<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Alasan Industri 'Online' dan 'Offline' Perlu Digabungkan</title><description>Ekonom dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Nugroho SBM menyatakan, industri berbasis &quot;online&quot; atau dalam jaringan dan &quot;offline&quot; atau luar jaringan perlu digabungkan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2016/12/05/320/1559253/alasan-industri-online-dan-offline-perlu-digabungkan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2016/12/05/320/1559253/alasan-industri-online-dan-offline-perlu-digabungkan"/><item><title>Alasan Industri 'Online' dan 'Offline' Perlu Digabungkan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2016/12/05/320/1559253/alasan-industri-online-dan-offline-perlu-digabungkan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2016/12/05/320/1559253/alasan-industri-online-dan-offline-perlu-digabungkan</guid><pubDate>Senin 05 Desember 2016 17:06 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2016/12/05/320/1559253/alasan-industri-online-dan-offline-perlu-digabungkan-DdvGAfannz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2016/12/05/320/1559253/alasan-industri-online-dan-offline-perlu-digabungkan-DdvGAfannz.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Okezone)</title></images><description>SEMARANG - Ekonom dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Nugroho SBM menyatakan, industri berbasis &quot;online&quot; atau dalam jaringan dan &quot;offline&quot; atau luar jaringan perlu digabungkan.
&quot;Dua sistem ini perlu digabungkan untuk menjamin bahwa belanja melalui digital aman dilakukan oleh masyarakat,&quot; katanya di Semarang, Senin (5/12/2016).
Diakuinya, hingga saat ini masih banyak sektor industri berbasis &quot;online&quot; yang menggabungkan dua sistem ini.
&quot;Misalnya ketika melakukan transaksi tetap lewat 'online', tetapi ketika pengiriman barang dilakukan secara langsung, tidak melalui jasa pengiriman barang,&quot; katanya.
Terkait hal ini, pihaknya berharap para pelaku industri perdagangan dengan sistem dalam jaringan tidak ragu untuk menggabungkan antara &quot;online&quot; dengan &quot;offline&quot;.
&quot;Ini efektif jika pengiriman dilakukan dalam kota atau jaraknya tidak terlalu jauh. Dengan begitu, konsumen akan semakin puas dengan pelayanan yang diberikan,&quot; katanya.
Sementara itu, dari data yang diperolehnya, saat ini baru sekira 30% penduduk Indonesia yang melakukan kegiatan ekonomi di sektor digital.
&quot;Melihat angka ini artinya masih ada potensi besar untuk meningkatkan jumlah pelaku perdagangan secara digital,&quot; katanya.
Menurut dia, jika dikembangkan secara optimal, kontribusi perdagangan dari sektor digital bisa mencapai USD150 miliar.
&quot;Angka ini memberikan dampak yang cukup besar terhadap ekonomi di Indonesia,&quot; tutupnya.</description><content:encoded>SEMARANG - Ekonom dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Nugroho SBM menyatakan, industri berbasis &quot;online&quot; atau dalam jaringan dan &quot;offline&quot; atau luar jaringan perlu digabungkan.
&quot;Dua sistem ini perlu digabungkan untuk menjamin bahwa belanja melalui digital aman dilakukan oleh masyarakat,&quot; katanya di Semarang, Senin (5/12/2016).
Diakuinya, hingga saat ini masih banyak sektor industri berbasis &quot;online&quot; yang menggabungkan dua sistem ini.
&quot;Misalnya ketika melakukan transaksi tetap lewat 'online', tetapi ketika pengiriman barang dilakukan secara langsung, tidak melalui jasa pengiriman barang,&quot; katanya.
Terkait hal ini, pihaknya berharap para pelaku industri perdagangan dengan sistem dalam jaringan tidak ragu untuk menggabungkan antara &quot;online&quot; dengan &quot;offline&quot;.
&quot;Ini efektif jika pengiriman dilakukan dalam kota atau jaraknya tidak terlalu jauh. Dengan begitu, konsumen akan semakin puas dengan pelayanan yang diberikan,&quot; katanya.
Sementara itu, dari data yang diperolehnya, saat ini baru sekira 30% penduduk Indonesia yang melakukan kegiatan ekonomi di sektor digital.
&quot;Melihat angka ini artinya masih ada potensi besar untuk meningkatkan jumlah pelaku perdagangan secara digital,&quot; katanya.
Menurut dia, jika dikembangkan secara optimal, kontribusi perdagangan dari sektor digital bisa mencapai USD150 miliar.
&quot;Angka ini memberikan dampak yang cukup besar terhadap ekonomi di Indonesia,&quot; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
