<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Celengan, Koteka dan Inklusi Keuangan di Papua</title><description>Tidak banyak yang tahu bahwa koteka di masyarakat Jayawijaya, Papua, ternyata banyak kegunaannya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2016/10/26/320/1524852/celengan-koteka-dan-inklusi-keuangan-di-papua</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2016/10/26/320/1524852/celengan-koteka-dan-inklusi-keuangan-di-papua"/><item><title>Celengan, Koteka dan Inklusi Keuangan di Papua</title><link>https://economy.okezone.com/read/2016/10/26/320/1524852/celengan-koteka-dan-inklusi-keuangan-di-papua</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2016/10/26/320/1524852/celengan-koteka-dan-inklusi-keuangan-di-papua</guid><pubDate>Rabu 26 Oktober 2016 13:13 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/10/26/320/1524852/celengan-koteka-dan-inklusi-keuangan-di-papua-JYCzcZcXfW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: Koran SINDO)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/10/26/320/1524852/celengan-koteka-dan-inklusi-keuangan-di-papua-JYCzcZcXfW.jpg</image><title>(Foto: Koran SINDO)</title></images><description>PAPUA - Tidak banyak yang tahu bahwa koteka di masyarakat Jayawijaya, Papua, ternyata banyak kegunaannya. Selain menutupi alat kelamin pria, fungsi lain koteka juga sebagai tempat menyimpan uang.

Ya, koteka bagi warga Jayawijaya memang kerap dijadikan sebagai celengan. Bagaimana bisa? Beberapa orang yang ditemui menjelaskan, kebiasaan itu dilakukan dengan cara melapisi bagian kelamin dengan daun. Kemudian, sisa ruang di dalam koteka dipakai untuk menyimpan sesuatu layaknya dompet.

&amp;rdquo;Orang gunung (Jayawijaya) punya budaya menggunakan koteka untuk simpan barang. Beberapa pria kalau bepergian suka kasih alas kotekanya lalu ditaruh uang sehingga ini yang membuat koteka jadi semacam celengan,&amp;rdquo; ungkap Noel Lowenda, warga Jayawijaya, yang ditemui beberapa waktu.

Sekretaris Daerah (Sekda) Papua Hery Dosinaen membenarkan tradisi unik tersebut. Menurutnya, masih ada orang di wilayahnya yang menyimpan uang di koteka.

Dia menjelaskan, dengan kondisi tersebut, masyarakat Papua masih membutuhkan inklusi dan edukasi keuangan yang baik. Sebagai sekda, Hery dikenal memiliki pengalaman bertugas di gunung atau kawasan Jayawijaya. Orang Papua, ujar dia, memiliki karakter unik soal uang hingga investasi yang butuh pencerahan sehingga wajar apabila masih banyak ditemukan praktik investasi bodong dengan berbagai triknya.

Langkah antisipasi dilakukan salah satunya dengan rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meresmikan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) untuk memantau akses keuangan dan investasi daerah di Papua. &amp;rdquo;Sebentar lagi diresmikan TPKAD di sini,&amp;rdquo; ujarnya.

Noel, yang juga berprofesi sebagai wartawan, menambahkan, masyarakat Wamena dan Papua memandang uang hanya sebagai alat jual beli sehingga masih jarang yang terbiasa berurusan dengan bank untuk menabung. Apabila orang Papua memiliki uang, itu artinya untuk dibelanjakan barang atau kebutuhan lain. &amp;rdquo;Di Papua uang tidak untuk disimpan, tapi dibelanjakan,&amp;rdquo; ujarnya.

Fenomena inilah yang membuat Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Anggar B Nuraini berkunjung ke Jayapura. OJK menetapkan Oktober 2016 sebagai Bulan Inklusi Keuangan untuk Semua dalam rangka mencapai target Indeks Inklusi Keuangan Nasional sebesar 75% pada akhir 2019.

Mama Martha Ohee, seorang pembuat kanvas dan lukisan kulit kayu di Sentani, Jayapura, mengaku baru mengenal bank pada 2012. Pengetahuannya soal bank yang terus membaik membuatnya kini aktif sebagai agen Laku Pandai BRI (BRILink). Sebelumnya Martha telah menjadi nasabah KUR mikro BRI untuk modal usaha kerajinan kulit kayu.

