<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Emiten Perkebunan Catatkan Penurunan Laba, Ini Sebabnya</title><description>PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) merosot paling tajam sebesar 77,91%, disusul beberapa emiten lain.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/08/03/278/1748721/emiten-perkebunan-catatkan-penurunan-laba-ini-sebabnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/08/03/278/1748721/emiten-perkebunan-catatkan-penurunan-laba-ini-sebabnya"/><item><title>Emiten Perkebunan Catatkan Penurunan Laba, Ini Sebabnya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/08/03/278/1748721/emiten-perkebunan-catatkan-penurunan-laba-ini-sebabnya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/08/03/278/1748721/emiten-perkebunan-catatkan-penurunan-laba-ini-sebabnya</guid><pubDate>Kamis 03 Agustus 2017 06:18 WIB</pubDate><dc:creator>Trio Hamdani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/02/278/1748721/emiten-perkebunan-catatkan-penurunan-laba-ini-sebabnya-sN76E2tpFG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/02/278/1748721/emiten-perkebunan-catatkan-penurunan-laba-ini-sebabnya-sN76E2tpFG.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kinerja keuangan rata-rata emiten perkebunan sepanjang semester I-2017 mengalami kemerosotan dibandingkan semester I-2016 (year on year/yoy). PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) merosot paling tajam sebesar 77,91%, disusul beberapa emiten lain.

Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya menyatakan, ada sejumlah sentimen yang membuat kinerja emiten perkebunan tak terlalu cemerlang hingga berakhirnya semester I-2017.

&quot;Kalau lihat tantangannya kan cukup banyak. Dari harga minyak yang juga tidak kunjung naik juga cukup memengaruhi karena kan perkebunan CPO (Crude Palm Oil/Minyak Kelapa Sawit) juga ada kaitannya dengan minyak,&quot; katanya ketika dihubungi Okezone di Jakarta.

Harga CPO, khususnya pada semester I-2017, jika diperhatikan memang cenderung stagnan dan tak mengalami peningkatan berarti sehingga tak cukup mampu menopang kinerja keuangan emiten dimaksud.

&quot;Ditambah lagi daya beli konsumen yang turun itu juga cukup memengaruhi karena CPO juga terelasi dengan konsumen karena kan dibutuhkan di berbagai macam produk consumer goods,&quot; paparnya lagi.

Adapun, penurunan laba bersih SMAR sebesar 77,91%, pada semester I-2016 tercatat Rp2,2 triliun, menjadi Rp489 miliar.

PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) pun tercatat masih merugi di semester I-2017 meski ada penurunan 39,71% dari Rp207 miliar jadi Rp125 miliar (yoy). Diikuti oleh PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk (MAGP) yang masih rugi walaupun turun 38,78% menjadi Rp5,3 miliar dari sebelumnya Rp8,7 miliar.

Selanjutnya emiten berkode saham JAWA, yakni PT Jaya Agra Wattie Tbk juga ikut mencatatkan rugi bersih yang turun sebesar 23,89% dari Rp96 miliar jadi Rp73 miliar. Ikut membuntuti, rugi bersih PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) turun sebesar 20,10% dari Rp154 miliar jadi Rp123 miliar.

Anjloknya sejumlah laba emiten perkebunan, lanjut Wiliam, tak terlepas dari faktor alam. &quot;Cuaca, jadi itu yang sangat memengaruhi, jadi tantangan bagi emiten-emiten yang berbasis perkebunan,&quot; terangnya.

Harga komoditas karet, menurutnya juga senasib dengan harga CPO. Dia mengatakan harga karet belakangan ini cenderung stagnan dan kalau pun mengalami kenaikan tak terlalu signifikan, ditambah ketatnya persaingan.

&quot;Karet harganya tidak terlalu naik dan kebutuhan akan karet juga sekarang ada pesaing baru yaitu karet sintetis. Jadinya ada persaingan kan jadi itu yang cukup beri pengaruh,&quot; tukasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kinerja keuangan rata-rata emiten perkebunan sepanjang semester I-2017 mengalami kemerosotan dibandingkan semester I-2016 (year on year/yoy). PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) merosot paling tajam sebesar 77,91%, disusul beberapa emiten lain.

Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya menyatakan, ada sejumlah sentimen yang membuat kinerja emiten perkebunan tak terlalu cemerlang hingga berakhirnya semester I-2017.

&quot;Kalau lihat tantangannya kan cukup banyak. Dari harga minyak yang juga tidak kunjung naik juga cukup memengaruhi karena kan perkebunan CPO (Crude Palm Oil/Minyak Kelapa Sawit) juga ada kaitannya dengan minyak,&quot; katanya ketika dihubungi Okezone di Jakarta.

Harga CPO, khususnya pada semester I-2017, jika diperhatikan memang cenderung stagnan dan tak mengalami peningkatan berarti sehingga tak cukup mampu menopang kinerja keuangan emiten dimaksud.

&quot;Ditambah lagi daya beli konsumen yang turun itu juga cukup memengaruhi karena CPO juga terelasi dengan konsumen karena kan dibutuhkan di berbagai macam produk consumer goods,&quot; paparnya lagi.

Adapun, penurunan laba bersih SMAR sebesar 77,91%, pada semester I-2016 tercatat Rp2,2 triliun, menjadi Rp489 miliar.

PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) pun tercatat masih merugi di semester I-2017 meski ada penurunan 39,71% dari Rp207 miliar jadi Rp125 miliar (yoy). Diikuti oleh PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk (MAGP) yang masih rugi walaupun turun 38,78% menjadi Rp5,3 miliar dari sebelumnya Rp8,7 miliar.

Selanjutnya emiten berkode saham JAWA, yakni PT Jaya Agra Wattie Tbk juga ikut mencatatkan rugi bersih yang turun sebesar 23,89% dari Rp96 miliar jadi Rp73 miliar. Ikut membuntuti, rugi bersih PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) turun sebesar 20,10% dari Rp154 miliar jadi Rp123 miliar.

Anjloknya sejumlah laba emiten perkebunan, lanjut Wiliam, tak terlepas dari faktor alam. &quot;Cuaca, jadi itu yang sangat memengaruhi, jadi tantangan bagi emiten-emiten yang berbasis perkebunan,&quot; terangnya.

Harga komoditas karet, menurutnya juga senasib dengan harga CPO. Dia mengatakan harga karet belakangan ini cenderung stagnan dan kalau pun mengalami kenaikan tak terlalu signifikan, ditambah ketatnya persaingan.

&quot;Karet harganya tidak terlalu naik dan kebutuhan akan karet juga sekarang ada pesaing baru yaitu karet sintetis. Jadinya ada persaingan kan jadi itu yang cukup beri pengaruh,&quot; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
