<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Napak Tilas Pasar Glodok, Surga Barang Elektronik yang Kini Jadi 'Kuburan'</title><description>Siapa yang tidak mengenal Pasar Glodok, Jakarta Barat, salah satu surga bagi penggila barang elektronik.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/07/16/320/1737418/napak-tilas-pasar-glodok-surga-barang-elektronik-yang-kini-jadi-kuburan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/07/16/320/1737418/napak-tilas-pasar-glodok-surga-barang-elektronik-yang-kini-jadi-kuburan"/><item><title>Napak Tilas Pasar Glodok, Surga Barang Elektronik yang Kini Jadi 'Kuburan'</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/07/16/320/1737418/napak-tilas-pasar-glodok-surga-barang-elektronik-yang-kini-jadi-kuburan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/07/16/320/1737418/napak-tilas-pasar-glodok-surga-barang-elektronik-yang-kini-jadi-kuburan</guid><pubDate>Minggu 16 Juli 2017 10:41 WIB</pubDate><dc:creator>Trio Hamdani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/07/16/320/1737418/napak-tilas-pasar-glodok-surga-barang-elektronik-yang-kini-jadi-kuburan-d5Bg1LKUWr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pasar Glodok. (Foto: Trio)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/07/16/320/1737418/napak-tilas-pasar-glodok-surga-barang-elektronik-yang-kini-jadi-kuburan-d5Bg1LKUWr.jpg</image><title>Pasar Glodok. (Foto: Trio)</title></images><description>JAKARTA - Siapa yang tidak mengenal Pasar Glodok, Jakarta Barat, salah satu surga bagi penggila barang elektronik. Pasar Glodok kerap dikunjungi oleh mereka yang mencari barang-barang elektronik dengan harga miring, karena selain banyak pilihan Pasar Glodok juga menawarkan fleksibilitas dalam 'matematika' harga.

Namun, kejayaan Pasar Glodok mulai pudar seiring dengan maraknya situs belanja online. Hawa 'gerah' yang dulu ada lantaran banyaknya pembeli yang berlalu-lalang kini tidak lagi terasa. Kini, yang disuguhkan hanyalah penjaga toko yang memandang gang-gang sepi, sembari menunggu datangnya pembeli.

Dede (25), salah seorang pedagang di pasar glodok dengan merek toko Dadi mengungkapkan bahwa penurunan jumlah pengunjung di Pasar Glodok membuat pendapatan pedagang berkurang secara drastis dibanding dulu.

&quot;Rata di semua toko, dari mulai di sini (dalam pasar) sampai yang di emperan, keluhannya hal yang sama (sepi),&quot; kata dia saat berbincang dengan Okezone di Jakarta, Minggu (16/7/2017).

Miris, itulah yang bisa digambarkan dari situasi Dede saat ini. Dede mengaku kini dia hanya bisa membawa pulang penghasilan rata-rata Rp300 ribu per hari. &quot;Pernah ada yang enggak beli. Kalau paling sedikit Rp50 ribu, cuma terjual satu item. Kalau lagi ramai bisa Rp700 ribu,&quot; jelas dia..

Namun, yang namanya rezeki dari berdagang diakuinya sulit diprediksi. Tak ada hitungan-hitungan pasti kapan ramai pengunjung dan kapan sepi pengunjung. Yang biasanya pada Minggu, pengunjung banyak yang datang pun diakuinya kadang bisa sepi.

&quot;Jadi biasa kadang ramai, kadang minggu bisa sepi juga. Senin paling sepi,&quot; papar Dede sambil sesekali menatap barang dagangannya yang mayoritas adalah lampu senter hingga remot TV dan remot AC.

Lebih disayangkannya, Lebaran kemarin Pasar Glodok tidak terkena imbas positif layaknya pusat-pusat perbelanjaan lain yang menjual kebutuhan sehari-hari hingga pakaian. &quot;Lebaran kemarin sama sekali enggak ada pengaruh,&quot; tukasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Siapa yang tidak mengenal Pasar Glodok, Jakarta Barat, salah satu surga bagi penggila barang elektronik. Pasar Glodok kerap dikunjungi oleh mereka yang mencari barang-barang elektronik dengan harga miring, karena selain banyak pilihan Pasar Glodok juga menawarkan fleksibilitas dalam 'matematika' harga.

Namun, kejayaan Pasar Glodok mulai pudar seiring dengan maraknya situs belanja online. Hawa 'gerah' yang dulu ada lantaran banyaknya pembeli yang berlalu-lalang kini tidak lagi terasa. Kini, yang disuguhkan hanyalah penjaga toko yang memandang gang-gang sepi, sembari menunggu datangnya pembeli.

Dede (25), salah seorang pedagang di pasar glodok dengan merek toko Dadi mengungkapkan bahwa penurunan jumlah pengunjung di Pasar Glodok membuat pendapatan pedagang berkurang secara drastis dibanding dulu.

&quot;Rata di semua toko, dari mulai di sini (dalam pasar) sampai yang di emperan, keluhannya hal yang sama (sepi),&quot; kata dia saat berbincang dengan Okezone di Jakarta, Minggu (16/7/2017).

Miris, itulah yang bisa digambarkan dari situasi Dede saat ini. Dede mengaku kini dia hanya bisa membawa pulang penghasilan rata-rata Rp300 ribu per hari. &quot;Pernah ada yang enggak beli. Kalau paling sedikit Rp50 ribu, cuma terjual satu item. Kalau lagi ramai bisa Rp700 ribu,&quot; jelas dia..

Namun, yang namanya rezeki dari berdagang diakuinya sulit diprediksi. Tak ada hitungan-hitungan pasti kapan ramai pengunjung dan kapan sepi pengunjung. Yang biasanya pada Minggu, pengunjung banyak yang datang pun diakuinya kadang bisa sepi.

&quot;Jadi biasa kadang ramai, kadang minggu bisa sepi juga. Senin paling sepi,&quot; papar Dede sambil sesekali menatap barang dagangannya yang mayoritas adalah lampu senter hingga remot TV dan remot AC.

Lebih disayangkannya, Lebaran kemarin Pasar Glodok tidak terkena imbas positif layaknya pusat-pusat perbelanjaan lain yang menjual kebutuhan sehari-hari hingga pakaian. &quot;Lebaran kemarin sama sekali enggak ada pengaruh,&quot; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
