<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>10 Penyebab Perusahaan Bangkrut, Tak Miliki Strategi Jitu hingga Kepercayaan</title><description>Menurut statistik sekira 70% perusahaan mengalami kegagalan dan bangkrut dalam kurun waktu 10 tahun perjalanannya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/10/20/320/1799107/10-penyebab-perusahaan-bangkrut-tak-miliki-strategi-jitu-hingga-kepercayaan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/10/20/320/1799107/10-penyebab-perusahaan-bangkrut-tak-miliki-strategi-jitu-hingga-kepercayaan"/><item><title>10 Penyebab Perusahaan Bangkrut, Tak Miliki Strategi Jitu hingga Kepercayaan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/10/20/320/1799107/10-penyebab-perusahaan-bangkrut-tak-miliki-strategi-jitu-hingga-kepercayaan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/10/20/320/1799107/10-penyebab-perusahaan-bangkrut-tak-miliki-strategi-jitu-hingga-kepercayaan</guid><pubDate>Jum'at 20 Oktober 2017 10:50 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/10/20/320/1799107/10-penyebab-perusahaan-bangkrut-tak-miliki-strategi-jitu-hingga-kepercayaan-NJwQRxuJkF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/10/20/320/1799107/10-penyebab-perusahaan-bangkrut-tak-miliki-strategi-jitu-hingga-kepercayaan-NJwQRxuJkF.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Peluncuran perusahaan dengan berbagai atraksi yang menarik dan suasana yang penuh glamor tidak menjamin bahwa perusahaan akan berkembang sebagaimana diimpikan oleh para pemilik dan pendiri perusahaan.

Menurut statistik sekira 70% perusahaan mengalami kegagalan dan bangkrut dalam kurun waktu 10 tahun perjalanannya. Memang tidak semuanya langsung mengalami bangkrut pada tahun-tahun awal, banyak yang pada awalnya mengalami perkembangan yang menjanjikan, namun dengan berjalannya waktu grafik perusahaan mengalami penurunan dan tidak terbendung sehingga tidak ada jalan lain selain ditutup oleh karena sudah berada diluar batas ke mampuan untuk bertahan.

Namun bukan berarti akhir dari segalanya, karena mereka yang bertahan dan beralih halauan ternyata cukup berhasil dan terus berkembang. Berikut adalah penyebab kegagalan yang dialami perusahaan dalam kurun waktu sepuluh tahun sejak berdirinya, bahkan dalam beberapa tahun awal seperti di sampaikan oleh RI Adams contributorwriter di www.entrepreneur.com.

1. Failure to deliver real value. Akar yang kuat dari perusahaan adalah nilai-nilai yang dimilikinya. Perusahaan yang berhasil dikarenakan berhasil memperlihatkan dengan jelas nilai-nilai yang tinggi, berguna dan bermanfaat. Temukan cara di mana kita dapat memberikan nilai-nilai yang lebih tinggi dari yang dijanjikan (over-deliver), dalam keadaan apapun. Pusatkan upaya kita terhadap proposisi nilai-nilai yang dicari dan diharapkan oleh pelanggan kita. Perusahaan kita harus dikenal sebagai perusahaan yang memberikan nilai-nilai tinggi, lebih dari pesaing dan lebih dari yang diharapkan pelanggan dan konsumen.

2. Failure to connect with the target audience. Gagal menghubungkan diri dengan pelanggan atau pembeli yang berpotensi dan jikapun telah berhubungan tidak dapat membaca kebutuhan dari pelanggan. Siapa saja mereka dan apa yang mereka butuhkan, bagaimana perusahaan kita dapat menolong atau membantu mereka dan mela luinya, bagaimana kita melakukan transaksi dan memperoleh keuntungan bisnis. Bukan saja menemukan jalan keluar atas masalah yang dihadapi oleh pelanggan saat ini namun juga potensi masalah kedepan. Keberhasilan bisnis adalah ketika kita berhasil mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh pelanggan dan menawarkan solusinya.

3. Failure to create an effective sales funnel. Perusahaan tidak mengetahui dan gagal membangun sarana penyaluran produk atau jasa layanan yang diperlukan oleh pelanggan atau konsumen. Mereka tidak mengetahui bagaimana mendapatkan produk kita, sementara perusahaan pesaing dengan mudah diperoleh. Sekalipun dewasa ini pemesanan dapat dengan mudah dilakukan melalui online, namun pada tingkat akhir tetap saja barang yang diserahkan berupa fisik dan ketika tidak sesuai dengan pesanan, pasti akan terjadi dialog dan untuk itu diperlukan kemudahan kemana menghubungi perusahaan dan tidak dipersulit.

4. Lack of authenticity and transparency. Bisnis yang tidak menunjukkan keautentikan dan keterbukaan akan kehilangan pelanggan. Keterbukaan meningkatkan kepercayaan dan bisnis adalah kepercayaan. Tanpa itu tidak mungkin perusahaan dapat berkembang. Kepercayaan nomor satu, produk nomor dua. Kepercayaan adalah sarana keberhasilan.

