<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Di Tengah Pelemahan Daya Beli, Orang Pilih Pulsa atau Rokok?</title><description>Di tengah situasi yang demikian maka masyarakat akan lebih selektif untuk menggunakan uang yang mereka miliki.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/08/14/20/1755734/di-tengah-pelemahan-daya-beli-orang-pilih-pulsa-atau-rokok</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/08/14/20/1755734/di-tengah-pelemahan-daya-beli-orang-pilih-pulsa-atau-rokok"/><item><title>Di Tengah Pelemahan Daya Beli, Orang Pilih Pulsa atau Rokok?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/08/14/20/1755734/di-tengah-pelemahan-daya-beli-orang-pilih-pulsa-atau-rokok</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/08/14/20/1755734/di-tengah-pelemahan-daya-beli-orang-pilih-pulsa-atau-rokok</guid><pubDate>Senin 14 Agustus 2017 16:54 WIB</pubDate><dc:creator>Trio Hamdani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/14/20/1755734/di-tengah-pelemahan-daya-beli-orang-pilih-pulsa-atau-rokok-58i7yID55R.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/14/20/1755734/di-tengah-pelemahan-daya-beli-orang-pilih-pulsa-atau-rokok-58i7yID55R.jpg</image><title>Foto: Okezone</title></images><description>JAKARTA - Pelemahan daya beli belakangan ini menghantui Indonesia. Diyakini, di tengah situasi yang demikian maka masyarakat akan lebih selektif untuk menggunakan uang yang mereka miliki.  Direktur Utama dan CEO XL Axiata Dian Siswarini, dengan percaya diri mengatakan bahwa masyarakat lebih bergantung terhadap pulsa ketimbang rokok. Maka dia percaya di tengah daya beli yang melemah orang akan lebih memilih mengalokasikan dananya untuk membeli pulsa ketimbang rokok. Padahal banyak pula yang bergantung dengan rokok dan rela tidak makan untuk itu.  &quot;Jadi sebetulnya yang terjadi perang wallet share. Kan masyarakat ini punya uang di dompetnya. Sekarang telekomunikasi kompetisi sama rokok. Kalau industri rokok bilang sekarang (posisi) kita diambil. Kalau dulu orang punya Rp5.000 dia buat beli satu batang rokok, sekarang Rp5.000 untuk top up (pulsa),&quot; katanya ketika bersambang ke Kantor Redaksi Okezone.com di Gedung MNC News Center, Jakarta, Senin (14/8/2017).
Baca Juga:

Menakar Penjualan Kendaraan Bermotor di Tengah Isu Daya Beli RI


 
Dirut BEI: Selama Pertumbuhan Ekonomi Lebih Besar dari Inflasi, Tidak Ada Penurunan Daya Beli

Dengan demikian dirinya meyakini, meski daya beli masyarakat melemah namun industri telekomunikasi masih mampu mempertahankan pangsa pasarnya. Namun strategi yang tepat juga harus diperhitungkan.  &quot;Jadi kalau menurut kami kiatnya supaya kita punya wallet share yang lebih banyak itu dengan loyalty, supaya mereka (konsumen) merasa bahwa dengan operator, yang mereka dapat lebih banyak. Kalau dulu loyalti orang kalau beli internet dapat internet, beli pulsa dapat pulsa. Jadi sekarang ingin lebih lebar,&quot; terangnya.
Baca Juga:

Meski Menurun, Nominal Konsumsi Rumah Tangga Naik Jadi Rp5,07 Juta per Kapita


 
Soal Penurunan Daya Beli, Dirut XL: Di Industri Telekomunikasi Belum Terlihat

Pihaknya, kata dia, kini pun telah merambah ke e-money. Selain itu pihaknya juga menawarkan keuntungan tambahan bagi konsumennya untuk mempertahankan mereka. &quot;Kalau beli kuota jangan takut hangus, Anda bisa trade itu dengan yang lain. Kita ada extra deal, dengan kuota bisa dipakai untuk beli yang lain,&quot; paparnya.  Diperkirakan strategi tersebut cukup ampuh untuk membuat pengguna provider miliknya agar tidak berpindah ke lain hati.</description><content:encoded>JAKARTA - Pelemahan daya beli belakangan ini menghantui Indonesia. Diyakini, di tengah situasi yang demikian maka masyarakat akan lebih selektif untuk menggunakan uang yang mereka miliki.  Direktur Utama dan CEO XL Axiata Dian Siswarini, dengan percaya diri mengatakan bahwa masyarakat lebih bergantung terhadap pulsa ketimbang rokok. Maka dia percaya di tengah daya beli yang melemah orang akan lebih memilih mengalokasikan dananya untuk membeli pulsa ketimbang rokok. Padahal banyak pula yang bergantung dengan rokok dan rela tidak makan untuk itu.  &quot;Jadi sebetulnya yang terjadi perang wallet share. Kan masyarakat ini punya uang di dompetnya. Sekarang telekomunikasi kompetisi sama rokok. Kalau industri rokok bilang sekarang (posisi) kita diambil. Kalau dulu orang punya Rp5.000 dia buat beli satu batang rokok, sekarang Rp5.000 untuk top up (pulsa),&quot; katanya ketika bersambang ke Kantor Redaksi Okezone.com di Gedung MNC News Center, Jakarta, Senin (14/8/2017).
Baca Juga:

Menakar Penjualan Kendaraan Bermotor di Tengah Isu Daya Beli RI


 
Dirut BEI: Selama Pertumbuhan Ekonomi Lebih Besar dari Inflasi, Tidak Ada Penurunan Daya Beli

Dengan demikian dirinya meyakini, meski daya beli masyarakat melemah namun industri telekomunikasi masih mampu mempertahankan pangsa pasarnya. Namun strategi yang tepat juga harus diperhitungkan.  &quot;Jadi kalau menurut kami kiatnya supaya kita punya wallet share yang lebih banyak itu dengan loyalty, supaya mereka (konsumen) merasa bahwa dengan operator, yang mereka dapat lebih banyak. Kalau dulu loyalti orang kalau beli internet dapat internet, beli pulsa dapat pulsa. Jadi sekarang ingin lebih lebar,&quot; terangnya.
Baca Juga:

Meski Menurun, Nominal Konsumsi Rumah Tangga Naik Jadi Rp5,07 Juta per Kapita


 
Soal Penurunan Daya Beli, Dirut XL: Di Industri Telekomunikasi Belum Terlihat

Pihaknya, kata dia, kini pun telah merambah ke e-money. Selain itu pihaknya juga menawarkan keuntungan tambahan bagi konsumennya untuk mempertahankan mereka. &quot;Kalau beli kuota jangan takut hangus, Anda bisa trade itu dengan yang lain. Kita ada extra deal, dengan kuota bisa dipakai untuk beli yang lain,&quot; paparnya.  Diperkirakan strategi tersebut cukup ampuh untuk membuat pengguna provider miliknya agar tidak berpindah ke lain hati.</content:encoded></item></channel></rss>
