<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Terkuak! Begini Alasan Toko Ritel di RI Berguguran Perlahan-lahan</title><description>Aprindo menyatakan tidak ada  pergeseran toko dari offline ke online yang menyebabkan banyak toko  ritel yang berguguran.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/11/01/320/1806689/terkuak-begini-alasan-toko-ritel-di-ri-berguguran-perlahan-lahan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/11/01/320/1806689/terkuak-begini-alasan-toko-ritel-di-ri-berguguran-perlahan-lahan"/><item><title>Terkuak! Begini Alasan Toko Ritel di RI Berguguran Perlahan-lahan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/11/01/320/1806689/terkuak-begini-alasan-toko-ritel-di-ri-berguguran-perlahan-lahan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/11/01/320/1806689/terkuak-begini-alasan-toko-ritel-di-ri-berguguran-perlahan-lahan</guid><pubDate>Rabu 01 November 2017 19:22 WIB</pubDate><dc:creator>Lidya Julita Sembiring</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/11/01/320/1806689/terkuak-begini-alasan-toko-ritel-di-ri-berguguran-perlahan-lahan-VzSTCpahRC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/11/01/320/1806689/terkuak-begini-alasan-toko-ritel-di-ri-berguguran-perlahan-lahan-VzSTCpahRC.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>BEKASI - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan tidak ada pergeseran toko dari offline ke online yang menyebabkan banyak toko ritel yang berguguran akhir-akhir ini. Yang terjadi adalah perubahan perilaku konsumen lebih memilih untuk liburan dan berbelanja online.

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey menyebutkan, jadi bukan toko ritel yang tutup berpindah ke online tapi perilaku masyarakat yang berubah belanja ke online. Hanya perilaku ini hanya untuk masyarakat kelas menengah dan atas tidak berlaku bagi kelas bawah.

&quot;Tidak ada switch ke online tapi perubahan perilaku konsumen. Perubahan perilaku konsumen ini terjadi untuk yang memiliki uang, sosial economic status B sampai B plus. Itu sebenarnya sudah mulai berpindah pola konsumsinya ketika Indonesia memasuki pendapatan per kapita di atas USD3.000,&quot; ungkapnya di Bekasi, Rabu (1/11/2017).
Baca Juga: Banyak Ritel Berguguran, Perusahaan Pemasok Barang Mengaku Tak Pengaruhi Pasarnya
Menurutnya, saat ini pendapatan per kapita yang sudah hampir menyentuh angka USD3.500 ke USD3.600. Maka pola konsumsi masyarakat yang memiliki pendapatan di atas USD3.000 bahkan sudah hampir menyentuh USD3.500 selalu mengikuti tren dunia untuk gaya hidup sehari-hari.

&quot;Dengan globalisasi saat ini, informasi yang begitu mudah didapat apa yang terjadi di dunia, mereka juga mengikuti lifestyle itu. Jadi apa yang terjadi di dunia sekarang ini, masyarakat suka dengan sosial media, kongkow-kongkow, mereka lebih suka berinteraksi, berkulineran sambil berkenalan atau kopi darart. Ini terjadi juga di masyarakat kita,&quot; jelasnya.

&quot;Ketika masyarakat menengah atas sudah berpendapatan per kapita tinggi, selain mengikuti globalisasi yang terjadi di dunia, mereka mengubah pola belanjanya yang utama, tapi sekarang mereka belanja secukupnya, basket size-nya kecil, tetapi mereka lebih mengutamakan untuk leisure, untuk kesenangan,&quot; imbuhnya.
Baca Juga: Banyak Ritel Tutup, Bos Sogo Departement Store: Ini Strategi Bisnis
Menurutnya, hal ini terbukti dengan masyarakat yang membawa kantong belanja lebih sedikit dibandingan masyarakat yang makan dan minum di restoran di dalam pusat perbelanjaan. Selain itu, setiap ada promo paket liburan juga akan dipenuhi oleh masyarakat.

&quot;Travel fair akan lebih ramai di mana-mana oleh setiap bank yang buat, karena mereka sudah menyiapkan uangnya untuk travel. Dana pihak ketiga dan time deposit oleh BI dilaporkan ada kenaikan 2%-3%. Jadi mereka menabung, menyimpan, kemudian suatu saat mereka keluarkan untuk traveling atau untuk culinary,&quot; tukasnya.
</description><content:encoded>BEKASI - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan tidak ada pergeseran toko dari offline ke online yang menyebabkan banyak toko ritel yang berguguran akhir-akhir ini. Yang terjadi adalah perubahan perilaku konsumen lebih memilih untuk liburan dan berbelanja online.

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey menyebutkan, jadi bukan toko ritel yang tutup berpindah ke online tapi perilaku masyarakat yang berubah belanja ke online. Hanya perilaku ini hanya untuk masyarakat kelas menengah dan atas tidak berlaku bagi kelas bawah.

&quot;Tidak ada switch ke online tapi perubahan perilaku konsumen. Perubahan perilaku konsumen ini terjadi untuk yang memiliki uang, sosial economic status B sampai B plus. Itu sebenarnya sudah mulai berpindah pola konsumsinya ketika Indonesia memasuki pendapatan per kapita di atas USD3.000,&quot; ungkapnya di Bekasi, Rabu (1/11/2017).
Baca Juga: Banyak Ritel Berguguran, Perusahaan Pemasok Barang Mengaku Tak Pengaruhi Pasarnya
Menurutnya, saat ini pendapatan per kapita yang sudah hampir menyentuh angka USD3.500 ke USD3.600. Maka pola konsumsi masyarakat yang memiliki pendapatan di atas USD3.000 bahkan sudah hampir menyentuh USD3.500 selalu mengikuti tren dunia untuk gaya hidup sehari-hari.

&quot;Dengan globalisasi saat ini, informasi yang begitu mudah didapat apa yang terjadi di dunia, mereka juga mengikuti lifestyle itu. Jadi apa yang terjadi di dunia sekarang ini, masyarakat suka dengan sosial media, kongkow-kongkow, mereka lebih suka berinteraksi, berkulineran sambil berkenalan atau kopi darart. Ini terjadi juga di masyarakat kita,&quot; jelasnya.

&quot;Ketika masyarakat menengah atas sudah berpendapatan per kapita tinggi, selain mengikuti globalisasi yang terjadi di dunia, mereka mengubah pola belanjanya yang utama, tapi sekarang mereka belanja secukupnya, basket size-nya kecil, tetapi mereka lebih mengutamakan untuk leisure, untuk kesenangan,&quot; imbuhnya.
Baca Juga: Banyak Ritel Tutup, Bos Sogo Departement Store: Ini Strategi Bisnis
Menurutnya, hal ini terbukti dengan masyarakat yang membawa kantong belanja lebih sedikit dibandingan masyarakat yang makan dan minum di restoran di dalam pusat perbelanjaan. Selain itu, setiap ada promo paket liburan juga akan dipenuhi oleh masyarakat.

&quot;Travel fair akan lebih ramai di mana-mana oleh setiap bank yang buat, karena mereka sudah menyiapkan uangnya untuk travel. Dana pihak ketiga dan time deposit oleh BI dilaporkan ada kenaikan 2%-3%. Jadi mereka menabung, menyimpan, kemudian suatu saat mereka keluarkan untuk traveling atau untuk culinary,&quot; tukasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
