<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jumlah Pengangguran Tinggi Membuat Rendah Produktivitas, Ini Buktinya!</title><description>Data Badan Pusat Statistik memproyeksikan bahwa pada 2019, kelompok usia  produktif akan mencapai besaran 67% dari total populasi penduduk.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/08/29/320/1765405/jumlah-pengangguran-tinggi-membuat-rendah-produktivitas-ini-buktinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/08/29/320/1765405/jumlah-pengangguran-tinggi-membuat-rendah-produktivitas-ini-buktinya"/><item><title>Jumlah Pengangguran Tinggi Membuat Rendah Produktivitas, Ini Buktinya!</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/08/29/320/1765405/jumlah-pengangguran-tinggi-membuat-rendah-produktivitas-ini-buktinya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/08/29/320/1765405/jumlah-pengangguran-tinggi-membuat-rendah-produktivitas-ini-buktinya</guid><pubDate>Selasa 29 Agustus 2017 15:25 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/29/320/1765405/jumlah-pengangguran-tinggi-membuat-rendah-produktivitas-ini-buktinya-ZnGqhPWXic.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/29/320/1765405/jumlah-pengangguran-tinggi-membuat-rendah-produktivitas-ini-buktinya-ZnGqhPWXic.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Data Badan Pusat Statistik memproyeksikan bahwa pada 2019, kelompok usia produktif akan mencapai besaran 67% dari total populasi penduduk dan sebanyak 45% dari 67% tersebut berusia antara 15-34 tahun.

Namun, setelah 2030, angka ketergantungan mulai mengalami peningkatan karena jumlah penduduk usia tua (65 tahun ke atas) meningkat. Hingga pada 2045, Indonesia sudah menjadi aging society dengan perkiraan penduduk tua mencapai 12,45% dari total penduduk.
Baca Juga: BPS: Jumlah Pengangguran Turun 20 Ribu Jadi 7,01 Juta Orang
Saat ini, pemanfaatan pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif masih belum optimal. Salah satunya terlihat dari Angka Partisipasi Kerja 2015 yang tercatat masih sekitar 66% dengan kenaikan yang relatif lambat.

&quot;Rendahnya angka tersebut menunjukkan masih tingginya jumlah pengangguran yang berdampak pada rendahnya tingkat produktivitas,&quot; ujar Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Selasa (29/8/2017).
Baca Juga: Jokowi Singgung Pengangguran di Jawa Barat, Begini Reaksi Aher
Perubahan struktur penduduk, kata dia, merupakan peluang untuk memanfaatkan produktivitas penduduk usia produktif agar mendorong pertumbuhan ekonomi negara.

&quot;Namun, bonus demografi dapat menjadi bencana demografi jika sumber daya manusia tidak memiliki kualitas baik yang ditandai dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah. Untuk itu, Indonesia perlu mempertimbangkan kebijakan guna mengoptimalkan perubahan struktur penduduk tersebut,&quot; ujar Bambang dalam Seminar Nasional Demografi bertema &quot;Pemanfaatan Demografi Indonesia di Sektor Kepariwisataan, Kebaharian, dan Ekonomi Kreatif&quot; di Jakarta.

Bambang menuturkan, cepatnya perubahan demografi di Tanah Air akan membawa Indonesia pada kondisi 'windows of opportunity', di mana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) terus meningkat dan mencapai puncak pada sekitar tahun 2030.

Dalam periode tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara dengan angkatan kerja terbanyak di Asia. Peningkatan jumlah penduduk usia produktif merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi akibat adanya konsumsi yang tinggi, peningkatan investasi, produktivitas, dan penurunan angka ketergantungan. Kondisi tersebut sudah dikenal masyarakat dengan istilah bonus demografi.</description><content:encoded>JAKARTA - Data Badan Pusat Statistik memproyeksikan bahwa pada 2019, kelompok usia produktif akan mencapai besaran 67% dari total populasi penduduk dan sebanyak 45% dari 67% tersebut berusia antara 15-34 tahun.

Namun, setelah 2030, angka ketergantungan mulai mengalami peningkatan karena jumlah penduduk usia tua (65 tahun ke atas) meningkat. Hingga pada 2045, Indonesia sudah menjadi aging society dengan perkiraan penduduk tua mencapai 12,45% dari total penduduk.
Baca Juga: BPS: Jumlah Pengangguran Turun 20 Ribu Jadi 7,01 Juta Orang
Saat ini, pemanfaatan pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif masih belum optimal. Salah satunya terlihat dari Angka Partisipasi Kerja 2015 yang tercatat masih sekitar 66% dengan kenaikan yang relatif lambat.

&quot;Rendahnya angka tersebut menunjukkan masih tingginya jumlah pengangguran yang berdampak pada rendahnya tingkat produktivitas,&quot; ujar Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Selasa (29/8/2017).
Baca Juga: Jokowi Singgung Pengangguran di Jawa Barat, Begini Reaksi Aher
Perubahan struktur penduduk, kata dia, merupakan peluang untuk memanfaatkan produktivitas penduduk usia produktif agar mendorong pertumbuhan ekonomi negara.

&quot;Namun, bonus demografi dapat menjadi bencana demografi jika sumber daya manusia tidak memiliki kualitas baik yang ditandai dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah. Untuk itu, Indonesia perlu mempertimbangkan kebijakan guna mengoptimalkan perubahan struktur penduduk tersebut,&quot; ujar Bambang dalam Seminar Nasional Demografi bertema &quot;Pemanfaatan Demografi Indonesia di Sektor Kepariwisataan, Kebaharian, dan Ekonomi Kreatif&quot; di Jakarta.

Bambang menuturkan, cepatnya perubahan demografi di Tanah Air akan membawa Indonesia pada kondisi 'windows of opportunity', di mana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) terus meningkat dan mencapai puncak pada sekitar tahun 2030.

Dalam periode tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara dengan angkatan kerja terbanyak di Asia. Peningkatan jumlah penduduk usia produktif merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi akibat adanya konsumsi yang tinggi, peningkatan investasi, produktivitas, dan penurunan angka ketergantungan. Kondisi tersebut sudah dikenal masyarakat dengan istilah bonus demografi.</content:encoded></item></channel></rss>
