<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>INSPIRASI BISNIS: Berani Resign, Bedi Sukses Kelola 361 Gerai Quick Chicken</title><description>Cukup lama Bedi bekerja di salah satu restoran fried chicken. Bahkan, kariernya memuncak hingga menduduki kursi direktur.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2016/11/05/320/1533806/inspirasi-bisnis-berani-resign-bedi-sukses-kelola-361-gerai-quick-chicken</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2016/11/05/320/1533806/inspirasi-bisnis-berani-resign-bedi-sukses-kelola-361-gerai-quick-chicken"/><item><title>INSPIRASI BISNIS: Berani Resign, Bedi Sukses Kelola 361 Gerai Quick Chicken</title><link>https://economy.okezone.com/read/2016/11/05/320/1533806/inspirasi-bisnis-berani-resign-bedi-sukses-kelola-361-gerai-quick-chicken</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2016/11/05/320/1533806/inspirasi-bisnis-berani-resign-bedi-sukses-kelola-361-gerai-quick-chicken</guid><pubDate>Sabtu 05 November 2016 20:16 WIB</pubDate><dc:creator>Danang Sugianto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/11/05/320/1533806/inspirasi-bisnis-berani-resign-bedi-sukses-kelola-361-gerai-quick-chicken-SQbygFxR0F.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: Dok pribadi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/11/05/320/1533806/inspirasi-bisnis-berani-resign-bedi-sukses-kelola-361-gerai-quick-chicken-SQbygFxR0F.jpg</image><title>(Foto: Dok pribadi)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Penganan ayam goreng tepung ala western alias fried chicken sudah lama akrab di lidah masyarakat Indonesia. Waralaba restoran fried chicken asing juga telah menjamur di Tanah Air sejak puluhan tahun silam.

Namun di tengah maraknya bendera restoran cepat saji fried chicken asing, ternyata terselip satu nama milik anak bangsa yang sudah lama bermain di ranah bisnis ini yakni Quick Chicken. Merek ini juga cukup dikenal masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sang pemilik, Bedi Zubaedi, mengisahkan bahwa Quick Chicken berdiri tepat pada 22 April 2000. Kala itu bisnis fried chicken sepenuhnya dikuasai waralaba asing. Sehingga, bisa dibilang Quick Chicken menjadi pionir bagi bisnis fried chicke lokal.

Bedi yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi di bidang juru masak mengungkapkan memang sejak awal lulus kuliah dirinya memiliki cita-cita ingin menjadi pebisnis kuliner. Namun ketika lulus kuliah pada akhir 1980-an, belum ada pebisnis Indonesia yang sukses mendirikan restoran.

&quot;Dulu kuliah jurusannya masakan Eropa. Tapi setelah lulus bingung mau bikin resto Eropa belum laku. Restoran zaman dulu itu kan cuma ada di hotel-hotel bagus,&quot; kisahnya saat berbincang-bincang dengan Okezone di Jakarta.

Alhasil ketika lulus, dirinya memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu di beberapa restoran kenamaan, termasuk salah satu restoran Korea. Bisa dibilang sudah cukup kenyang pengalaman Bedi bekerja sebagi chef.

Kemudian pada 1987, Bedi mendapat tawaran bekerja di salah satu restoran cepat saji fried chicken asal Amerika Serikat (AS) California Pioneer Chicken. Ia pun sempat ragu menerima tawaran itu karena masih awam tentang sistem bisnis waralaba. Namun lantaran haus akan pengalaman, Bedi akhirnya menerima tawaran tersebut.

&quot;Saat itu saya belajar tentang sistem waralaba. Dari situ juga saya pindah-pindah bekerja di restoran fried chicken. Saya pindah ke CFC (California Fried Chicken), kemudian ke Wendy's, terus balik lagi ke CFC,&quot; ungkapnya.

Cukup lama Bedi bekerja di salah satu restoran fried chicken. Bahkan, kariernya memuncak hingga menduduki kursi direksi. Namun pada akhir 1990-an rasa jenuh mulai menghantuinya. Cita-cita sebelumnya untuk menjadi pebisnis muncul lagi.