5. Unable to compete against market leaders. Tidak memiliki dan dapat menonjolkan keunikan dan keunggulan khususnya terhadap market leader. Harga bersaing tidak selalu menjamin keberhasilan jika mutu berada di bawah produk yang ditawarkan pemimpin pasar. Ada pepatah mengatakan mutu tak terlupakan sementara harga dilupakan. Orang mengingat mutu, bukan harga.

6. Inability to control expenses. Mengeluarkan uang mudah, yang sulit  adalah mencari uang. Dan itu lah yang sering terjadi, sementara  perusahaan berjuang keras dalam berkompetisi apalagi dengan pesaing yang  agresif dan memiliki berbagai keunggulan, sebagian orang begitu mu dah  mengeluarkan uang, melakukan pembelanjaan dengan pemikiran nanti akan  kembali dari keuntungan yang diperoleh. Perusahaan harus mengatur  keseimbangan dan justru menempatkan orang-orang yang ke tat da lam  mengontrol sehingga tidak terjadi pemborosan apalagi ma nipulasi.

7. Lack of strategic and effec tive leadership. Tidak atau kurang  memiliki pengalaman, akibatnya meraba-raba. Tidak memiliki strategi yang  jitu untuk mengakomodasi keinginan, misi dan visi dari para pemilik dan  pendiri perusahaan, sehingga antara angan-angan dan kenyataan terdapat  jurang yang jauh. Salah satu solusi adalah dengan menghubungi dan  menyewa para ahli, konsultan dan mentor untuk memberikan bimbingan.

8. Failure to build an employee tribe. Gagal membentuk budaya dan  perasaan kebanggaan sesama karyawan. Mereka tidak merasa bagian dari  perusahaan dan keluarga besar, aki batnya tidak ada loyalitas dan  memberikan apa yang ada pada dirinya sekedarnya, bukan yang terbaik.  Ketika kesempatan tiba langsung hengkang keperusahaan lain, alih-alih  keperusahaan pesaing dengan membawa in formasi dan rahasia perusahaan.  Timbul persaingan yang tidak sehat dan saling menjegal. Perusahaan  menjadi korban.

9. Failure to create the proper business systems. Tidak memiliki  sistem, prosedur dan peraturan, aturan main yang memadai, yang sinkron  dan paralel, sehingga proses sering tersendat dan membuat pembeli kecewa  dengan pelayanan yang serba lamban. Belum lagi arus dan proses  informasi yang tidak lancar. Semua menjadi penghambat dalam kelancaran  kerja. Masing-masing pihak merasa lebih penting dan berkuasa.

10. Failure to optimize conversions. Keinginan untuk melakukan  bisnis, sekalipun ada faktor untung-untungan dan good luck, namun secara  perhitungan di atas kertas harus menunjukkan positif, dengan rasional  yang masuk akal dan tidak berharap dari situasi yang berpihak kepada  perusahaan. Justru faktor-faktor penghambat dan pemotong diperhitungkan  dan apa bila semua telah diperhitungkan dengan skenario terburuk masih  menunjukkan tanda-tanda positif berarti bisnis yang akan dijalani  memberikan harapan.


 
Eliezer H Hardjo
 

 
Ketua Dewan Juri Rekor Bisnis (ReBi) &amp;amp; The Institute of Certified Professional Managers (ICPM)</description><content:encoded>JAKARTA - Peluncuran perusahaan dengan berbagai atraksi yang menarik dan suasana yang penuh glamor tidak menjamin bahwa perusahaan akan berkembang sebagaimana diimpikan oleh para pemilik dan pendiri perusahaan.

Menurut statistik sekira 70% perusahaan mengalami kegagalan dan bangkrut dalam kurun waktu 10 tahun perjalanannya. Memang tidak semuanya langsung mengalami bangkrut pada tahun-tahun awal, banyak yang pada awalnya mengalami perkembangan yang menjanjikan, namun dengan berjalannya waktu grafik perusahaan mengalami penurunan dan tidak terbendung sehingga tidak ada jalan lain selain ditutup oleh karena sudah berada diluar batas ke mampuan untuk bertahan.

Namun bukan berarti akhir dari segalanya, karena mereka yang bertahan dan beralih halauan ternyata cukup berhasil dan terus berkembang. Berikut adalah penyebab kegagalan yang dialami perusahaan dalam kurun waktu sepuluh tahun sejak berdirinya, bahkan dalam beberapa tahun awal seperti di sampaikan oleh RI Adams contributorwriter di www.entrepreneur.com.

1. Failure to deliver real value. Akar yang kuat dari perusahaan adalah nilai-nilai yang dimilikinya. Perusahaan yang berhasil dikarenakan berhasil memperlihatkan dengan jelas nilai-nilai yang tinggi, berguna dan bermanfaat. Temukan cara di mana kita dapat memberikan nilai-nilai yang lebih tinggi dari yang dijanjikan (over-deliver), dalam keadaan apapun. Pusatkan upaya kita terhadap proposisi nilai-nilai yang dicari dan diharapkan oleh pelanggan kita. Perusahaan kita harus dikenal sebagai perusahaan yang memberikan nilai-nilai tinggi, lebih dari pesaing dan lebih dari yang diharapkan pelanggan dan konsumen.

