<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kawasan Industri Energi Kalimantan Utara Mulai Dijajakan ke Investor China</title><description>Kemenperin menawarkan kawasan industri di Kalimantan Utara (Kaltara) kepada sejumlah investor Negeri Tirai Bambu.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/07/14/320/1736178/kawasan-industri-energi-kalimantan-utara-mulai-dijajakan-ke-investor-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/07/14/320/1736178/kawasan-industri-energi-kalimantan-utara-mulai-dijajakan-ke-investor-china"/><item><title>Kawasan Industri Energi Kalimantan Utara Mulai Dijajakan ke Investor China</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/07/14/320/1736178/kawasan-industri-energi-kalimantan-utara-mulai-dijajakan-ke-investor-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/07/14/320/1736178/kawasan-industri-energi-kalimantan-utara-mulai-dijajakan-ke-investor-china</guid><pubDate>Jum'at 14 Juli 2017 12:00 WIB</pubDate><dc:creator>Lidya Julita Sembiring</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/07/14/320/1736178/kawasan-industri-energi-kalimantan-utara-mulai-dijajakan-ke-investor-china-leFs9a9s6s.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/07/14/320/1736178/kawasan-industri-energi-kalimantan-utara-mulai-dijajakan-ke-investor-china-leFs9a9s6s.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Perindustrian menawarkan kawasan industri di Kalimantan Utara (Kaltara) kepada sejumlah investor Negeri Tirai Bambu untuk perluasan usahanya. Upaya ini merupakan kelanjutan kerjasama bisnis Indonesia-China pada forum One Belt One Road (OBOR) beberapa waktu lalu.

&amp;ldquo;Para investor China telah menyatakan minatnya berinvestasi di Indonesia. Mereka dari beberapa perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan terutama hydropower dan geothermal. Kemudian juga ada perusahaan konservasi atau penyediaan air, selain sektor manufaktur,&quot; kata Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Imam Haryono melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (14/7/2017).

Masuknya investasi China ke Indonesia dinilai akan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional khususnya sektor industri. &quot;Kerjasama ini akan sama-sama menguntungkan. Mereka punya teknologi, capital, dan network. Kita punya sumber daya alam, sumber daya manusia, lokasi, dan domestik market. Ini kalau di-mix bagus,&quot; paparnya.

Menurutnya, Kaltara merupakan wilayah pengembangan industri yang tertuang di dalam Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035. Area yang disebut Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning, yang berlokasi di Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan ini memiliki luas sekira 10 ribu hektare dan berpotensi menjadi pusat pengembangan industri pengolahan mineral, kelapa sawit, kakao, dan perikanan.

&amp;ldquo;Di antaranya kami menawarkan kesempatan berinvestasi pada hydro power plant 7.080 mw. Selanjutnya ada industrial park seluas 4.000 hektare pada tahap pertama. Kemudian zona smelter alumina dan industri aluminium seluas 100 hektare. Yang terakhir, kawasan perumahan terintegrasi seluas 200 hektare,&amp;rdquo; jelasnya.

Pembangunan kawasan tersebut di estimasi perlu membutuhkan investasi sebesar Rp21 triliun, yang akan didukung dengan infrastruktur memadai seperti pelabuhan, jalan, dan jembatan. Selain itu, kawasan yang ditargetkan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 60 ribu orang ini rencananya dilengkapi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 7.080 megawatt di Kecamatan Long Peso, Kabupaten Bulungan, dengan nilai investasi sekira Rp170 triliun.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, lokasi Kaltara dinilai cukup strategis karena terletak pada lintasan Alur Laut Kepulauan Indonesia II (ALKI II) yang merupakan lintasan laut perdagangan internasional serta berada pada kawasan pusat ekonomi dunia masa depan dan langsung berhadapan dengan negara tetangga. Kawasan industri Tanah Kuning memiliki beragam potensi sumber daya alam yang cukup melimpah khususnya energi terbarukan.