&quot;Pada 2000, posisi saya sudah cukup bagus, tapi saya mengundurkan diri. Tapi itu prosesnya tidak gampang, saya izin istri dan dua anak saya. Dapat izin. Tapi ketika izin ke kedua orangtua, bapak tanya: &amp;lsquo;Apa sudah dipertimbangkan? Karena ini resikonya tinggi&amp;rsquo;. Ibu malah tidak diterima. Malah dibilang tidak bersyukur karena saya sudah dapat jabatan tinggi,&quot; tuturnya.Meski begitu, Bedi tetap nekat memulai langkah kecilnya di dunia  usaha. Saat itu ia langsung memilih bisnis fried chicken karena saat itu  belum ada restoran serupa yang menyasar pangsa pasar menengah ke bawah.

&quot;Saya mulai buka di Yogyakarta. Pertimbangannya ini fried chicken  untuk kelas menengah ke bawah belum ada. Jadi saya musti buka di daerah,  tapi tidak sembarangan. Yogyakarta itu kota pelajar dan wisata,&quot; kata  Bedi.

Berbekal modal Rp55 juta, Bedi memilih untuk mendirikan Quick Chicken  di sebuah ruko kecil berukuran 4 meter persegi. Kala itu Bedi juga  menyiapkan dana cadang yang diambil dari tabungannya sebesar Rp110 juta.  Uang tersebut dijadikan sebagai bantalan ketika bisnisnya mengalami  kendala.

&quot;Modal awal untuk sewa kios, kalau peralatannya bekas. Saya lihat  restoran ada yang tutup mau jual kursi sama mejanya ya saya beli.  Kompor, wajannya juga bekas, yang baru cuma piring sama sendok. Jadinya  modalnya tidak cukup besar. Saya hanya siapkan uang untuk jaga-jaga,&quot;  tutur Bedi.

Akhirnya dengan mempekerjakan tujuh karyawan, bahtera bisnisnya mulai  berjalan. Namun tahun pertama menjadi tahun yang sulit baginya. Selama  satu tahun bisnisnya itu tidak mendatangkan keuntungan, bahkan terus  merugi.

Bedi harus menutupi kerugian sekira Rp2&amp;ndash;3 juta hampir setiap bulannya  selama satu tahun. Untungnya dia menyiapkan dana cadangan yang bisa  dimanfaatkan untuk menutupi kerugian itu.

&quot;Tapi saya selalu tanya ke tamu rasanya bagaimana. Hasilnya dari 10  itu, 9 pasti bilang suka. Saya juga sedikit jual nama kantor saya yang  lama. Saya tinggalin kartu nama saya ketika masih jadi direktur. Saya  cuma bilang dulu saya kerja di sini,&quot; ucap Bedi.

Akan tetapi Bedi merasa harus mencari strategi lain untuk  menyelamatkan bisnisnya. Di bulan keenam, dirinya memutuskan membuka  cabang. Quick Chicken lagi di tempat lain dengan harapan keuntungan  cabang kedua bisa menutupi kerugian tersebut.

Cabang kedua yang berlokasi di Magelang memang memiliki keuntungan,  namun ternyata belum bisa menutupi kerugian di cabang pertama. Akhirnya  Bedi buka cabang lagi di Mojokerto. Barulah saat itu kerugian-kerugian  yang dialaminya perlahan bisa diimbangi.Pada 2003, keyakinan Bedi terhadap perkembang Quick Chiken semakin  kuat ketika dirinya mendapat tawaran untuk mengisi di seluruh food court  Matahari yang ada di Jawa Tengah. Namun karena bisnisnya saat ini belum  bisa mendatangkan laba yang besar, Bedi kekurangan modal.

Namun dengan kenekatan, Bedi mengambil kesempatan tersebut. Ia pun  ikhlas untuk melepas mobil kesayangannya untuk dijadikan modal. Bahkan,  Bedi mengatakan juga sempat meminjam perhiasan istrinya, logam mulia,  serta tabungan keluarga.

&quot;Saya pakai semua. Istri juga mendukung. Akhirnya saat itu saya buka di delapan food court Matahari sekaligus,&quot; ujarnya.

Akan tetapi saat itulah titik balik dari bisnisnya. Quick Chicken  mulai digemari masyarakat Jawa Tengah. Bedi juga semakin agresif untuk  membuka cabang-cabang lagi hingga memasuki wilayah Jawa Timur.