2. Failure to connect with the target audience. Gagal menghubungkan diri dengan pelanggan atau pembeli yang berpotensi dan jikapun telah berhubungan tidak dapat membaca kebutuhan dari pelanggan. Siapa saja mereka dan apa yang mereka butuhkan, bagaimana perusahaan kita dapat menolong atau membantu mereka dan mela luinya, bagaimana kita melakukan transaksi dan memperoleh keuntungan bisnis. Bukan saja menemukan jalan keluar atas masalah yang dihadapi oleh pelanggan saat ini namun juga potensi masalah kedepan. Keberhasilan bisnis adalah ketika kita berhasil mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh pelanggan dan menawarkan solusinya.

3. Failure to create an effective sales funnel. Perusahaan tidak mengetahui dan gagal membangun sarana penyaluran produk atau jasa layanan yang diperlukan oleh pelanggan atau konsumen. Mereka tidak mengetahui bagaimana mendapatkan produk kita, sementara perusahaan pesaing dengan mudah diperoleh. Sekalipun dewasa ini pemesanan dapat dengan mudah dilakukan melalui online, namun pada tingkat akhir tetap saja barang yang diserahkan berupa fisik dan ketika tidak sesuai dengan pesanan, pasti akan terjadi dialog dan untuk itu diperlukan kemudahan kemana menghubungi perusahaan dan tidak dipersulit.

4. Lack of authenticity and transparency. Bisnis yang tidak menunjukkan keautentikan dan keterbukaan akan kehilangan pelanggan. Keterbukaan meningkatkan kepercayaan dan bisnis adalah kepercayaan. Tanpa itu tidak mungkin perusahaan dapat berkembang. Kepercayaan nomor satu, produk nomor dua. Kepercayaan adalah sarana keberhasilan.

5. Unable to compete against market leaders. Tidak memiliki dan dapat menonjolkan keunikan dan keunggulan khususnya terhadap market leader. Harga bersaing tidak selalu menjamin keberhasilan jika mutu berada di bawah produk yang ditawarkan pemimpin pasar. Ada pepatah mengatakan mutu tak terlupakan sementara harga dilupakan. Orang mengingat mutu, bukan harga.

6. Inability to control expenses. Mengeluarkan uang mudah, yang sulit  adalah mencari uang. Dan itu lah yang sering terjadi, sementara  perusahaan berjuang keras dalam berkompetisi apalagi dengan pesaing yang  agresif dan memiliki berbagai keunggulan, sebagian orang begitu mu dah  mengeluarkan uang, melakukan pembelanjaan dengan pemikiran nanti akan  kembali dari keuntungan yang diperoleh. Perusahaan harus mengatur  keseimbangan dan justru menempatkan orang-orang yang ke tat da lam  mengontrol sehingga tidak terjadi pemborosan apalagi ma nipulasi.

7. Lack of strategic and effec tive leadership. Tidak atau kurang  memiliki pengalaman, akibatnya meraba-raba. Tidak memiliki strategi yang  jitu untuk mengakomodasi keinginan, misi dan visi dari para pemilik dan  pendiri perusahaan, sehingga antara angan-angan dan kenyataan terdapat  jurang yang jauh. Salah satu solusi adalah dengan menghubungi dan  menyewa para ahli, konsultan dan mentor untuk memberikan bimbingan.

8. Failure to build an employee tribe. Gagal membentuk budaya dan  perasaan kebanggaan sesama karyawan. Mereka tidak merasa bagian dari  perusahaan dan keluarga besar, aki batnya tidak ada loyalitas dan  memberikan apa yang ada pada dirinya sekedarnya, bukan yang terbaik.  Ketika kesempatan tiba langsung hengkang keperusahaan lain, alih-alih  keperusahaan pesaing dengan membawa in formasi dan rahasia perusahaan.  Timbul persaingan yang tidak sehat dan saling menjegal. Perusahaan  menjadi korban.

9. Failure to create the proper business systems. Tidak memiliki  sistem, prosedur dan peraturan, aturan main yang memadai, yang sinkron  dan paralel, sehingga proses sering tersendat dan membuat pembeli kecewa  dengan pelayanan yang serba lamban. Belum lagi arus dan proses  informasi yang tidak lancar. Semua menjadi penghambat dalam kelancaran  kerja. Masing-masing pihak merasa lebih penting dan berkuasa.

10. Failure to optimize conversions. Keinginan untuk melakukan  bisnis, sekalipun ada faktor untung-untungan dan good luck, namun secara  perhitungan di atas kertas harus menunjukkan positif, dengan rasional  yang masuk akal dan tidak berharap dari situasi yang berpihak kepada  perusahaan. Justru faktor-faktor penghambat dan pemotong diperhitungkan  dan apa bila semua telah diperhitungkan dengan skenario terburuk masih  menunjukkan tanda-tanda positif berarti bisnis yang akan dijalani  memberikan harapan.


 
Eliezer H Hardjo
 

 
Ketua Dewan Juri Rekor Bisnis (ReBi) &amp;amp; The Institute of Certified Professional Managers (ICPM)</content:encoded></item></channel></rss>
