<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Inovasi Bioteknologi Berjalan Lamban</title><description>Pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin mengatakan, pertanian Indonesia tidak didorong oleh perubahan teknologi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2016/11/17/320/1543763/inovasi-bioteknologi-berjalan-lamban</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2016/11/17/320/1543763/inovasi-bioteknologi-berjalan-lamban"/><item><title>Inovasi Bioteknologi Berjalan Lamban</title><link>https://economy.okezone.com/read/2016/11/17/320/1543763/inovasi-bioteknologi-berjalan-lamban</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2016/11/17/320/1543763/inovasi-bioteknologi-berjalan-lamban</guid><pubDate>Kamis 17 November 2016 10:57 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/11/17/320/1543763/inovasi-bioteknologi-berjalan-lamban-delHBcnjip.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi : Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/11/17/320/1543763/inovasi-bioteknologi-berjalan-lamban-delHBcnjip.jpg</image><title>Ilustrasi : Okezone</title></images><description>JAKARTA - Pertumbuhan produktivitas beras dengan bioteknologi dinilai lamban. Hal ini tercermin dari beberapa studi total factor productivity (TFP) pertanian Indonesia yang berkisar 1%.

Pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin mengatakan, pertanian Indonesia tidak didorong oleh perubahan teknologi. Menurutnya, opsi kebijakan bioteknologi dari pemerintah tidak terlalu jelas. &amp;rdquo;Petani ingin dilibatkan, tetapi enforcement hak cipta salah arah. Sehingga, lamban kalau melihat dari petani kita yang tidak terkoneksi dengan teknologi baru,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta kemarin.

Menurutnya, perlu adanya aplikasi inovasi teknologi pertanian meliputi perbaikan manajemen usaha tani, sistem insentif baru berbasis inovasi dan teknologi, benih, dan panen- pascapanen. &amp;rdquo;Harus ada kejelasan peran swasta dan BUMN dalam inovasi, follow up kebijakan promotif pengembangan bioteknologi. Pemerintah daerah (pemda) berperan penting dalam mengadopsi bioteknologi.

Beri insentif khusus bagi pemda dalam peningkatan produksi dan produktivitas padi di daerahnya masing-masing,&amp;rdquo; katanya. Bustanul melanjutkan, tantangan lainnya dalam pengembangan produktivitas beras adalah industri penggilingan yang tidak efisien. Menurutnya, perlu ada fasilitas investasi baru penggilingan beras skala besar serta konsolidasi penggilingan skala kecil dan menengah sesuai ketersediaan bahan baku dan infrastruktur pendukung.

&amp;rdquo;Data produksi juga over estimate. Perlu adanya perbaikan estimasi produksi pangan,&amp;rdquo; tuturnya. Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang mengatakan, semua data pangan seharusnya divalidasi dan dievaluasi. Hingga saat ini beras masih tetap menjadi pangan utama konsumen nasional.

&amp;rdquo;Walau harga lebih mahal, tetap saja pilihannya beras. Meskipun melihat terigu lebih murah. Yang lain seperti cassava juga masih mahal,&amp;rdquo; ujarnya. Franky, sapaan akrab Franciscus, melanjutkan bahwa industrialisasi pangan tidak memberi kepastian penurunan beras. Sementara, lahan pertanian semakin terbatas sehingga harus ada prioritas dari penggunaan lahan.

&amp;rdquo;Ancaman kita masih cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem menurunkan produktivitas dan kembali lagi pengembangan bioteknologi menjadi penting. Selain itu, sistem nilai rantai pangan harus dievaluasi kembali dan dikembangkan bersama pemerintah dan swasta,&amp;rdquo; tegasnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Pertumbuhan produktivitas beras dengan bioteknologi dinilai lamban. Hal ini tercermin dari beberapa studi total factor productivity (TFP) pertanian Indonesia yang berkisar 1%.

Pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin mengatakan, pertanian Indonesia tidak didorong oleh perubahan teknologi. Menurutnya, opsi kebijakan bioteknologi dari pemerintah tidak terlalu jelas. &amp;rdquo;Petani ingin dilibatkan, tetapi enforcement hak cipta salah arah. Sehingga, lamban kalau melihat dari petani kita yang tidak terkoneksi dengan teknologi baru,&amp;rdquo; ujarnya di Jakarta kemarin.

Menurutnya, perlu adanya aplikasi inovasi teknologi pertanian meliputi perbaikan manajemen usaha tani, sistem insentif baru berbasis inovasi dan teknologi, benih, dan panen- pascapanen. &amp;rdquo;Harus ada kejelasan peran swasta dan BUMN dalam inovasi, follow up kebijakan promotif pengembangan bioteknologi. Pemerintah daerah (pemda) berperan penting dalam mengadopsi bioteknologi.

Beri insentif khusus bagi pemda dalam peningkatan produksi dan produktivitas padi di daerahnya masing-masing,&amp;rdquo; katanya. Bustanul melanjutkan, tantangan lainnya dalam pengembangan produktivitas beras adalah industri penggilingan yang tidak efisien. Menurutnya, perlu ada fasilitas investasi baru penggilingan beras skala besar serta konsolidasi penggilingan skala kecil dan menengah sesuai ketersediaan bahan baku dan infrastruktur pendukung.

&amp;rdquo;Data produksi juga over estimate. Perlu adanya perbaikan estimasi produksi pangan,&amp;rdquo; tuturnya. Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang mengatakan, semua data pangan seharusnya divalidasi dan dievaluasi. Hingga saat ini beras masih tetap menjadi pangan utama konsumen nasional.

&amp;rdquo;Walau harga lebih mahal, tetap saja pilihannya beras. Meskipun melihat terigu lebih murah. Yang lain seperti cassava juga masih mahal,&amp;rdquo; ujarnya. Franky, sapaan akrab Franciscus, melanjutkan bahwa industrialisasi pangan tidak memberi kepastian penurunan beras. Sementara, lahan pertanian semakin terbatas sehingga harus ada prioritas dari penggunaan lahan.

&amp;rdquo;Ancaman kita masih cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem menurunkan produktivitas dan kembali lagi pengembangan bioteknologi menjadi penting. Selain itu, sistem nilai rantai pangan harus dievaluasi kembali dan dikembangkan bersama pemerintah dan swasta,&amp;rdquo; tegasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
