<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Mengerikan! Ekspor Senjata Naik ke Level Tertinggi Sejak Perang Dingin   </title><description>Perdagangan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) global tercatat meningkat ke level tertinggi sejak akhir Perang Dingin.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/02/22/320/1623408/mengerikan-ekspor-senjata-naik-ke-level-tertinggi-sejak-perang-dingin</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/02/22/320/1623408/mengerikan-ekspor-senjata-naik-ke-level-tertinggi-sejak-perang-dingin"/><item><title>   Mengerikan! Ekspor Senjata Naik ke Level Tertinggi Sejak Perang Dingin   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/02/22/320/1623408/mengerikan-ekspor-senjata-naik-ke-level-tertinggi-sejak-perang-dingin</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/02/22/320/1623408/mengerikan-ekspor-senjata-naik-ke-level-tertinggi-sejak-perang-dingin</guid><pubDate>Rabu 22 Februari 2017 00:17 WIB</pubDate><dc:creator>Martin Bagya Kertiyasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/02/20/320/1623408/mengerikan-ekspor-senjata-naik-ke-level-tertinggi-sejak-perang-dingin-HpGUMpSbl4.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Alutsista. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/02/20/320/1623408/mengerikan-ekspor-senjata-naik-ke-level-tertinggi-sejak-perang-dingin-HpGUMpSbl4.JPG</image><title>Ilustrasi Alutsista. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Perdagangan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) global tercatat meningkat ke level tertinggi sejak akhir Perang Dingin. Hal ini lantaran adanya ketegangan geopolitik di beberapa daerah.

Studi yang dilakukan oleh Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mencatat bahwa lonjakan permintaan senjata ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah, ketegangan di Laut China Selatan serta ancaman dari Rusia ke negara tetangganya.

Adapun eksportir senjata terbesar di dunia, masih dipegang oleh Amerika Serikat (AS) dengan dominasi 33% dalam lima tahun terakhir. Sementara di posisi kedua, ditempati oleh Rusia dan ketiga adalah China.

Amerika telah melakukan ekspor setidaknya kepada 100 negara selama periode lima tahun terakhir, menguasai perdagangan secara signifikan lebih dari negara pengekspor lainnya. Dari semua ekspor dalam lima tahun terakhir, 47% berakhir di Timur Tengah. Pembeli utama adalah Saudi Arabia, UAE dan Turki.

Banyak negara di Timur Tengah yang terlibat dalam konflik bersenjata di Suriah dan Yaman. Sementara Irak, memerangi gerilyawan di wilayah mereka sendiri. Selain itu, ada kekerasan di Suriah yang meletus hampir enam tahun yang lalu.

Selain itu, adanya intervensi yang dipimpin Saudi di Yaman dimulai hampir dua tahun yang lalu. Pada saat yang sama, tensi tinggi antara Iran dan negara-negara tetangganya.

Impor senjata oleh negara-negara di Timur Tengah meningkat 86% dalam lima tahun terakhir, dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya. Kenaikan terbesar terjadi di Arab Saudi sebesar 212% dan Qatar sebesar 245%.

Booming harga miyak dalam beberapa terakhir telah memungkinkan bagi negara-negara Timur Tengah untuk meningkatkan pengeluaran militer mereka. Namun, seiring melemahnya harga minyak mentah, maka hal tersebut tidak akan bertahan lama.</description><content:encoded>JAKARTA - Perdagangan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) global tercatat meningkat ke level tertinggi sejak akhir Perang Dingin. Hal ini lantaran adanya ketegangan geopolitik di beberapa daerah.

Studi yang dilakukan oleh Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mencatat bahwa lonjakan permintaan senjata ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah, ketegangan di Laut China Selatan serta ancaman dari Rusia ke negara tetangganya.

Adapun eksportir senjata terbesar di dunia, masih dipegang oleh Amerika Serikat (AS) dengan dominasi 33% dalam lima tahun terakhir. Sementara di posisi kedua, ditempati oleh Rusia dan ketiga adalah China.

Amerika telah melakukan ekspor setidaknya kepada 100 negara selama periode lima tahun terakhir, menguasai perdagangan secara signifikan lebih dari negara pengekspor lainnya. Dari semua ekspor dalam lima tahun terakhir, 47% berakhir di Timur Tengah. Pembeli utama adalah Saudi Arabia, UAE dan Turki.

Banyak negara di Timur Tengah yang terlibat dalam konflik bersenjata di Suriah dan Yaman. Sementara Irak, memerangi gerilyawan di wilayah mereka sendiri. Selain itu, ada kekerasan di Suriah yang meletus hampir enam tahun yang lalu.

Selain itu, adanya intervensi yang dipimpin Saudi di Yaman dimulai hampir dua tahun yang lalu. Pada saat yang sama, tensi tinggi antara Iran dan negara-negara tetangganya.

Impor senjata oleh negara-negara di Timur Tengah meningkat 86% dalam lima tahun terakhir, dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya. Kenaikan terbesar terjadi di Arab Saudi sebesar 212% dan Qatar sebesar 245%.

Booming harga miyak dalam beberapa terakhir telah memungkinkan bagi negara-negara Timur Tengah untuk meningkatkan pengeluaran militer mereka. Namun, seiring melemahnya harga minyak mentah, maka hal tersebut tidak akan bertahan lama.</content:encoded></item></channel></rss>