Pada 2008, total gerai Quick Chicken sudah berjumlah 60-an cabang.  Setiap cabangnya kala itu memiliki rata-rata omzet Rp30&amp;ndash;40 juta dengan  porsi profit 10&amp;ndash;15%.

Namun ternyata di balik berkembangnya Quick Chicken ada jurus unik  yang digunakannya. Bedi ternyata diam-diam mengikuti apa saja yang  dilakukan oleh restoran fried chicken asal AS.

&quot;Sebab saat itu masyarakat Indonesia nyebut restoran fried chicken  itu CFC. Saya tanya Quick Chicken enggak tahu, tapi pas ditunjukin CFC  di mana ternyata yang ditunjukin itu Quick Chicken. Yasudah saat itu  saya ikutin semua produk-produknya,&quot; ucap Bedi.

Berkat strategi itu, Bedi menjadi terbiasa menciptakan minimal satu menu baru. Nama Quick Chicken juga ikut terkerek naik.

Harumnya nama Quick Chicken bukan hanya tercium oleh perlanggannya,  tapi juga para pemburu bisnis. Kesuksesan Quick Chicken menggoda para  pelanggan untuk menjadi mitranya. Dengan tangan terbuka, Bedi menerima  tawaran itu.

Hanya dengan informasi dari mulut ke mulut, pada 2010, jumlah  mitranya sudah mencapai 100 orang lebih. Dikarenakan melihat antusias  yang cukup besar, akhirnya Bedi membuka peluang waralaba secara serius  dengan membuat sistem kerjasama waralaba.

Singkat cerikat kini jumlah cabang Quick Chicken sudah mencapai 321  cabang yang tersebar di Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Lombok, hingga  Papua. Dari total gerai tersebut, 76 di antaranya miliknya sendiri  sementara sisanya merupakan milik mitra.

Begini gambaran simulasi keuntungan waralaba dari mitra Quick Chicken:
&amp;nbsp;




Simulasi Usaha Awal Fried Chicken






Modal Awal (Hanya Kaos 1 Buah)





Rp250 Ribu




2 Fryer





Rp40 juta




Sewa Tempat 100 m2 per tahun





Rp15 juta




Renovasi tempat dan peralatan lengkap





Rp160 juta




Bahan baku awal, gaji 7 orang karyawan dan   promosi





Rp35 juta















Asumsi Omset per Bulan


Rp80 juta







Biaya Bahan Baku per bulan





Rp40 Juta




Gaji 7 Orang Karyawan





Rp21 juta




Sewa Tempat, Listrik, PAM dan biaya   operasional lainnya





Rp7 Juta















Profit per Bulan


Rp12 Juta







Perkiraan Balik Modal 21 bulan


Rp12 juta x 21


Rp252 Juta




&amp;nbsp;</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Penganan ayam goreng tepung ala western alias fried chicken sudah lama akrab di lidah masyarakat Indonesia. Waralaba restoran fried chicken asing juga telah menjamur di Tanah Air sejak puluhan tahun silam.

Namun di tengah maraknya bendera restoran cepat saji fried chicken asing, ternyata terselip satu nama milik anak bangsa yang sudah lama bermain di ranah bisnis ini yakni Quick Chicken. Merek ini juga cukup dikenal masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sang pemilik, Bedi Zubaedi, mengisahkan bahwa Quick Chicken berdiri tepat pada 22 April 2000. Kala itu bisnis fried chicken sepenuhnya dikuasai waralaba asing. Sehingga, bisa dibilang Quick Chicken menjadi pionir bagi bisnis fried chicke lokal.

Bedi yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi di bidang juru masak mengungkapkan memang sejak awal lulus kuliah dirinya memiliki cita-cita ingin menjadi pebisnis kuliner. Namun ketika lulus kuliah pada akhir 1980-an, belum ada pebisnis Indonesia yang sukses mendirikan restoran.

&quot;Dulu kuliah jurusannya masakan Eropa. Tapi setelah lulus bingung mau bikin resto Eropa belum laku. Restoran zaman dulu itu kan cuma ada di hotel-hotel bagus,&quot; kisahnya saat berbincang-bincang dengan Okezone di Jakarta.

