<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>RAHASIA SUKSES: Paul Polman, CEO yang Tak Mau Menang Sendiri</title><description>CEO Unilever Paul Polman mengatakan bahwa sistem politik dan ekonomi telah gagal membantu masyarakat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/07/22/278/1742051/rahasia-sukses-paul-polman-ceo-yang-tak-mau-menang-sendiri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/07/22/278/1742051/rahasia-sukses-paul-polman-ceo-yang-tak-mau-menang-sendiri"/><item><title>RAHASIA SUKSES: Paul Polman, CEO yang Tak Mau Menang Sendiri</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/07/22/278/1742051/rahasia-sukses-paul-polman-ceo-yang-tak-mau-menang-sendiri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/07/22/278/1742051/rahasia-sukses-paul-polman-ceo-yang-tak-mau-menang-sendiri</guid><pubDate>Sabtu 22 Juli 2017 18:39 WIB</pubDate><dc:creator>Martin Bagya Kertiyasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/07/22/278/1742051/rahasia-sukses-paul-polman-ceo-yang-tak-mau-menang-sendiri-rbpF3yZkh2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Bloomberg</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/07/22/278/1742051/rahasia-sukses-paul-polman-ceo-yang-tak-mau-menang-sendiri-rbpF3yZkh2.jpg</image><title>Foto: Bloomberg</title></images><description>JAKARTA - Banyak perusahaan saat ini terus mengejar keuntungan tanpa memerhatikan kondisi di lingkungannya. Akibatnya, perusahaan tersebut hanya mengejar keuntungan semata tanpa melihat kondisi masyarakat.
Oleh karena itu, CEO Unilever Paul Polman mengatakan bahwa sistem politik dan ekonomi telah gagal membantu masyarakat. Menurutnya, kapitalisme perlu dibingkai ulang untuk bekerja demi kebaikan bersama.
Dia mengatakan, terlalu banyak perusahaan yang makmur dengan mengorbankan masyarakat dan alam. Karenanya, saat ini perusahaan harus belajar menjadi sukses sambil berkontribusi pada masyarakat dan mendukung ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Menurutnya, untuk sukses tidak selalu harus mengorbankan orang lain. Dia menilai, sikap menang sendiri tidak akan membawa perusahaan mencapai tujuannya.
Paul Polman adalah seorang pengusaha Belanda. Setelah masa kerja jangka panjang dengan Procter &amp;amp; Gamble, dia bergabung dengan dewan Nestl&amp;eacute; pada 2006. Sejak 2009, dia menjadi chief executive officer (CEO) perusahaan barang konsumen Inggris-Belanda Unilever. Polman telah menerima beberapa penghargaan untuk kepemimpinan bisnis yang mengutamakan pembangunan berkelanjutan.
Polman lahir dan besar di Kota Enschede, Belanda, di sebuah keluarga Katolik dengan tiga saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Ayahnya adalah eksekutif perusahaan ban dan sementara ibunya adalah mantan pengajar di sebuah sekolah. Polman pun berharap bisa menjadi dokter, sayangnya sekolah kedokteran kala itu ditentukan oleh undian dan dia gagal terpilih.
Dia pun memilih masuk ke Universitas Groningen dan mengambil gelar BBA/BA pada 1977. Setelah itu, dia melanjutkan studinya ke University of Cincinnati untuk mengambil gelar MA di bidang Ekonomi dan MBA di bidang Keuangan dan Pemasaran Internasional pada 1979.
Lulus dari Cincinnati, Polman bekerja untuk Procter &amp;amp; Gamble selama 27 tahun, dengan karier awalnya sebagai analis biaya. Dia kemudian menjadi Managing Director P&amp;amp;G Inggris dari 1995 sampai 1998, kemudian menjadi presiden di divisi retail global dari 1998 sampai 2001, dan presiden divisi yang sama pada 2001.
Polman kemudian bergabung dengan Nestl&amp;eacute; pada 2006 sebagai chief financial officer dan kepala perwakilan Amerika. Baru pada 1 Januari 2009, Polman menggantikan Patrick Cescau sebagai Chief Executive Officer (CEO) Unilever.
Di bawah kepemimpinan Polman, Unilever menargetkan pertumbuhan dua kali lipat sambil memperbaiki peran mereka dalam bidang sosial melalui perkembangan yang berkelanjutan. Polman berpendapat bahwa saat ini sumber daya dunia mulai terbatas, oleh karena itu bisnis yang mengutamakan pembangunan berkelanjutan sangat penting untuk pertumbuhan jangka panjang di pasar negara berkembang dan ini juga mengurangi risiko dan mengurangi biaya.
Meski demikian, para pemegang saham Unilever khawatir bahwa Polman lebih fokus terhadap tanggung jawab sosial perusahaan, ketimbang kinerja keuangan Unilever setelah perusahaan tersebut kehilangan target penjualan selama enam dari delapan kuartal di 2013 dan 2014. Polman juga merivisi target perusahaan jangka pendek, karena perseroan gagal untuk memenuhi target akibat fluktuasi mata uang yang tidak menentu dan perlambatan di pasar negara berkembang sejak 2013.
