<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dukung Industri Sawit Nasional, Indonesia Siap Lawan Kampanye Hitam</title><description>Pemerintah Indonesia berkomitmen mendukung industri sawit  nasional  dalam menghadapi persaingan dagang dengan minyak nabati global</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/11/04/320/1808391/dukung-industri-sawit-nasional-indonesia-siap-lawan-kampanye-hitam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/11/04/320/1808391/dukung-industri-sawit-nasional-indonesia-siap-lawan-kampanye-hitam"/><item><title>Dukung Industri Sawit Nasional, Indonesia Siap Lawan Kampanye Hitam</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/11/04/320/1808391/dukung-industri-sawit-nasional-indonesia-siap-lawan-kampanye-hitam</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/11/04/320/1808391/dukung-industri-sawit-nasional-indonesia-siap-lawan-kampanye-hitam</guid><pubDate>Sabtu 04 November 2017 13:11 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/11/04/320/1808391/dukung-industri-sawit-nasional-indonesia-siap-lawan-kampanye-hitam-8N3uywNi6F.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/11/04/320/1808391/dukung-industri-sawit-nasional-indonesia-siap-lawan-kampanye-hitam-8N3uywNi6F.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>NUSA DUA &amp;ndash; Pemerintah Indonesia berkomitmen mendukung industri sawit  nasional dalam menghadapi persaingan dagang dengan minyak nabati global.    Sikap tersebut merupakan respons karena selama ini banyak kampanye  negatif dari negara Barat terhadap industri sawit nasional. &amp;ldquo;Eropa  ganggu minyak sawit, kita bisa ganggu bubuk susu mereka, karena itu juga  mengganggu peternak susu sapi kita,&amp;rdquo; kata Menteri Perdagangan (Mendag)  Enggartiasto Lukita di hadapan peserta 13th Indonesian Palm Oil  Conference (IPOC) and 2018 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, kemarin.  Indonesia merupakan salah satu produsen sawit terbesar di dunia di  samping Malaysia.   Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan,  produksi minyak sawit mentah (crude palm oil /CPO) dan turunannya sampai  akhir 2017 bisa mencapai 36,5 juta ton atau meningkat 15,8%  dibandingkan realisasi tahun lalu 31,5 juta ton. Berdasarkan data Gapki,  proyeksi tersebut berasal dari realisasi produksi sepanjang  Januari-Agustus 2017 yang telah mencapai 21 juta ton, atau 66,66% dari  capaian tahun lalu. Berbicara di sela-sela konferensi IPOC, Enggartiasto  meyakini posisi Indonesia sangat kuat dalam perdagangan global.
Baca Juga: Konsep Badan Usaha Milik Rakyat Cocok untuk Kembangkan Industri Sawit, Apa Itu?
Dia bahkan menyangsikan kekuatan Eropa bila menghadapi perlawanan  Indonesia dalam hal perdagangan global. &amp;ldquo;Apa jadinya mereka jika kita  tak ekspor sawit. Kalau kita setop ekspor minyak sawit sebulan saja, apa  jadinya Eropa pada musim dingin? Kalau kita ditekan terus, lebih baik  kita setop,&amp;rdquo; tegasnya. Enggartiasto menambahkan, pembelaan yang  dilakukan pemerintah Indonesia terhadap industri sawit di kancah  internasional memiliki dasar yang kuat.   Menurutnya, industri kelapa sawit Indonesia paling taat aturan, karena  di setiap perkebunan sawit milik perusahaan selalu dilengkapi dengan  peralatan kebakaran. Sawit juga merupakan industri yang melakukan kerja  sama antara inti dan plasma yang paling taat, dibandingkan dengan sektor  industri lain. Di samping itu, sawit juga telah berkembang dari skala  kecil menjadi komoditas paling berkontribusi pada perekonomian  Indonesia.   Atasi Ketimpangan   Di tempat yang sama, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Sri Adiningsih  mengatakan industri kelapa sawit mempunyai peran yang sangat penting  dalam pemerataan pembangunan, terutama untuk mengatasi ketimpangan  pembangunan di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Industri ini juga sejalan  dengan tiga prioritas yang dicanangkan pemerintah dalam menanggulangi  kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan mengatasi ketimpangan  pembangunan. &amp;ldquo;Pemerintah menyadari bahwa mengurangi kemiskinan melalui  pengembangan industri kelapa sawit merupakan strategi pembangunan yang  sangat penting,&amp;rdquo; kata Sri Adiningsih.
Baca Juga: Menko Darmin: Perkebunan Kelapa Sawit Banyak yang Tua!
Pada kesempatan itu, dia menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun  terakhir perekonomian dunia dalam situasi yang tidak terlalu baik.  Banyak masalah terjadi dan harga CPO juga tertekan. Namun demikian, bila  melihat perkembangan perekonomian Indonesia sejak 2012 hingga semester  I/2017, ratarata pertumbuhan industri menunjukkan penurunan dari 6%  menjadi 5%. Yang menarik menurutnya sektor pertanian, kehutanan, dan  perikanan secara bersama-sama mengalami tren yang positif, yaitu  mencapai 5,12% pada semester I/2017, meningkat 3,25% sejak 2016, dan  3,77% untuk tahun 2015.   Di samping itu, tingkat pengangguran terus menurun mencapai 5,33% pada  Februari 2017 dan 7,03 pada akhir 2016. Ini berarti tingkat pengangguran  turun di atas 6% pada tahuntahun sebelumnya. Kontribusi sektor  pertanian sebesar 32,9% untuk penyerapan tenaga kerja, sektor sawit  menunjukkan tren semakin meningkat. Dari 3,4% pada 2012,  naikmencapai4,7% pada 2015dan4,9% pada 2016.