Alhasil ketika lulus, dirinya memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu di beberapa restoran kenamaan, termasuk salah satu restoran Korea. Bisa dibilang sudah cukup kenyang pengalaman Bedi bekerja sebagi chef.

Kemudian pada 1987, Bedi mendapat tawaran bekerja di salah satu restoran cepat saji fried chicken asal Amerika Serikat (AS) California Pioneer Chicken. Ia pun sempat ragu menerima tawaran itu karena masih awam tentang sistem bisnis waralaba. Namun lantaran haus akan pengalaman, Bedi akhirnya menerima tawaran tersebut.

&quot;Saat itu saya belajar tentang sistem waralaba. Dari situ juga saya pindah-pindah bekerja di restoran fried chicken. Saya pindah ke CFC (California Fried Chicken), kemudian ke Wendy's, terus balik lagi ke CFC,&quot; ungkapnya.

Cukup lama Bedi bekerja di salah satu restoran fried chicken. Bahkan, kariernya memuncak hingga menduduki kursi direksi. Namun pada akhir 1990-an rasa jenuh mulai menghantuinya. Cita-cita sebelumnya untuk menjadi pebisnis muncul lagi.

&quot;Pada 2000, posisi saya sudah cukup bagus, tapi saya mengundurkan diri. Tapi itu prosesnya tidak gampang, saya izin istri dan dua anak saya. Dapat izin. Tapi ketika izin ke kedua orangtua, bapak tanya: &amp;lsquo;Apa sudah dipertimbangkan? Karena ini resikonya tinggi&amp;rsquo;. Ibu malah tidak diterima. Malah dibilang tidak bersyukur karena saya sudah dapat jabatan tinggi,&quot; tuturnya.Meski begitu, Bedi tetap nekat memulai langkah kecilnya di dunia  usaha. Saat itu ia langsung memilih bisnis fried chicken karena saat itu  belum ada restoran serupa yang menyasar pangsa pasar menengah ke bawah.

&quot;Saya mulai buka di Yogyakarta. Pertimbangannya ini fried chicken  untuk kelas menengah ke bawah belum ada. Jadi saya musti buka di daerah,  tapi tidak sembarangan. Yogyakarta itu kota pelajar dan wisata,&quot; kata  Bedi.

Berbekal modal Rp55 juta, Bedi memilih untuk mendirikan Quick Chicken  di sebuah ruko kecil berukuran 4 meter persegi. Kala itu Bedi juga  menyiapkan dana cadang yang diambil dari tabungannya sebesar Rp110 juta.  Uang tersebut dijadikan sebagai bantalan ketika bisnisnya mengalami  kendala.

&quot;Modal awal untuk sewa kios, kalau peralatannya bekas. Saya lihat  restoran ada yang tutup mau jual kursi sama mejanya ya saya beli.  Kompor, wajannya juga bekas, yang baru cuma piring sama sendok. Jadinya  modalnya tidak cukup besar. Saya hanya siapkan uang untuk jaga-jaga,&quot;  tutur Bedi.

Akhirnya dengan mempekerjakan tujuh karyawan, bahtera bisnisnya mulai  berjalan. Namun tahun pertama menjadi tahun yang sulit baginya. Selama  satu tahun bisnisnya itu tidak mendatangkan keuntungan, bahkan terus  merugi.

Bedi harus menutupi kerugian sekira Rp2&amp;ndash;3 juta hampir setiap bulannya  selama satu tahun. Untungnya dia menyiapkan dana cadangan yang bisa  dimanfaatkan untuk menutupi kerugian itu.

&quot;Tapi saya selalu tanya ke tamu rasanya bagaimana. Hasilnya dari 10  itu, 9 pasti bilang suka. Saya juga sedikit jual nama kantor saya yang  lama. Saya tinggalin kartu nama saya ketika masih jadi direktur. Saya  cuma bilang dulu saya kerja di sini,&quot; ucap Bedi.

Akan tetapi Bedi merasa harus mencari strategi lain untuk  menyelamatkan bisnisnya. Di bulan keenam, dirinya memutuskan membuka  cabang. Quick Chicken lagi di tempat lain dengan harapan keuntungan  cabang kedua bisa menutupi kerugian tersebut.

