<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Fokus Energi Terbarukan, Pemerintah Jangan Abaikan yang Konvensional!</title><description>Pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan dari porsi EBTKE dan energi berbasis konvensional.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/08/10/320/1753207/fokus-energi-terbarukan-pemerintah-jangan-abaikan-yang-konvensional</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/08/10/320/1753207/fokus-energi-terbarukan-pemerintah-jangan-abaikan-yang-konvensional"/><item><title>Fokus Energi Terbarukan, Pemerintah Jangan Abaikan yang Konvensional!</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/08/10/320/1753207/fokus-energi-terbarukan-pemerintah-jangan-abaikan-yang-konvensional</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/08/10/320/1753207/fokus-energi-terbarukan-pemerintah-jangan-abaikan-yang-konvensional</guid><pubDate>Kamis 10 Agustus 2017 12:19 WIB</pubDate><dc:creator>Trio Hamdani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/10/320/1753207/fokus-energi-terbarukan-pemerintah-jangan-abaikan-yang-konvensional-zlilguizY6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Trio/Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/10/320/1753207/fokus-energi-terbarukan-pemerintah-jangan-abaikan-yang-konvensional-zlilguizY6.jpg</image><title>Foto: Trio/Okezone</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah mulai memerhatikan peranan energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE). Khawatir nantinya energi berbasis konvensional menjadi dikesampingkan, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan (Gatrik) Andy&amp;nbsp;Sommeng&amp;nbsp;mengingatkan bahwa Indonesia masih cukup membutuhkan jenis konvensional dalam memasok energi.
Tentunya upaya pemerintah dalam mengoptimalkan EBTKE patut diacungi jempol dan didukung sebaik mungkin. Namun, kata dia, pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan dari porsi EBTKE dan energi berbasis konvensional.
&quot;Kita juga harus hati-hati, bahwa RUEN (Rencana Umum Energi Nasional) tahun 2025 ada portofolio energi kita yang mengamanatkan sekian persen untuk batu bara, gas, dan lain sebagainya. Balancing antarportofolio itu harus bagus,&quot; kata dia di kantornya, Jakarta, Kamis (10/8/2017).
Baca Juga:

Hemat Rp500.000/Bulan, Pengunaan&amp;nbsp;Solar Cell&amp;nbsp;Bisa Balik Modal dalam 7 Tahun


 
Penetrasi Energi Terbarukan Tak Penuhi Target, Pemerintah Bakal Lakukan Akselerasi

Dia mengingatkan, kalaupun pemerintah ingin konsen membangun EBTKE, jangan sampai perhatian terhadap energi berbasis konvensional agak terabaikan. Peningkatan rasio EBTKE terhadap yang konvensional harus dilakukan secara perlahan. Sebab, tak bisa dihindarkan, pasokan energi negara mayoritas saat ini masih ditopang yang konvensional.
&quot;Jangan di satu sisi kayak ABG (anak baru gede), terlalu cinta. Misalnya cinta sekali sama EBT, terus melupakan bidang migas (minyak dan gas). Hati-hati, karena dalam portofolio energi kita, 50% masih batu bara. Kalau itu dibenci sampai tidak ada pertumbuhan, apa iya yang lain juga bisa tumbuh,&quot; ujarnya.
Baca Juga:

Pengalaman, Alasan Menteri Jonan Rombak Pejabat KESDM


 
Menteri Jonan Revisi Aturan, KESDM: Kemarin Sedikit Hangat, Sekarang Dingin Kembali

Dia menambahkan, energi listrik merupakan kebutuhan yang posisinya sangat penting. Oleh karenanya, kebijakan yang ditelurkan oleh pemerintah untuk sektor ini harus diperhatikan agar berimbas baik. Tak hanya bagi satu pihak, tapi positif bagi seluruh pihak.
&quot;Memerhatikan amanat dalam Undang-Undang Ketenagalistrikan, maka pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan regulator tentu harus membuat kebijakan dan ketentuan yang baik. Baik bagi pemerintah, baik juga buat masyarakat,&quot; lanjutnya.
&quot;Bahwa di dalam sektor energi ini memang sekarang ini terutama di ketenagalistrikan, itu sudah vital. Jadi suatu hal yang tidak bisa tergantikan. Dalam sektor energi itu dikenal dengan 4A, yaitu availability, accessibility, affordability, acceptability,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah mulai memerhatikan peranan energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE). Khawatir nantinya energi berbasis konvensional menjadi dikesampingkan, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan (Gatrik) Andy&amp;nbsp;Sommeng&amp;nbsp;mengingatkan bahwa Indonesia masih cukup membutuhkan jenis konvensional dalam memasok energi.
Tentunya upaya pemerintah dalam mengoptimalkan EBTKE patut diacungi jempol dan didukung sebaik mungkin. Namun, kata dia, pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan dari porsi EBTKE dan energi berbasis konvensional.
&quot;Kita juga harus hati-hati, bahwa RUEN (Rencana Umum Energi Nasional) tahun 2025 ada portofolio energi kita yang mengamanatkan sekian persen untuk batu bara, gas, dan lain sebagainya. Balancing antarportofolio itu harus bagus,&quot; kata dia di kantornya, Jakarta, Kamis (10/8/2017).
Baca Juga:

Hemat Rp500.000/Bulan, Pengunaan&amp;nbsp;Solar Cell&amp;nbsp;Bisa Balik Modal dalam 7 Tahun


 
Penetrasi Energi Terbarukan Tak Penuhi Target, Pemerintah Bakal Lakukan Akselerasi

Dia mengingatkan, kalaupun pemerintah ingin konsen membangun EBTKE, jangan sampai perhatian terhadap energi berbasis konvensional agak terabaikan. Peningkatan rasio EBTKE terhadap yang konvensional harus dilakukan secara perlahan. Sebab, tak bisa dihindarkan, pasokan energi negara mayoritas saat ini masih ditopang yang konvensional.
&quot;Jangan di satu sisi kayak ABG (anak baru gede), terlalu cinta. Misalnya cinta sekali sama EBT, terus melupakan bidang migas (minyak dan gas). Hati-hati, karena dalam portofolio energi kita, 50% masih batu bara. Kalau itu dibenci sampai tidak ada pertumbuhan, apa iya yang lain juga bisa tumbuh,&quot; ujarnya.
Baca Juga:

Pengalaman, Alasan Menteri Jonan Rombak Pejabat KESDM


 
Menteri Jonan Revisi Aturan, KESDM: Kemarin Sedikit Hangat, Sekarang Dingin Kembali

Dia menambahkan, energi listrik merupakan kebutuhan yang posisinya sangat penting. Oleh karenanya, kebijakan yang ditelurkan oleh pemerintah untuk sektor ini harus diperhatikan agar berimbas baik. Tak hanya bagi satu pihak, tapi positif bagi seluruh pihak.
&quot;Memerhatikan amanat dalam Undang-Undang Ketenagalistrikan, maka pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan regulator tentu harus membuat kebijakan dan ketentuan yang baik. Baik bagi pemerintah, baik juga buat masyarakat,&quot; lanjutnya.
&quot;Bahwa di dalam sektor energi ini memang sekarang ini terutama di ketenagalistrikan, itu sudah vital. Jadi suatu hal yang tidak bisa tergantikan. Dalam sektor energi itu dikenal dengan 4A, yaitu availability, accessibility, affordability, acceptability,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
