<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Aset Perkebunan Jateng Belum Maksimal</title><description>Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diminta mampu memaksimalkan potensi aset perkebunan yang dimiliki.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/03/20/320/1647172/aset-perkebunan-jateng-belum-maksimal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/03/20/320/1647172/aset-perkebunan-jateng-belum-maksimal"/><item><title>Aset Perkebunan Jateng Belum Maksimal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/03/20/320/1647172/aset-perkebunan-jateng-belum-maksimal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/03/20/320/1647172/aset-perkebunan-jateng-belum-maksimal</guid><pubDate>Senin 20 Maret 2017 13:16 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/03/20/320/1647172/aset-perkebunan-jateng-belum-maksimal-sL7WMmmaeI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/03/20/320/1647172/aset-perkebunan-jateng-belum-maksimal-sL7WMmmaeI.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Okezone)</title></images><description>SEMARANG &amp;ndash; Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diminta mampu memaksimalkan potensi aset perkebunan yang dimiliki. Sejauh ini penetapan target pendapatan perkebunan terbilang kecil, tapi biaya operasional tinggi.

&amp;ldquo;Jadi belum berbanding lurus. Harus lebih optimal lagi pengelolaannya,&amp;rdquo; kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Jateng Sri Hartini kemarin.

Beberapa waktu lalu Komisi C melakukan kunjungan kerja ke Kebun Dinas Kandeman, Batang. Kebun seluas 6 hektare ini memiliki lahan produksi benih kopi robusta, kakao, dan kapuk randu.   &amp;ldquo;Target pendapatan pada 2017 sebesar Rp40 juta, sementara anggaran yang dialokasikan mencapai Rp22,7 juta. Ini baru sebatas target,&amp;rdquo; kata Sri.

Tahun lalu target pendapatan kebun ini Rp35 juta. Namun, target itu hanya terealisasi Rp27 juta atau 77%.

&amp;ldquo;Karena itu, perlu dipikirkan ulang agar pengelolaan aset perkebunan memberikan hasil yang optimal. Apakah itu sistemnya atau sumber daya manusianya,&amp;rdquo; kata legislator Partai Gerindra itu.

Anggota Komisi C DPRD Jateng Wahyudin Noor Aly melihat fenomena tersebut sangat tidak proporsional. Dia khawatir masyarakat gagal paham bahwa berkebun atau bertani memang tidak menjanjikan apa pun, kecuali merugi.   &amp;ldquo;Fungsi penting yang tidak boleh diabaikan, pemerintah gagal memberi contoh bahwa berkebun betapa pun lahannya luas tidak menjadi pilihan bagi masyarakat,&amp;rdquo; ungkap dia.

Mereka melihat Pemprov Jateng yang mengelola kebun seluas ratusan hektare hasilnya minus.

&amp;ldquo;Karena itu, tolonglah, beri contoh masyarakat dengan keberhasilan memberdayakan kebun-kebun ini dengan hasil yang bagus,&amp;rdquo; ujar legislator PAN itu. (kmj)</description><content:encoded>SEMARANG &amp;ndash; Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diminta mampu memaksimalkan potensi aset perkebunan yang dimiliki. Sejauh ini penetapan target pendapatan perkebunan terbilang kecil, tapi biaya operasional tinggi.

&amp;ldquo;Jadi belum berbanding lurus. Harus lebih optimal lagi pengelolaannya,&amp;rdquo; kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Jateng Sri Hartini kemarin.

Beberapa waktu lalu Komisi C melakukan kunjungan kerja ke Kebun Dinas Kandeman, Batang. Kebun seluas 6 hektare ini memiliki lahan produksi benih kopi robusta, kakao, dan kapuk randu.   &amp;ldquo;Target pendapatan pada 2017 sebesar Rp40 juta, sementara anggaran yang dialokasikan mencapai Rp22,7 juta. Ini baru sebatas target,&amp;rdquo; kata Sri.

Tahun lalu target pendapatan kebun ini Rp35 juta. Namun, target itu hanya terealisasi Rp27 juta atau 77%.

&amp;ldquo;Karena itu, perlu dipikirkan ulang agar pengelolaan aset perkebunan memberikan hasil yang optimal. Apakah itu sistemnya atau sumber daya manusianya,&amp;rdquo; kata legislator Partai Gerindra itu.

Anggota Komisi C DPRD Jateng Wahyudin Noor Aly melihat fenomena tersebut sangat tidak proporsional. Dia khawatir masyarakat gagal paham bahwa berkebun atau bertani memang tidak menjanjikan apa pun, kecuali merugi.   &amp;ldquo;Fungsi penting yang tidak boleh diabaikan, pemerintah gagal memberi contoh bahwa berkebun betapa pun lahannya luas tidak menjadi pilihan bagi masyarakat,&amp;rdquo; ungkap dia.

Mereka melihat Pemprov Jateng yang mengelola kebun seluas ratusan hektare hasilnya minus.

&amp;ldquo;Karena itu, tolonglah, beri contoh masyarakat dengan keberhasilan memberdayakan kebun-kebun ini dengan hasil yang bagus,&amp;rdquo; ujar legislator PAN itu. (kmj)</content:encoded></item></channel></rss>
