<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Ancora Indonesia Masih Bingung Pilih Metode Cari Dana: Obligasi atau Rights Issue?   </title><description>Perseroan pun telah memikirkan beberapa langkah mendalam guna merealisasikan ekspansi ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/08/30/278/1766192/ancora-indonesia-masih-bingung-pilih-metode-cari-dana-obligasi-atau-rights-issue</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/08/30/278/1766192/ancora-indonesia-masih-bingung-pilih-metode-cari-dana-obligasi-atau-rights-issue"/><item><title>   Ancora Indonesia Masih Bingung Pilih Metode Cari Dana: Obligasi atau Rights Issue?   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/08/30/278/1766192/ancora-indonesia-masih-bingung-pilih-metode-cari-dana-obligasi-atau-rights-issue</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/08/30/278/1766192/ancora-indonesia-masih-bingung-pilih-metode-cari-dana-obligasi-atau-rights-issue</guid><pubDate>Rabu 30 Agustus 2017 15:50 WIB</pubDate><dc:creator>Ulfa Arieza</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/30/278/1766192/ancora-indonesia-masih-bingung-pilih-metode-cari-dana-obligasi-atau-rights-issue-LBdVciaCgh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/30/278/1766192/ancora-indonesia-masih-bingung-pilih-metode-cari-dana-obligasi-atau-rights-issue-LBdVciaCgh.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) mulai melirik kilau pertambangan emas dan mineral. Perseroan pun telah memikirkan beberapa langkah mendalam guna merealisasikan ekspansi ini.

&quot;Salah satu pengembangan yang saat ini sedang kami jajaki secara intensif adalah terlibat ke dalam bisnis pertambangan emas dan mineral,&quot; kata Direktur Utama Ancora, Teddy Kusumah Somantri, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu (30/8/2017).

Guna memuluskan rencana tersebut, Ancora Indonesia tengah mengakaji kemungkinan pendanaan dari pasar modal. Ada dua aksi korporasi yang dimungkinkan, yaitu dengan penerbitan surat utang atau right issue.

&quot;Kami belum bisa menentukan, apakah kami akan rights issue atau menerbitkan surat utang. Karena, kami belum mengetahui secara pasti kebutuhan dananya,&quot; jelas Teddy.

Sekadar informasi, sepanjang semester I 2017, perseroan mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 20% (yoy) menjadi USD43,39 juta. Sedangkan dari sisi bottom line, hingga 30 Juni 2017, perseroan masih mencatatkan kerugian sebesar USD5,91 juta.

&quot;Total ekuitas pemegang saham menurun 60%, karena rugi bersih konsolidasi di 2017,&quot; tukas dia.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) mulai melirik kilau pertambangan emas dan mineral. Perseroan pun telah memikirkan beberapa langkah mendalam guna merealisasikan ekspansi ini.

&quot;Salah satu pengembangan yang saat ini sedang kami jajaki secara intensif adalah terlibat ke dalam bisnis pertambangan emas dan mineral,&quot; kata Direktur Utama Ancora, Teddy Kusumah Somantri, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu (30/8/2017).

Guna memuluskan rencana tersebut, Ancora Indonesia tengah mengakaji kemungkinan pendanaan dari pasar modal. Ada dua aksi korporasi yang dimungkinkan, yaitu dengan penerbitan surat utang atau right issue.

&quot;Kami belum bisa menentukan, apakah kami akan rights issue atau menerbitkan surat utang. Karena, kami belum mengetahui secara pasti kebutuhan dananya,&quot; jelas Teddy.

Sekadar informasi, sepanjang semester I 2017, perseroan mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 20% (yoy) menjadi USD43,39 juta. Sedangkan dari sisi bottom line, hingga 30 Juni 2017, perseroan masih mencatatkan kerugian sebesar USD5,91 juta.

&quot;Total ekuitas pemegang saham menurun 60%, karena rugi bersih konsolidasi di 2017,&quot; tukas dia.</content:encoded></item></channel></rss>
