<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Setelah Menanti 72 Tahun, Desa Aek Mata Akhirnya Bisa Nikmati &quot;Manisnya&quot; Listrik</title><description>Selama ini, masyarakat Desa Aek Mata masih mengandalkan mesin diesel dan lampu ceplok sebagai sumber penerang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/10/01/320/1786623/setelah-menanti-72-tahun-desa-aek-mata-akhirnya-bisa-nikmati-manisnya-listrik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/10/01/320/1786623/setelah-menanti-72-tahun-desa-aek-mata-akhirnya-bisa-nikmati-manisnya-listrik"/><item><title>Setelah Menanti 72 Tahun, Desa Aek Mata Akhirnya Bisa Nikmati &quot;Manisnya&quot; Listrik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/10/01/320/1786623/setelah-menanti-72-tahun-desa-aek-mata-akhirnya-bisa-nikmati-manisnya-listrik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/10/01/320/1786623/setelah-menanti-72-tahun-desa-aek-mata-akhirnya-bisa-nikmati-manisnya-listrik</guid><pubDate>Minggu 01 Oktober 2017 20:15 WIB</pubDate><dc:creator>Liansah Rangkuti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/01/320/1786623/setelah-menanti-72-tahun-desa-aek-mata-akhirnya-bisa-nikmati-manisnya-listrik-5z029Mr4rC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: Liansah R/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/01/320/1786623/setelah-menanti-72-tahun-desa-aek-mata-akhirnya-bisa-nikmati-manisnya-listrik-5z029Mr4rC.jpg</image><title>(Foto: Liansah R/Okezone)</title></images><description>SUMATERA UTARA &amp;ndash; Masyarakat Desa Aek Mata, Kecamatan Panyabungan menyambut gembira masuknya jaringan listrik yang dibangun Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara ke desa mereka.
Meskipun letak Desa Aek Mata tidak begitu jauh dari Kota Panyabungan, namun selama ini masyarakat Desa Aek Mata masih mengandalkan mesin diesel dan lampu ceplok sebagai sumber penerang.
Menurut pantauan Okezone, saat ini pihak  PT PLN sedang memasang tiang untuk jaringan listrik ke desa itu.
&amp;ldquo;Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah dan PLN karena saat ini pemasangan tiang sedang berjalan, dan semoga semua proses lancar,&amp;rdquo; tutur Kepala Desa Aek Mata, Andi , Minggu (1/10/2017).

Baca Juga:
 
PLN Teken 53 Perjanjian Jual-Beli Listrik Energi Terbarukan, Ini untuk Pulau Terluar!
 
Wamen ESDM: Energi Baru Terbarukan Itu Keharusan!

Menurut Andi, hal ini perlu proses dan tidak mudah, masyarakat setempat sudah tahu tidak lama lagi jaringan listrik akan menyala di desa mereka
&amp;ldquo;Selama 72 tahun kami tidak memakai dan menikmati penerangan dari PLN, Alhamdulillah saat meski masih proses pemasangan (tiang PLN), kami sudah bersykur,&amp;rdquo; ucapnya.
Sebelumnya Lubis (45), Warga Desa Aek Mata, Kecamatan Panyabungan memohon kepada pihak PLN agar mempercepat pemasangan jaringan listrik di desa mereka.

Baca juga:
Hemat Rp500.000/Bulan, Pengunaan Solar Cell Bisa Balik Modal dalam 7 Tahun 
Beli Listrik Energi Terbarukan 291 Mw, Menteri Jonan: Pendahulu Saya Enggak Ada yang Bisa 

Diakuinya selama 72 tahun masyarakat tinggal di Desa Aek Mata hingga kini aliran listrik belum masuk.  &quot;Memang sekarang sedang pemasangan tiang listrik, mungkin tidak lama lagi kami sebagai masyarakat Aek Mata sudah bisa menikmatinya,&amp;rdquo; Tambahnya
Menurut Lubis, jika sudah teraliri listrik itu maka banyak yang merasakan manfaatkan listrik, Selain dapat membantu anak-anak belajar di malam hari, warga desa pun jauh lebih bisa berhemat dengan adanya listrik.
Sebelumnya, warga Desa Aek Mata hanya bergantung pakai pelita untuk penerangan. Akibatnya, warga harus membeli BBM yang cukup mahal sebagai bahan bakar untuk penerangan itu.
</description><content:encoded>SUMATERA UTARA &amp;ndash; Masyarakat Desa Aek Mata, Kecamatan Panyabungan menyambut gembira masuknya jaringan listrik yang dibangun Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara ke desa mereka.
Meskipun letak Desa Aek Mata tidak begitu jauh dari Kota Panyabungan, namun selama ini masyarakat Desa Aek Mata masih mengandalkan mesin diesel dan lampu ceplok sebagai sumber penerang.
Menurut pantauan Okezone, saat ini pihak  PT PLN sedang memasang tiang untuk jaringan listrik ke desa itu.
&amp;ldquo;Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah dan PLN karena saat ini pemasangan tiang sedang berjalan, dan semoga semua proses lancar,&amp;rdquo; tutur Kepala Desa Aek Mata, Andi , Minggu (1/10/2017).

Baca Juga:
 
PLN Teken 53 Perjanjian Jual-Beli Listrik Energi Terbarukan, Ini untuk Pulau Terluar!
 
Wamen ESDM: Energi Baru Terbarukan Itu Keharusan!

Menurut Andi, hal ini perlu proses dan tidak mudah, masyarakat setempat sudah tahu tidak lama lagi jaringan listrik akan menyala di desa mereka
&amp;ldquo;Selama 72 tahun kami tidak memakai dan menikmati penerangan dari PLN, Alhamdulillah saat meski masih proses pemasangan (tiang PLN), kami sudah bersykur,&amp;rdquo; ucapnya.
Sebelumnya Lubis (45), Warga Desa Aek Mata, Kecamatan Panyabungan memohon kepada pihak PLN agar mempercepat pemasangan jaringan listrik di desa mereka.

Baca juga:
Hemat Rp500.000/Bulan, Pengunaan Solar Cell Bisa Balik Modal dalam 7 Tahun 
Beli Listrik Energi Terbarukan 291 Mw, Menteri Jonan: Pendahulu Saya Enggak Ada yang Bisa 

Diakuinya selama 72 tahun masyarakat tinggal di Desa Aek Mata hingga kini aliran listrik belum masuk.  &quot;Memang sekarang sedang pemasangan tiang listrik, mungkin tidak lama lagi kami sebagai masyarakat Aek Mata sudah bisa menikmatinya,&amp;rdquo; Tambahnya
Menurut Lubis, jika sudah teraliri listrik itu maka banyak yang merasakan manfaatkan listrik, Selain dapat membantu anak-anak belajar di malam hari, warga desa pun jauh lebih bisa berhemat dengan adanya listrik.
Sebelumnya, warga Desa Aek Mata hanya bergantung pakai pelita untuk penerangan. Akibatnya, warga harus membeli BBM yang cukup mahal sebagai bahan bakar untuk penerangan itu.
</content:encoded></item></channel></rss>
