<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Top Up Uang Elektronik Gratis, Indonesia Harusnya Tiru China   </title><description>Dari kurangnya infrastruktur pendukung e-money, hingga benturan di tataran kebijakan lembaga dan kementerian.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/11/15/320/1814494/top-up-uang-elektronik-gratis-indonesia-harusnya-tiru-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/11/15/320/1814494/top-up-uang-elektronik-gratis-indonesia-harusnya-tiru-china"/><item><title>Top Up Uang Elektronik Gratis, Indonesia Harusnya Tiru China   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/11/15/320/1814494/top-up-uang-elektronik-gratis-indonesia-harusnya-tiru-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/11/15/320/1814494/top-up-uang-elektronik-gratis-indonesia-harusnya-tiru-china</guid><pubDate>Rabu 15 November 2017 15:37 WIB</pubDate><dc:creator>Ulfa Arieza</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/11/15/320/1814494/top-up-uang-elektronik-gratis-indonesia-harusnya-tiru-china-kYDoeoOAox.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Uang Elektronik. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/11/15/320/1814494/top-up-uang-elektronik-gratis-indonesia-harusnya-tiru-china-kYDoeoOAox.jpg</image><title>Ilustrasi Uang Elektronik. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kemunculan uang elektronik atau e-money di Indonesia masih menemui banyak kendala. Dari kurangnya infrastruktur pendukung e-money, hingga benturan di tataran kebijakan lembaga dan kementerian.

Contoh penggunaan e-money terbaru adalah penggunaan e-money untuk transaksi pembayaran di gardu tol. Meskipun telah diberlakukan secara nasional, namun penerapannya masih ditemui masalah, seperti kerusakan mesin pembaca e-money di gardu tol.

Ekonom Institute for Economic Development (Indef) Bima Yudistira mengatakan, Indonesia perlu melalukan percepatan pada transformasi digitalisasi keuangan. Pasalnya, beberapa negara sudah mulai memberlakukan pembayaran menggunakan smartphone.

&quot;Saat kita masih saja membahas chip base, padahal orang China sudah menggunakan handphine untuk mengatur biaya belanja,&quot; ujarnya dalam acara indoFintech, di Wisma Antara, Jakarta, Rabu (15/11/2017).

Baca juga:&amp;nbsp;Aman, BI Yakin Uang Elektronik Tak Dipakai untuk Danai Teroris atau Cuci Uang

Bima menilai, e-money yang paling efisien adalah dengan menggunakan aplikasi pada smartphone yang telah diaplikasikan oleh beberapa negara,misalnya China. Selain itu, Bima menyatakan, pemerintah juga harus memberikan berbagai bentuk insentif bagi pengguna e-money, sehingga akan mendorong penggunaan e-money.

Adapun negara yang telah memberikan insentif bagi pengguna e-money adalah Amerika Serikat dan Hong Kong. Salah satu bentuk insentif tersebut adalah memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam pengembalian dana apabila mereka kehilangan e-money.

Menurut Bima, China juga banyak memberlakukan diskon bagi pengguna e-money. &quot;Mereka tidak dikenakan biaya top up alias gratis ketika melakukan isi ulang,&quot; kata Bima.

Baca Juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Hari Pertama 100% Nontunai di Tol, BPJT: Masih Ada yang Bayar Tunai

Tidak hanya itu, e-money juga disubsidi oleh pemerintah, serta adanya sistem transportasi terintgrasi menggunakan e-money. Sehingga penduduknya cukup menggunakan satu e-money untuk berbagai transaksi.</description><content:encoded>JAKARTA - Kemunculan uang elektronik atau e-money di Indonesia masih menemui banyak kendala. Dari kurangnya infrastruktur pendukung e-money, hingga benturan di tataran kebijakan lembaga dan kementerian.

Contoh penggunaan e-money terbaru adalah penggunaan e-money untuk transaksi pembayaran di gardu tol. Meskipun telah diberlakukan secara nasional, namun penerapannya masih ditemui masalah, seperti kerusakan mesin pembaca e-money di gardu tol.

Ekonom Institute for Economic Development (Indef) Bima Yudistira mengatakan, Indonesia perlu melalukan percepatan pada transformasi digitalisasi keuangan. Pasalnya, beberapa negara sudah mulai memberlakukan pembayaran menggunakan smartphone.

&quot;Saat kita masih saja membahas chip base, padahal orang China sudah menggunakan handphine untuk mengatur biaya belanja,&quot; ujarnya dalam acara indoFintech, di Wisma Antara, Jakarta, Rabu (15/11/2017).

Baca juga:&amp;nbsp;Aman, BI Yakin Uang Elektronik Tak Dipakai untuk Danai Teroris atau Cuci Uang

Bima menilai, e-money yang paling efisien adalah dengan menggunakan aplikasi pada smartphone yang telah diaplikasikan oleh beberapa negara,misalnya China. Selain itu, Bima menyatakan, pemerintah juga harus memberikan berbagai bentuk insentif bagi pengguna e-money, sehingga akan mendorong penggunaan e-money.

Adapun negara yang telah memberikan insentif bagi pengguna e-money adalah Amerika Serikat dan Hong Kong. Salah satu bentuk insentif tersebut adalah memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam pengembalian dana apabila mereka kehilangan e-money.

Menurut Bima, China juga banyak memberlakukan diskon bagi pengguna e-money. &quot;Mereka tidak dikenakan biaya top up alias gratis ketika melakukan isi ulang,&quot; kata Bima.

Baca Juga:&amp;nbsp;&amp;nbsp;Hari Pertama 100% Nontunai di Tol, BPJT: Masih Ada yang Bayar Tunai

Tidak hanya itu, e-money juga disubsidi oleh pemerintah, serta adanya sistem transportasi terintgrasi menggunakan e-money. Sehingga penduduknya cukup menggunakan satu e-money untuk berbagai transaksi.</content:encoded></item></channel></rss>