Cabang kedua yang berlokasi di Magelang memang memiliki keuntungan,  namun ternyata belum bisa menutupi kerugian di cabang pertama. Akhirnya  Bedi buka cabang lagi di Mojokerto. Barulah saat itu kerugian-kerugian  yang dialaminya perlahan bisa diimbangi.Pada 2003, keyakinan Bedi terhadap perkembang Quick Chiken semakin  kuat ketika dirinya mendapat tawaran untuk mengisi di seluruh food court  Matahari yang ada di Jawa Tengah. Namun karena bisnisnya saat ini belum  bisa mendatangkan laba yang besar, Bedi kekurangan modal.

Namun dengan kenekatan, Bedi mengambil kesempatan tersebut. Ia pun  ikhlas untuk melepas mobil kesayangannya untuk dijadikan modal. Bahkan,  Bedi mengatakan juga sempat meminjam perhiasan istrinya, logam mulia,  serta tabungan keluarga.

&quot;Saya pakai semua. Istri juga mendukung. Akhirnya saat itu saya buka di delapan food court Matahari sekaligus,&quot; ujarnya.

Akan tetapi saat itulah titik balik dari bisnisnya. Quick Chicken  mulai digemari masyarakat Jawa Tengah. Bedi juga semakin agresif untuk  membuka cabang-cabang lagi hingga memasuki wilayah Jawa Timur.

Pada 2008, total gerai Quick Chicken sudah berjumlah 60-an cabang.  Setiap cabangnya kala itu memiliki rata-rata omzet Rp30&amp;ndash;40 juta dengan  porsi profit 10&amp;ndash;15%.

Namun ternyata di balik berkembangnya Quick Chicken ada jurus unik  yang digunakannya. Bedi ternyata diam-diam mengikuti apa saja yang  dilakukan oleh restoran fried chicken asal AS.

&quot;Sebab saat itu masyarakat Indonesia nyebut restoran fried chicken  itu CFC. Saya tanya Quick Chicken enggak tahu, tapi pas ditunjukin CFC  di mana ternyata yang ditunjukin itu Quick Chicken. Yasudah saat itu  saya ikutin semua produk-produknya,&quot; ucap Bedi.

Berkat strategi itu, Bedi menjadi terbiasa menciptakan minimal satu menu baru. Nama Quick Chicken juga ikut terkerek naik.

Harumnya nama Quick Chicken bukan hanya tercium oleh perlanggannya,  tapi juga para pemburu bisnis. Kesuksesan Quick Chicken menggoda para  pelanggan untuk menjadi mitranya. Dengan tangan terbuka, Bedi menerima  tawaran itu.

Hanya dengan informasi dari mulut ke mulut, pada 2010, jumlah  mitranya sudah mencapai 100 orang lebih. Dikarenakan melihat antusias  yang cukup besar, akhirnya Bedi membuka peluang waralaba secara serius  dengan membuat sistem kerjasama waralaba.

Singkat cerikat kini jumlah cabang Quick Chicken sudah mencapai 321  cabang yang tersebar di Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Lombok, hingga  Papua. Dari total gerai tersebut, 76 di antaranya miliknya sendiri  sementara sisanya merupakan milik mitra.

Begini gambaran simulasi keuntungan waralaba dari mitra Quick Chicken:
&amp;nbsp;




Simulasi Usaha Awal Fried Chicken






Modal Awal (Hanya Kaos 1 Buah)





Rp250 Ribu




2 Fryer





Rp40 juta




Sewa Tempat 100 m2 per tahun





Rp15 juta




Renovasi tempat dan peralatan lengkap





Rp160 juta




Bahan baku awal, gaji 7 orang karyawan dan   promosi





Rp35 juta















Asumsi Omset per Bulan


Rp80 juta







Biaya Bahan Baku per bulan





Rp40 Juta




Gaji 7 Orang Karyawan





Rp21 juta




Sewa Tempat, Listrik, PAM dan biaya   operasional lainnya





Rp7 Juta















Profit per Bulan


Rp12 Juta







Perkiraan Balik Modal 21 bulan


Rp12 juta x 21


Rp252 Juta




&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
