<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI: Fed Rate dan Pilpres AS Picu Ketidakpastian Ekonomi Global</title><description>Bank Indonesia (BI) mengakui saat ini kondisi ekonomi global masih belum membaik.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2016/11/22/20/1548610/bi-fed-rate-dan-pilpres-as-picu-ketidakpastian-ekonomi-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2016/11/22/20/1548610/bi-fed-rate-dan-pilpres-as-picu-ketidakpastian-ekonomi-global"/><item><title>BI: Fed Rate dan Pilpres AS Picu Ketidakpastian Ekonomi Global</title><link>https://economy.okezone.com/read/2016/11/22/20/1548610/bi-fed-rate-dan-pilpres-as-picu-ketidakpastian-ekonomi-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2016/11/22/20/1548610/bi-fed-rate-dan-pilpres-as-picu-ketidakpastian-ekonomi-global</guid><pubDate>Selasa 22 November 2016 22:42 WIB</pubDate><dc:creator>Kurniasih Miftakhul Jannah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/11/22/20/1548610/bi-fed-rate-dan-pilpres-as-picu-ketidakpastian-ekonomi-global-88kE8Mxl31.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gubernur BI Agus Martowardojo (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/11/22/20/1548610/bi-fed-rate-dan-pilpres-as-picu-ketidakpastian-ekonomi-global-88kE8Mxl31.jpg</image><title>Gubernur BI Agus Martowardojo (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengakui saat ini kondisi ekonomi global masih belum membaik. Hal ini dikarenakan banyaknya ketidakpastian yang membuat situasi ekonomi dunia masih bergejolak.

&quot;Ekonomi global yang belum solid dan antisipasi kenaikan Fed Fund Rate pada gilirannya kembali berdampak pada masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global,&quot; papar Gubernur BI Agus Martowardojo dalam pertemuan tahunan BI di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (22/11/2016).

Mantan Menteri Keuangan ini menyebut, pelaku pasar masih terus diliputi ketidakpastian kenaikan Fed Fund Rate yang sampai November 2016 tetap dipertahankan pada level 0,25-0,50%.

&quot;Belum lagi dampak ketidakpastian geopolitik, termasuk pemilu presiden di AS,&quot; tambah dia.

Dia mengatakan, berbagai ketidakpastian tersebut kemudian berdampak pada menurunnya aliran modal ke negara berkembang dan diikuti volatilitas perpindahan dana global. Berbagai dinamika ekonomi global tahun 2016 tersebut, lanjut dia, semakin memperkuat indikasi adanya permasalahan struktural di ekonomi global.

&quot;Permasalahan yang dalam pandangan kami berkontribusi pada turunnya produktivitas ekonomi di banyak negara dan kemudian menurunkan kapasitas produksi di berbagai belahan dunia, termasuk di negara berkembang,&quot; tukasnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengakui saat ini kondisi ekonomi global masih belum membaik. Hal ini dikarenakan banyaknya ketidakpastian yang membuat situasi ekonomi dunia masih bergejolak.

&quot;Ekonomi global yang belum solid dan antisipasi kenaikan Fed Fund Rate pada gilirannya kembali berdampak pada masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global,&quot; papar Gubernur BI Agus Martowardojo dalam pertemuan tahunan BI di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (22/11/2016).

Mantan Menteri Keuangan ini menyebut, pelaku pasar masih terus diliputi ketidakpastian kenaikan Fed Fund Rate yang sampai November 2016 tetap dipertahankan pada level 0,25-0,50%.

&quot;Belum lagi dampak ketidakpastian geopolitik, termasuk pemilu presiden di AS,&quot; tambah dia.

Dia mengatakan, berbagai ketidakpastian tersebut kemudian berdampak pada menurunnya aliran modal ke negara berkembang dan diikuti volatilitas perpindahan dana global. Berbagai dinamika ekonomi global tahun 2016 tersebut, lanjut dia, semakin memperkuat indikasi adanya permasalahan struktural di ekonomi global.

&quot;Permasalahan yang dalam pandangan kami berkontribusi pada turunnya produktivitas ekonomi di banyak negara dan kemudian menurunkan kapasitas produksi di berbagai belahan dunia, termasuk di negara berkembang,&quot; tukasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