&amp;rdquo;Saya utamakan mendorong keluarga untuk menabung. Saudara saya ada delapan orang, mereka harus pintar menabung supaya anak mereka bisa sekolah. Di sini jarang sekali yang menabung,&amp;rdquo; ucap Martha saat mengikuti Bazar Inklusi Keuangan untuk Rakyat di Lapangan Hamadi, Sabtu (22/10) di Jayapura, Papua.</description><content:encoded>PAPUA - Tidak banyak yang tahu bahwa koteka di masyarakat Jayawijaya, Papua, ternyata banyak kegunaannya. Selain menutupi alat kelamin pria, fungsi lain koteka juga sebagai tempat menyimpan uang.

Ya, koteka bagi warga Jayawijaya memang kerap dijadikan sebagai celengan. Bagaimana bisa? Beberapa orang yang ditemui menjelaskan, kebiasaan itu dilakukan dengan cara melapisi bagian kelamin dengan daun. Kemudian, sisa ruang di dalam koteka dipakai untuk menyimpan sesuatu layaknya dompet.

&amp;rdquo;Orang gunung (Jayawijaya) punya budaya menggunakan koteka untuk simpan barang. Beberapa pria kalau bepergian suka kasih alas kotekanya lalu ditaruh uang sehingga ini yang membuat koteka jadi semacam celengan,&amp;rdquo; ungkap Noel Lowenda, warga Jayawijaya, yang ditemui beberapa waktu.

Sekretaris Daerah (Sekda) Papua Hery Dosinaen membenarkan tradisi unik tersebut. Menurutnya, masih ada orang di wilayahnya yang menyimpan uang di koteka.

Dia menjelaskan, dengan kondisi tersebut, masyarakat Papua masih membutuhkan inklusi dan edukasi keuangan yang baik. Sebagai sekda, Hery dikenal memiliki pengalaman bertugas di gunung atau kawasan Jayawijaya. Orang Papua, ujar dia, memiliki karakter unik soal uang hingga investasi yang butuh pencerahan sehingga wajar apabila masih banyak ditemukan praktik investasi bodong dengan berbagai triknya.

Langkah antisipasi dilakukan salah satunya dengan rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meresmikan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) untuk memantau akses keuangan dan investasi daerah di Papua. &amp;rdquo;Sebentar lagi diresmikan TPKAD di sini,&amp;rdquo; ujarnya.

Noel, yang juga berprofesi sebagai wartawan, menambahkan, masyarakat Wamena dan Papua memandang uang hanya sebagai alat jual beli sehingga masih jarang yang terbiasa berurusan dengan bank untuk menabung. Apabila orang Papua memiliki uang, itu artinya untuk dibelanjakan barang atau kebutuhan lain. &amp;rdquo;Di Papua uang tidak untuk disimpan, tapi dibelanjakan,&amp;rdquo; ujarnya.

Fenomena inilah yang membuat Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Anggar B Nuraini berkunjung ke Jayapura. OJK menetapkan Oktober 2016 sebagai Bulan Inklusi Keuangan untuk Semua dalam rangka mencapai target Indeks Inklusi Keuangan Nasional sebesar 75% pada akhir 2019.

Mama Martha Ohee, seorang pembuat kanvas dan lukisan kulit kayu di Sentani, Jayapura, mengaku baru mengenal bank pada 2012. Pengetahuannya soal bank yang terus membaik membuatnya kini aktif sebagai agen Laku Pandai BRI (BRILink). Sebelumnya Martha telah menjadi nasabah KUR mikro BRI untuk modal usaha kerajinan kulit kayu.

&amp;rdquo;Saya utamakan mendorong keluarga untuk menabung. Saudara saya ada delapan orang, mereka harus pintar menabung supaya anak mereka bisa sekolah. Di sini jarang sekali yang menabung,&amp;rdquo; ucap Martha saat mengikuti Bazar Inklusi Keuangan untuk Rakyat di Lapangan Hamadi, Sabtu (22/10) di Jayapura, Papua.</content:encoded></item></channel></rss>
