<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menakar Perkembangan Bisnis Fintech di Indonesia</title><description>Teknologi untuk layanan keuangan atau financial tecknology (Fintech) tengah berkembang di Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2016/09/24/320/1497776/menakar-perkembangan-bisnis-fintech-di-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2016/09/24/320/1497776/menakar-perkembangan-bisnis-fintech-di-indonesia"/><item><title>Menakar Perkembangan Bisnis Fintech di Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2016/09/24/320/1497776/menakar-perkembangan-bisnis-fintech-di-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2016/09/24/320/1497776/menakar-perkembangan-bisnis-fintech-di-indonesia</guid><pubDate>Sabtu 24 September 2016 17:10 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/09/24/320/1497776/menakar-perkembangan-bisnis-fintech-di-indonesia-FBTppv0B5p.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/09/24/320/1497776/menakar-perkembangan-bisnis-fintech-di-indonesia-FBTppv0B5p.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>SEMARANG - Teknologi untuk layanan keuangan atau financial tecknology (Fintech) tengah berkembang di Indonesia. Meski bisnis baru, Asosiasi Fintech Indonesia (AFI) meyakini bisnis fintech memiliki potensi yang sangat besar.
Dewan Pengawas AFI Dian Kurniadi menuturkan, fintech tergolong bisnis baru. Namun, telah memiliki banyak fungsi yang tidak hanya sebagai layanan transaksi keuangan online. Saat ini fintech mampu melayani, electronic money, virtual account, agregator, lending, crowdfunding dan lainnya.

&quot;Fintech ini lagi lucu-lucunya, karena masih muda. Tapi walaupun usianya cukup muda namun pelaku fintech banyak yang berasal dari profesional di bidang perbankan dan sektor lain,&quot; ujarnya di Kantor Bank Indonesia (BI) Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (24/9/2016).

Meski berasal dari kalangan profesional, Dian mengaku sumber daya manusia (SDM) untuk industri fintech masih kurang siap untuk menjalankan layanan keuangan online ini. Pasalnya,  hingga sekarang SDM masih bekerja pada dua sektor yaitu industri keuangan dan teknologi. Sementara, fintech fokus dan konsen ke costumer risk management.

&quot;Itu belum ada. Kalau dilihat, perusahaan yang 1-2 tahun biasanya mereka fokus ke data analisis, di mana mereka butuh jump start, boost up. Ketika udah lebih mature, spending di risk management,&quot; ujarnya.
</description><content:encoded>SEMARANG - Teknologi untuk layanan keuangan atau financial tecknology (Fintech) tengah berkembang di Indonesia. Meski bisnis baru, Asosiasi Fintech Indonesia (AFI) meyakini bisnis fintech memiliki potensi yang sangat besar.
Dewan Pengawas AFI Dian Kurniadi menuturkan, fintech tergolong bisnis baru. Namun, telah memiliki banyak fungsi yang tidak hanya sebagai layanan transaksi keuangan online. Saat ini fintech mampu melayani, electronic money, virtual account, agregator, lending, crowdfunding dan lainnya.

&quot;Fintech ini lagi lucu-lucunya, karena masih muda. Tapi walaupun usianya cukup muda namun pelaku fintech banyak yang berasal dari profesional di bidang perbankan dan sektor lain,&quot; ujarnya di Kantor Bank Indonesia (BI) Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (24/9/2016).

Meski berasal dari kalangan profesional, Dian mengaku sumber daya manusia (SDM) untuk industri fintech masih kurang siap untuk menjalankan layanan keuangan online ini. Pasalnya,  hingga sekarang SDM masih bekerja pada dua sektor yaitu industri keuangan dan teknologi. Sementara, fintech fokus dan konsen ke costumer risk management.

&quot;Itu belum ada. Kalau dilihat, perusahaan yang 1-2 tahun biasanya mereka fokus ke data analisis, di mana mereka butuh jump start, boost up. Ketika udah lebih mature, spending di risk management,&quot; ujarnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
