, diharapkan menjadi ajang untuk menyiapkan tenaga migas yang lebih update.

Dalam sosialisasi tersebut dipaparkan gambaran umum tentang dunia pengeboran minyak dan gas, baik di darat maupun di lepas pantai. Para mahasiswa juga diperkenalkan dengan peralatan-peralatan yang digunakan dalam operasi pengeboran.
&amp;ldquo;Kami berharap dengan ini akan mampu membuka wawasan terkait besarnya kesempatan yang mungkin tercipta dari industri migas,&amp;rdquo; tegasnya.

Dosen Teknik Geologi ITATS Handoko Teguh Wibowo mengatakan, geologi merupakan ilmu yang tepat dalam menghasilkan minyak dan gas tanpa mengeluarkan dana negara yang besar.
&amp;ldquo;Proses pembentukan dan sejarah bumi serta geologi terapannya, seperti geologi minyak dan gas bumi ini bisa membuat negara kita lebih untung,&amp;rdquo; katanya.

Dosen yang juga Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Jatim ini menambahkan, saat ini kehidupan gas merupakan sebuah primadona karena bisa menjadi dua fungsi, yaitu energi dan bahan. Dia juga melihat, Jatim sebagai salah satu kawasan yang sangat potensial dalam pencarian sumber minyak.</content:encoded></item></channel></rss>
