<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bos BEI: Lihat Jack Ma dan Hary Tanoe sebagai Pengusaha Besar</title><description>Pada dasarnya pasar modal merupakan alternatif untuk mendapatkan permodalan bagi seluruh perusahaan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2016/10/04/278/1506045/bos-bei-lihat-jack-ma-dan-hary-tanoe-sebagai-pengusaha-besar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2016/10/04/278/1506045/bos-bei-lihat-jack-ma-dan-hary-tanoe-sebagai-pengusaha-besar"/><item><title>Bos BEI: Lihat Jack Ma dan Hary Tanoe sebagai Pengusaha Besar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2016/10/04/278/1506045/bos-bei-lihat-jack-ma-dan-hary-tanoe-sebagai-pengusaha-besar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2016/10/04/278/1506045/bos-bei-lihat-jack-ma-dan-hary-tanoe-sebagai-pengusaha-besar</guid><pubDate>Selasa 04 Oktober 2016 18:09 WIB</pubDate><dc:creator>Danang Sugianto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/10/04/278/1506045/bos-bei-lihat-jack-ma-dan-hary-tanoe-sebagai-pengusaha-besar-FSnoqIiLEf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/10/04/278/1506045/bos-bei-lihat-jack-ma-dan-hary-tanoe-sebagai-pengusaha-besar-FSnoqIiLEf.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan, pada dasarnya pasar modal merupakan alternatif untuk mendapatkan permodalan bagi seluruh perusahaan. Namun masih banyak dari para pengusaha yang belum menangkap kesempatan tersebut.
Tito mengatakan, sudah banyak contoh dari perusahaan terbuka atau go public yang justru semakin berkembang ketika memperoleh permodalan dari pasar modal.
&quot;Dulu kalau punya bisnis gado-gado butuh modal Rp100 ribu bisa pinjam ke teman, tapi ketika butuhnya Rp200 miliar ya pergi ke publik, itu go public,&quot; terangnya dalam seminar Financial Literacy Day yang diselenggarakan BPC HIPMI di Energy Building, Jakarta, Selasa (4/10/2016).
Namun, menurut pandangan Tito, saat ini masih banyak para pengusaha yang menunggu perusahaannya besar, baru mendaftarkan perusahaannya di pasar modal. Menurutnya, itu merupakan kesalahan terbesar.
&quot;Ada bahkan beberapa konglomerat bilang, 'Saya akan go public kalau sudah besar.&amp;rsquo; Itu kesalahan besar, coba lihat Jack Ma, lihat Hary Tanoe, mereka bisa jadi pengusaha besar karena go public,&quot; imbuhnya.
Memang Tito mengakui, persyaratan teknis untuk go public cukup sulit. Namun para pemilik perusahaan tidak perlu pusing, karena urusan persyaratan administrasi dilakukan oleh penjamin efek (underwritter) yang ditunjuk.
Para pengusaha cukup fokus untuk memperbaiki legal administratif perusahaan. Sebab, hal itu yang akan menjadi cerminan kondisi perusahaan yang akan dilihat oleh para investor.
&quot;Saya punya teman konglomerat besar setiap bikin perusahaan, dia taruh dua orang untuk bagian persiapan publik. Mereka tidak diganggu, dua orang itu bekerja hanya mempersiapkan legal administratif. Dan yang kedua yang penting punya mimpi lima tahun ke depan. Nanti yang kerja sisanya ya underwritter,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan, pada dasarnya pasar modal merupakan alternatif untuk mendapatkan permodalan bagi seluruh perusahaan. Namun masih banyak dari para pengusaha yang belum menangkap kesempatan tersebut.
Tito mengatakan, sudah banyak contoh dari perusahaan terbuka atau go public yang justru semakin berkembang ketika memperoleh permodalan dari pasar modal.
&quot;Dulu kalau punya bisnis gado-gado butuh modal Rp100 ribu bisa pinjam ke teman, tapi ketika butuhnya Rp200 miliar ya pergi ke publik, itu go public,&quot; terangnya dalam seminar Financial Literacy Day yang diselenggarakan BPC HIPMI di Energy Building, Jakarta, Selasa (4/10/2016).
Namun, menurut pandangan Tito, saat ini masih banyak para pengusaha yang menunggu perusahaannya besar, baru mendaftarkan perusahaannya di pasar modal. Menurutnya, itu merupakan kesalahan terbesar.
&quot;Ada bahkan beberapa konglomerat bilang, 'Saya akan go public kalau sudah besar.&amp;rsquo; Itu kesalahan besar, coba lihat Jack Ma, lihat Hary Tanoe, mereka bisa jadi pengusaha besar karena go public,&quot; imbuhnya.
Memang Tito mengakui, persyaratan teknis untuk go public cukup sulit. Namun para pemilik perusahaan tidak perlu pusing, karena urusan persyaratan administrasi dilakukan oleh penjamin efek (underwritter) yang ditunjuk.
Para pengusaha cukup fokus untuk memperbaiki legal administratif perusahaan. Sebab, hal itu yang akan menjadi cerminan kondisi perusahaan yang akan dilihat oleh para investor.
&quot;Saya punya teman konglomerat besar setiap bikin perusahaan, dia taruh dua orang untuk bagian persiapan publik. Mereka tidak diganggu, dua orang itu bekerja hanya mempersiapkan legal administratif. Dan yang kedua yang penting punya mimpi lima tahun ke depan. Nanti yang kerja sisanya ya underwritter,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
