<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengusaha Baja Lokal Minta Perlindungan Pemerintah</title><description>Produsen baja mendesak pemerintah melindungi produk baja dalam negeri dengan menaikkan bea masuk baja impor.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/05/23/278/1697702/pengusaha-baja-lokal-minta-perlindungan-pemerintah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/05/23/278/1697702/pengusaha-baja-lokal-minta-perlindungan-pemerintah"/><item><title>Pengusaha Baja Lokal Minta Perlindungan Pemerintah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/05/23/278/1697702/pengusaha-baja-lokal-minta-perlindungan-pemerintah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/05/23/278/1697702/pengusaha-baja-lokal-minta-perlindungan-pemerintah</guid><pubDate>Selasa 23 Mei 2017 11:46 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/05/23/278/1697702/pengusaha-baja-lokal-minta-perlindungan-pemerintah-ljyw03MoKi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/05/23/278/1697702/pengusaha-baja-lokal-minta-perlindungan-pemerintah-ljyw03MoKi.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>SURABAYA &amp;ndash; Produsen baja mendesak pemerintah melindungi produk baja dalam negeri dengan menaikkan bea masuk baja impor. Rendahnya bea masuk menyebabkan baja impor, terutama dari China, membanjiri pasar domestik.

Indonesia mengenakan bea masuk baja impor sebesar 15%. Sementara negara lain, seperti Amerika Serikat, menetapkan bea masuk baja impor sebesar 51%. Tingginya bea masuk ke AS menyebabkan produsen baja dalam negeri sulit menembus pasar Negeri Paman Sam tersebut.

&amp;ldquo;Kami pada dasarnya siap bersaing di pasar ekspor. Yang namanya pasar bebas ya tidak ada bea antidumping,&amp;rdquo; kata Direktur PT Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk Hadi Sutjipto.

Persentase pasar ekspor GDS pada 2015 pernah mencapai 17,5% dari total produksi, sisanya dijual di pasar domestik. Akibat banyaknya tekanan dan hambatan di pasar ekspor, tren penjualan GDS ke luar negeri turun menjadi sekitar 4% pada 2016. Selama ini GDS mengekspor produk bajanya hanya ke negaranegara di Asia, Australia, dan Eropa.

&amp;ldquo;Untuk menambah kinerja perseroan, kami juga berupaya mencari peluang pasar ekspor seperti ke Timur Tengah,&amp;rdquo; tutur Hadi.

Emiten berkode GDST tersebut tahun ini mengalokasikan belanja modal sebesar Rp120 miliar. Dana tersebut disediakan untuk melanjutkan proyek pembangunan gedung dan fondasi mesin plate mill GDS ke-2, pembelian crane, water treatment, dan sejumlah peralatan lain.

Proyek fondasi plate mill yang sudah mencapai 50% dari total investasi diproyeksikan selesai pada akhir 2018, molor dari target tuntas akhir 2017. Sementara untuk perawatan mesin plate mill GDS ke-1 dialokasikan dana sebesar Rp20 miliar. Hingga Maret 2017, GDS berhasil membukukan penjualan bersih Rp304 miliar, naik 59% dibanding periode yang sama 2016 yang sebesar Rp191 miliar. Laba kotor tercatat Rp45 miliar, naik dari periode yang sama 2016 sebesar Rp16 miliar.

Sementara itu, Direktur PT Jaya Pari Steel Tbk Yurnalis Ilyas mengatakan, persaingan usaha dengan produsen dan importir sangat memengaruhi kinerja penjualan baja milik Jaya Pari Steel. Persaingan biasanya terjadi dari sisi harga. Tahun lalu Jaya Pari Steel mengalami kerugian.

Penjualan bersih pada 2014 mencapai Rp313 miliar, pada 2015 anjlok menjadi Rp143 miliar, lalu 2016 kembali turun hanya tercapai Rp120 miliar. &amp;ldquo;Kinerja kami menurun juga akibat fluktuasi valuta asing, terutama dolar AS. Di mana kami beli bahan baku impor pakai dolar AS, lalu penjualan kami hanya di pasar domestik dalam bentuk rupiah,&amp;rdquo; katanya.</description><content:encoded>SURABAYA &amp;ndash; Produsen baja mendesak pemerintah melindungi produk baja dalam negeri dengan menaikkan bea masuk baja impor. Rendahnya bea masuk menyebabkan baja impor, terutama dari China, membanjiri pasar domestik.

Indonesia mengenakan bea masuk baja impor sebesar 15%. Sementara negara lain, seperti Amerika Serikat, menetapkan bea masuk baja impor sebesar 51%. Tingginya bea masuk ke AS menyebabkan produsen baja dalam negeri sulit menembus pasar Negeri Paman Sam tersebut.

&amp;ldquo;Kami pada dasarnya siap bersaing di pasar ekspor. Yang namanya pasar bebas ya tidak ada bea antidumping,&amp;rdquo; kata Direktur PT Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk Hadi Sutjipto.

Persentase pasar ekspor GDS pada 2015 pernah mencapai 17,5% dari total produksi, sisanya dijual di pasar domestik. Akibat banyaknya tekanan dan hambatan di pasar ekspor, tren penjualan GDS ke luar negeri turun menjadi sekitar 4% pada 2016. Selama ini GDS mengekspor produk bajanya hanya ke negaranegara di Asia, Australia, dan Eropa.

&amp;ldquo;Untuk menambah kinerja perseroan, kami juga berupaya mencari peluang pasar ekspor seperti ke Timur Tengah,&amp;rdquo; tutur Hadi.

Emiten berkode GDST tersebut tahun ini mengalokasikan belanja modal sebesar Rp120 miliar. Dana tersebut disediakan untuk melanjutkan proyek pembangunan gedung dan fondasi mesin plate mill GDS ke-2, pembelian crane, water treatment, dan sejumlah peralatan lain.

Proyek fondasi plate mill yang sudah mencapai 50% dari total investasi diproyeksikan selesai pada akhir 2018, molor dari target tuntas akhir 2017. Sementara untuk perawatan mesin plate mill GDS ke-1 dialokasikan dana sebesar Rp20 miliar. Hingga Maret 2017, GDS berhasil membukukan penjualan bersih Rp304 miliar, naik 59% dibanding periode yang sama 2016 yang sebesar Rp191 miliar. Laba kotor tercatat Rp45 miliar, naik dari periode yang sama 2016 sebesar Rp16 miliar.

Sementara itu, Direktur PT Jaya Pari Steel Tbk Yurnalis Ilyas mengatakan, persaingan usaha dengan produsen dan importir sangat memengaruhi kinerja penjualan baja milik Jaya Pari Steel. Persaingan biasanya terjadi dari sisi harga. Tahun lalu Jaya Pari Steel mengalami kerugian.

Penjualan bersih pada 2014 mencapai Rp313 miliar, pada 2015 anjlok menjadi Rp143 miliar, lalu 2016 kembali turun hanya tercapai Rp120 miliar. &amp;ldquo;Kinerja kami menurun juga akibat fluktuasi valuta asing, terutama dolar AS. Di mana kami beli bahan baku impor pakai dolar AS, lalu penjualan kami hanya di pasar domestik dalam bentuk rupiah,&amp;rdquo; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