(tro)</description><content:encoded>NUSA DUA &amp;ndash; Pemerintah Indonesia berkomitmen mendukung industri sawit  nasional dalam menghadapi persaingan dagang dengan minyak nabati global.    Sikap tersebut merupakan respons karena selama ini banyak kampanye  negatif dari negara Barat terhadap industri sawit nasional. &amp;ldquo;Eropa  ganggu minyak sawit, kita bisa ganggu bubuk susu mereka, karena itu juga  mengganggu peternak susu sapi kita,&amp;rdquo; kata Menteri Perdagangan (Mendag)  Enggartiasto Lukita di hadapan peserta 13th Indonesian Palm Oil  Conference (IPOC) and 2018 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, kemarin.  Indonesia merupakan salah satu produsen sawit terbesar di dunia di  samping Malaysia.   Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan,  produksi minyak sawit mentah (crude palm oil /CPO) dan turunannya sampai  akhir 2017 bisa mencapai 36,5 juta ton atau meningkat 15,8%  dibandingkan realisasi tahun lalu 31,5 juta ton. Berdasarkan data Gapki,  proyeksi tersebut berasal dari realisasi produksi sepanjang  Januari-Agustus 2017 yang telah mencapai 21 juta ton, atau 66,66% dari  capaian tahun lalu. Berbicara di sela-sela konferensi IPOC, Enggartiasto  meyakini posisi Indonesia sangat kuat dalam perdagangan global.
Baca Juga: Konsep Badan Usaha Milik Rakyat Cocok untuk Kembangkan Industri Sawit, Apa Itu?
Dia bahkan menyangsikan kekuatan Eropa bila menghadapi perlawanan  Indonesia dalam hal perdagangan global. &amp;ldquo;Apa jadinya mereka jika kita  tak ekspor sawit. Kalau kita setop ekspor minyak sawit sebulan saja, apa  jadinya Eropa pada musim dingin? Kalau kita ditekan terus, lebih baik  kita setop,&amp;rdquo; tegasnya. Enggartiasto menambahkan, pembelaan yang  dilakukan pemerintah Indonesia terhadap industri sawit di kancah  internasional memiliki dasar yang kuat.   Menurutnya, industri kelapa sawit Indonesia paling taat aturan, karena  di setiap perkebunan sawit milik perusahaan selalu dilengkapi dengan  peralatan kebakaran. Sawit juga merupakan industri yang melakukan kerja  sama antara inti dan plasma yang paling taat, dibandingkan dengan sektor  industri lain. Di samping itu, sawit juga telah berkembang dari skala  kecil menjadi komoditas paling berkontribusi pada perekonomian  Indonesia.   Atasi Ketimpangan   Di tempat yang sama, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Sri Adiningsih  mengatakan industri kelapa sawit mempunyai peran yang sangat penting  dalam pemerataan pembangunan, terutama untuk mengatasi ketimpangan  pembangunan di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Industri ini juga sejalan  dengan tiga prioritas yang dicanangkan pemerintah dalam menanggulangi  kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan mengatasi ketimpangan  pembangunan. &amp;ldquo;Pemerintah menyadari bahwa mengurangi kemiskinan melalui  pengembangan industri kelapa sawit merupakan strategi pembangunan yang  sangat penting,&amp;rdquo; kata Sri Adiningsih.
Baca Juga: Menko Darmin: Perkebunan Kelapa Sawit Banyak yang Tua!
Pada kesempatan itu, dia menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun  terakhir perekonomian dunia dalam situasi yang tidak terlalu baik.  Banyak masalah terjadi dan harga CPO juga tertekan. Namun demikian, bila  melihat perkembangan perekonomian Indonesia sejak 2012 hingga semester  I/2017, ratarata pertumbuhan industri menunjukkan penurunan dari 6%  menjadi 5%. Yang menarik menurutnya sektor pertanian, kehutanan, dan  perikanan secara bersama-sama mengalami tren yang positif, yaitu  mencapai 5,12% pada semester I/2017, meningkat 3,25% sejak 2016, dan  3,77% untuk tahun 2015.   Di samping itu, tingkat pengangguran terus menurun mencapai 5,33% pada  Februari 2017 dan 7,03 pada akhir 2016. Ini berarti tingkat pengangguran  turun di atas 6% pada tahuntahun sebelumnya. Kontribusi sektor  pertanian sebesar 32,9% untuk penyerapan tenaga kerja, sektor sawit  menunjukkan tren semakin meningkat. Dari 3,4% pada 2012,  naikmencapai4,7% pada 2015dan4,9% pada 2016.
(tro)</content:encoded></item></channel></rss>
