<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cuan-nya Sudah Berkurang, ExxonMobil Ogah Kembangkan Blok East Natuna?</title><description>Salah satu perusahaan konsorsium Pertamina di blok East Natuna yakni  ExxonMobil, berpeluang mundur dari pengembangan blok tersebut.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/07/18/320/1739000/cuan-nya-sudah-berkurang-exxonmobil-ogah-kembangkan-blok-east-natuna</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/07/18/320/1739000/cuan-nya-sudah-berkurang-exxonmobil-ogah-kembangkan-blok-east-natuna"/><item><title>Cuan-nya Sudah Berkurang, ExxonMobil Ogah Kembangkan Blok East Natuna?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/07/18/320/1739000/cuan-nya-sudah-berkurang-exxonmobil-ogah-kembangkan-blok-east-natuna</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/07/18/320/1739000/cuan-nya-sudah-berkurang-exxonmobil-ogah-kembangkan-blok-east-natuna</guid><pubDate>Selasa 18 Juli 2017 15:13 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/07/18/320/1739000/cuan-nya-sudah-berkurang-exxonmobil-ogah-kembangkan-blok-east-natuna-XUXOSHpLYM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Feby Novalius/Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/07/18/320/1739000/cuan-nya-sudah-berkurang-exxonmobil-ogah-kembangkan-blok-east-natuna-XUXOSHpLYM.jpg</image><title>Foto: Feby Novalius/Okezone</title></images><description>JAKARTA - Salah satu perusahaan konsorsium Pertamina di blok East Natuna yakni ExxonMobil, berpeluang mundur dari pengembangan blok tersebut. Hal ini dilakukan setelah ExxonMobil menilai tidak ekonomisnya blok dengan potensi cadangan 46 triliun kaki kubik feet (trilion cubic feet/TCF).

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) IGN Wiratmaja Puja mengatakan, ExxonMobil sudah mengirim surat ke Kementerian ESDM tentang East Natuna. Surat ini pun sedang dibahas secara internal oleh ESDM.

&quot;Isinya kan dulu WK (wilayah kerja) habis masa berlaku. Exxon mengaku sudah habis. Exxon bilang saat ini ekonomis dengan terms yang ada,&quot; ujarnya di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (18/7/2017).

Menurut Wirat, penilaian Exxon terkait tidak ekonomisnya blok East Natuna karena dia pernah mengelola wilayah kerja di Natuna yakni eksplorasi discovery. Namun, Wirat heran, karena dalam surat tersebut ExxonMobil menyebut bahwa memiliki teknologi dan kemampuan teknis untuk membantu Indonesia.

Terlepas dari hal ini, kata Wirat, pihaknya akan segera memanggil pihak ExxonMobil untuk meminta penjelasan dari mana ketidakekonomisan blok East Natuna. Pasalnya, tidak ekonomis hanya singkat dalam satu lembar surat. &quot;Jadi perlu diundang, didiskusikan secara detail. Minggu depan mungkin (waktu pemanggilan),&quot; tuturnya.

Sementara itu, terkait kajian teknis dan pemasaran (Tecnical and Market Review/TMR), Wirat mengatakan, kajiannya masih sesuai jadwal, di mana Pertamina belum meminta waktu tambahan atau hal-hal apa pun dalam menyelesaikannya. &quot;Insya Allah sesuai jadwal. Rencananya akhir tahun ini. Kita tunggu makin cepat makin baik. Makin bisa produksi gas dari situ,&quot; tukasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Salah satu perusahaan konsorsium Pertamina di blok East Natuna yakni ExxonMobil, berpeluang mundur dari pengembangan blok tersebut. Hal ini dilakukan setelah ExxonMobil menilai tidak ekonomisnya blok dengan potensi cadangan 46 triliun kaki kubik feet (trilion cubic feet/TCF).

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) IGN Wiratmaja Puja mengatakan, ExxonMobil sudah mengirim surat ke Kementerian ESDM tentang East Natuna. Surat ini pun sedang dibahas secara internal oleh ESDM.

&quot;Isinya kan dulu WK (wilayah kerja) habis masa berlaku. Exxon mengaku sudah habis. Exxon bilang saat ini ekonomis dengan terms yang ada,&quot; ujarnya di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (18/7/2017).

Menurut Wirat, penilaian Exxon terkait tidak ekonomisnya blok East Natuna karena dia pernah mengelola wilayah kerja di Natuna yakni eksplorasi discovery. Namun, Wirat heran, karena dalam surat tersebut ExxonMobil menyebut bahwa memiliki teknologi dan kemampuan teknis untuk membantu Indonesia.

Terlepas dari hal ini, kata Wirat, pihaknya akan segera memanggil pihak ExxonMobil untuk meminta penjelasan dari mana ketidakekonomisan blok East Natuna. Pasalnya, tidak ekonomis hanya singkat dalam satu lembar surat. &quot;Jadi perlu diundang, didiskusikan secara detail. Minggu depan mungkin (waktu pemanggilan),&quot; tuturnya.

Sementara itu, terkait kajian teknis dan pemasaran (Tecnical and Market Review/TMR), Wirat mengatakan, kajiannya masih sesuai jadwal, di mana Pertamina belum meminta waktu tambahan atau hal-hal apa pun dalam menyelesaikannya. &quot;Insya Allah sesuai jadwal. Rencananya akhir tahun ini. Kita tunggu makin cepat makin baik. Makin bisa produksi gas dari situ,&quot; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