Misalnya, untuk mineral dan energi, antara lain batu gamping (654 ribu ton di Malinau), pasir kuarsa (1 miliar ton di Nunukan), Sirtu (2,5 juta ton di Nunukan), batu bara (970 juta m3/tahun), dan emas. Sedangkan, untuk potensi perkebunan, meliputi kelapa sawit, karet, kakao, kopi, tebu, kapas, tembakau, jagung, dan padi. Di samping itu, potensi alumina dan bauksit di Pulau Kalimantan yang dapat dimanfaatkan secara optimal.

&amp;ldquo;Kami mengapresiasi adanya kerja sama B to B (Business to Business) kedua negara, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pendalaman struktur serta peningkatan daya saing industri nasional. Bahkan juga mampu memacu pemerataan pembangunan dan kesejahteraan di Indonesia,&amp;rdquo; tukasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Perindustrian menawarkan kawasan industri di Kalimantan Utara (Kaltara) kepada sejumlah investor Negeri Tirai Bambu untuk perluasan usahanya. Upaya ini merupakan kelanjutan kerjasama bisnis Indonesia-China pada forum One Belt One Road (OBOR) beberapa waktu lalu.

&amp;ldquo;Para investor China telah menyatakan minatnya berinvestasi di Indonesia. Mereka dari beberapa perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan terutama hydropower dan geothermal. Kemudian juga ada perusahaan konservasi atau penyediaan air, selain sektor manufaktur,&quot; kata Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Imam Haryono melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (14/7/2017).

Masuknya investasi China ke Indonesia dinilai akan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional khususnya sektor industri. &quot;Kerjasama ini akan sama-sama menguntungkan. Mereka punya teknologi, capital, dan network. Kita punya sumber daya alam, sumber daya manusia, lokasi, dan domestik market. Ini kalau di-mix bagus,&quot; paparnya.

Menurutnya, Kaltara merupakan wilayah pengembangan industri yang tertuang di dalam Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035. Area yang disebut Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning, yang berlokasi di Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan ini memiliki luas sekira 10 ribu hektare dan berpotensi menjadi pusat pengembangan industri pengolahan mineral, kelapa sawit, kakao, dan perikanan.

&amp;ldquo;Di antaranya kami menawarkan kesempatan berinvestasi pada hydro power plant 7.080 mw. Selanjutnya ada industrial park seluas 4.000 hektare pada tahap pertama. Kemudian zona smelter alumina dan industri aluminium seluas 100 hektare. Yang terakhir, kawasan perumahan terintegrasi seluas 200 hektare,&amp;rdquo; jelasnya.

Pembangunan kawasan tersebut di estimasi perlu membutuhkan investasi sebesar Rp21 triliun, yang akan didukung dengan infrastruktur memadai seperti pelabuhan, jalan, dan jembatan. Selain itu, kawasan yang ditargetkan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 60 ribu orang ini rencananya dilengkapi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 7.080 megawatt di Kecamatan Long Peso, Kabupaten Bulungan, dengan nilai investasi sekira Rp170 triliun.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, lokasi Kaltara dinilai cukup strategis karena terletak pada lintasan Alur Laut Kepulauan Indonesia II (ALKI II) yang merupakan lintasan laut perdagangan internasional serta berada pada kawasan pusat ekonomi dunia masa depan dan langsung berhadapan dengan negara tetangga. Kawasan industri Tanah Kuning memiliki beragam potensi sumber daya alam yang cukup melimpah khususnya energi terbarukan.

Misalnya, untuk mineral dan energi, antara lain batu gamping (654 ribu ton di Malinau), pasir kuarsa (1 miliar ton di Nunukan), Sirtu (2,5 juta ton di Nunukan), batu bara (970 juta m3/tahun), dan emas. Sedangkan, untuk potensi perkebunan, meliputi kelapa sawit, karet, kakao, kopi, tebu, kapas, tembakau, jagung, dan padi. Di samping itu, potensi alumina dan bauksit di Pulau Kalimantan yang dapat dimanfaatkan secara optimal.

&amp;ldquo;Kami mengapresiasi adanya kerja sama B to B (Business to Business) kedua negara, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pendalaman struktur serta peningkatan daya saing industri nasional. Bahkan juga mampu memacu pemerataan pembangunan dan kesejahteraan di Indonesia,&amp;rdquo; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