Polman pun terus menjalankan rencana berkelanjutan perusahaan, yang mencakup semua merek dan 180 negara tempat Unilever beroperasi, serta total rantai pasokannya, termasuk dampak dari konsumennya. Tidak seperti banyak perusahaan lain yang berkonsentrasi pada jejak lingkungan mereka, Unilever juga berencana menggabungkan dua pilar keberlanjutan lainnya, sosial dan ekonomi.</description><content:encoded>JAKARTA - Banyak perusahaan saat ini terus mengejar keuntungan tanpa memerhatikan kondisi di lingkungannya. Akibatnya, perusahaan tersebut hanya mengejar keuntungan semata tanpa melihat kondisi masyarakat.
Oleh karena itu, CEO Unilever Paul Polman mengatakan bahwa sistem politik dan ekonomi telah gagal membantu masyarakat. Menurutnya, kapitalisme perlu dibingkai ulang untuk bekerja demi kebaikan bersama.
Dia mengatakan, terlalu banyak perusahaan yang makmur dengan mengorbankan masyarakat dan alam. Karenanya, saat ini perusahaan harus belajar menjadi sukses sambil berkontribusi pada masyarakat dan mendukung ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Menurutnya, untuk sukses tidak selalu harus mengorbankan orang lain. Dia menilai, sikap menang sendiri tidak akan membawa perusahaan mencapai tujuannya.
Paul Polman adalah seorang pengusaha Belanda. Setelah masa kerja jangka panjang dengan Procter &amp;amp; Gamble, dia bergabung dengan dewan Nestl&amp;eacute; pada 2006. Sejak 2009, dia menjadi chief executive officer (CEO) perusahaan barang konsumen Inggris-Belanda Unilever. Polman telah menerima beberapa penghargaan untuk kepemimpinan bisnis yang mengutamakan pembangunan berkelanjutan.
Polman lahir dan besar di Kota Enschede, Belanda, di sebuah keluarga Katolik dengan tiga saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Ayahnya adalah eksekutif perusahaan ban dan sementara ibunya adalah mantan pengajar di sebuah sekolah. Polman pun berharap bisa menjadi dokter, sayangnya sekolah kedokteran kala itu ditentukan oleh undian dan dia gagal terpilih.
Dia pun memilih masuk ke Universitas Groningen dan mengambil gelar BBA/BA pada 1977. Setelah itu, dia melanjutkan studinya ke University of Cincinnati untuk mengambil gelar MA di bidang Ekonomi dan MBA di bidang Keuangan dan Pemasaran Internasional pada 1979.
Lulus dari Cincinnati, Polman bekerja untuk Procter &amp;amp; Gamble selama 27 tahun, dengan karier awalnya sebagai analis biaya. Dia kemudian menjadi Managing Director P&amp;amp;G Inggris dari 1995 sampai 1998, kemudian menjadi presiden di divisi retail global dari 1998 sampai 2001, dan presiden divisi yang sama pada 2001.
Polman kemudian bergabung dengan Nestl&amp;eacute; pada 2006 sebagai chief financial officer dan kepala perwakilan Amerika. Baru pada 1 Januari 2009, Polman menggantikan Patrick Cescau sebagai Chief Executive Officer (CEO) Unilever.
Di bawah kepemimpinan Polman, Unilever menargetkan pertumbuhan dua kali lipat sambil memperbaiki peran mereka dalam bidang sosial melalui perkembangan yang berkelanjutan. Polman berpendapat bahwa saat ini sumber daya dunia mulai terbatas, oleh karena itu bisnis yang mengutamakan pembangunan berkelanjutan sangat penting untuk pertumbuhan jangka panjang di pasar negara berkembang dan ini juga mengurangi risiko dan mengurangi biaya.
Meski demikian, para pemegang saham Unilever khawatir bahwa Polman lebih fokus terhadap tanggung jawab sosial perusahaan, ketimbang kinerja keuangan Unilever setelah perusahaan tersebut kehilangan target penjualan selama enam dari delapan kuartal di 2013 dan 2014. Polman juga merivisi target perusahaan jangka pendek, karena perseroan gagal untuk memenuhi target akibat fluktuasi mata uang yang tidak menentu dan perlambatan di pasar negara berkembang sejak 2013.
Polman pun terus menjalankan rencana berkelanjutan perusahaan, yang mencakup semua merek dan 180 negara tempat Unilever beroperasi, serta total rantai pasokannya, termasuk dampak dari konsumennya. Tidak seperti banyak perusahaan lain yang berkonsentrasi pada jejak lingkungan mereka, Unilever juga berencana menggabungkan dua pilar keberlanjutan lainnya, sosial dan ekonomi.</content:encoded></item></channel></rss>
