<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pasar Glodok Jadi 'Kuburan', Aprindo: Di Sana Tak Punya Keunikan   </title><description>Glodok kini tidak lagi menunjukkan taringnya karena semakin ditinggalkan oleh konsumen.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/07/17/320/1738481/pasar-glodok-jadi-kuburan-aprindo-di-sana-tak-punya-keunikan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/07/17/320/1738481/pasar-glodok-jadi-kuburan-aprindo-di-sana-tak-punya-keunikan"/><item><title>Pasar Glodok Jadi 'Kuburan', Aprindo: Di Sana Tak Punya Keunikan   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/07/17/320/1738481/pasar-glodok-jadi-kuburan-aprindo-di-sana-tak-punya-keunikan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/07/17/320/1738481/pasar-glodok-jadi-kuburan-aprindo-di-sana-tak-punya-keunikan</guid><pubDate>Senin 17 Juli 2017 20:06 WIB</pubDate><dc:creator>Trio Hamdani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/07/17/320/1738481/pasar-glodok-jadi-kuburan-aprindo-di-sana-tak-punya-keunikan-SJIYLqD0yo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pasar Glodok. (Foto: Okezone/Trio)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/07/17/320/1738481/pasar-glodok-jadi-kuburan-aprindo-di-sana-tak-punya-keunikan-SJIYLqD0yo.jpg</image><title>Pasar Glodok. (Foto: Okezone/Trio)</title></images><description>JAKARTA - Sebagai mantan pusat perbelanjaan barang elektronik terbesar di Indonesia, Glodok kini tidak lagi menunjukkan taringnya karena semakin ditinggalkan oleh konsumen.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menilai, redupnya kejayaan Glodok lantaran beragam alternatif tempat berbelanja keperluan elektronik saat ini sudah bertebaran di mana-mana.

&quot;Dulu beli barang pikirannya ke Glodok, sekarang sudah ada perubahan. Perubahan perilaku, masyarakat bisa beli banyak pilihan (tempat), tidak hanya di Glodok,&quot; katanya di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (17/7/2017).

Dia mengatakan, saat ini sangat mudah menemukan toko-toko penyedia barang elektronik. Menurutnya, saat ini masyarakat sudah bisa memperoleh barang elektronik di sekitaran rumah mereka. Ditambah toko online yang bertebaran.

&quot;Misalnya daerah-daerah perumahan sekarang ada toko elektronik yang kayak Glodok itu, ada online, alternatif masyarakat sudah tak perlu ke Glodok,&quot; lanjutnya.

Dia menyarankan agar Glodok dan pengelola pusat perbelanjaan pada umumnya giat melakukan kreativitas untuk menumbuhkan lagi minat konsumen datang pusat perbelanjaan. Sementara, saat ini Glodok belum memberikan perubahan berarti.

&quot;Belum mengubah dan mengikuti zaman. Perubahan pricing policy, perubahan teknologi, perubahan service excellence model promosi harus dilakukan. Harus berubah yang drastis, yang fenomenal, yang penting punya keunikan kayak harga promosi dan sebagainya,&quot; ujarnya.

Dia menambahkan, redupnya pusat perbelanjaan Glodok juga tak dapat dilepaskan dari menurunnya performa bisnis ritel saat ini yang berdampak terhadap kinerja pusat perbelanjaan secara umum. Namun, lagi-lagi model bisnis yang diterapkan amat sangat menentukan.

&quot;Karena mungkin modelnya beda bisnisnya. (Contoh) kalau Roxy masih ramai, sementara Roxy Square agak sepi karena bisnis model beda. Kedua bicara promosi campaign, bicara marketing program tidak unik atau berbeda,&quot; tukasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Sebagai mantan pusat perbelanjaan barang elektronik terbesar di Indonesia, Glodok kini tidak lagi menunjukkan taringnya karena semakin ditinggalkan oleh konsumen.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menilai, redupnya kejayaan Glodok lantaran beragam alternatif tempat berbelanja keperluan elektronik saat ini sudah bertebaran di mana-mana.

&quot;Dulu beli barang pikirannya ke Glodok, sekarang sudah ada perubahan. Perubahan perilaku, masyarakat bisa beli banyak pilihan (tempat), tidak hanya di Glodok,&quot; katanya di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (17/7/2017).

Dia mengatakan, saat ini sangat mudah menemukan toko-toko penyedia barang elektronik. Menurutnya, saat ini masyarakat sudah bisa memperoleh barang elektronik di sekitaran rumah mereka. Ditambah toko online yang bertebaran.

&quot;Misalnya daerah-daerah perumahan sekarang ada toko elektronik yang kayak Glodok itu, ada online, alternatif masyarakat sudah tak perlu ke Glodok,&quot; lanjutnya.

Dia menyarankan agar Glodok dan pengelola pusat perbelanjaan pada umumnya giat melakukan kreativitas untuk menumbuhkan lagi minat konsumen datang pusat perbelanjaan. Sementara, saat ini Glodok belum memberikan perubahan berarti.

&quot;Belum mengubah dan mengikuti zaman. Perubahan pricing policy, perubahan teknologi, perubahan service excellence model promosi harus dilakukan. Harus berubah yang drastis, yang fenomenal, yang penting punya keunikan kayak harga promosi dan sebagainya,&quot; ujarnya.

Dia menambahkan, redupnya pusat perbelanjaan Glodok juga tak dapat dilepaskan dari menurunnya performa bisnis ritel saat ini yang berdampak terhadap kinerja pusat perbelanjaan secara umum. Namun, lagi-lagi model bisnis yang diterapkan amat sangat menentukan.

&quot;Karena mungkin modelnya beda bisnisnya. (Contoh) kalau Roxy masih ramai, sementara Roxy Square agak sepi karena bisnis model beda. Kedua bicara promosi campaign, bicara marketing program tidak unik atau berbeda,&quot; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
