<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Banggakan Peran Indonesia Kurangi Kemiskinan Global</title><description>Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi salah satu pembicara dalam acara bertajuk Building The Middle Class.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/04/320/1824695/sri-mulyani-banggakan-peran-indonesia-kurangi-kemiskinan-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/12/04/320/1824695/sri-mulyani-banggakan-peran-indonesia-kurangi-kemiskinan-global"/><item><title>Sri Mulyani Banggakan Peran Indonesia Kurangi Kemiskinan Global</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/04/320/1824695/sri-mulyani-banggakan-peran-indonesia-kurangi-kemiskinan-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/12/04/320/1824695/sri-mulyani-banggakan-peran-indonesia-kurangi-kemiskinan-global</guid><pubDate>Senin 04 Desember 2017 11:37 WIB</pubDate><dc:creator>Anisa Anindita</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/04/320/1824695/sri-mulyani-banggakan-peran-indonesia-kurangi-kemiskinan-global-3VCPJIzZ39.png" expression="full" type="image/jpeg">Foto Twitter</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/04/320/1824695/sri-mulyani-banggakan-peran-indonesia-kurangi-kemiskinan-global-3VCPJIzZ39.png</image><title>Foto Twitter</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi salah satu pembicara dalam acara bertajuk Building The Middle Class: Inclusive Growth in East Asia and Indonesia, pagi ini di Soehanna Hall Energy Building SCBD Jakarta.

Acara tersebut merupakan bagian dari Voyage To Indonesia, rangkaian acara menjelang Annual Meetings IMF-World Bank di Bali tahun 2018 mendatang

&amp;ldquo;Indonesia memiliki peran besar dalam mengurangi kemiskinan di dunia. Saat krisis (1998) angka kemiskinan mencapai 24%, saat ini (2017) turun menjadi sekitar 11%,&amp;rdquo; ucap Sri Mulyani, yang dikutip dari akun twitter @KemenkeuRI, Senin (4/12/2017).
&amp;nbsp;Baca Juga: Sri Mulyani Minta Kemendikbud Harus Tetapkan Mana Guru Berkualitas, Mana yang Tidak
Dia melanjutkan,  kalangan menengah memegang peranan penting dalam perekonomian karena mereka menciptakan demand, dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

&amp;ldquo;Betapa pentingnya kelas menengah  karena dapat mendorong  pertumbuhan masa depan, membantu mengurangi kemiskinan, dan membuka lapangan kerja,&amp;rdquo; tambah dia.

Selain Menteri Keuangan yang menjadi pembicara, hadir juga Deputi IV Bappenas Pungky Sumadi, Former Minister of Finance M.Charib Basri,  Former Minister of Trade Mari Elka Pangestu, Chief Economist East Asia and Pacific Sudhir Tetty,  World Bank Country Directory Indonesia Rodrigo Chaves, dan Ekonomi Senior Bank Dunia Matthew Wai-Poi.

Sementara itu, menurut World Bank Country Directory Indonesia Rodrigo Chaves, Indonesia mempunyai kisah sukses tentang penduduknya, pasalnya saat 30 tahun lalu penduduk Indonesia dalam keadaan miskin sebesar 70%, sedangkan saat ini di bawah 7%.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jumlah Investasi Sama, Kok Kualitas Pendidikan RI Kalah dari Vietnam?
Namun, Indonesia masih mempunyai beberapa pekerjaan dan tantangan, yaitu apakah Indonesia bisa lolos dari perangkap kelas menengah dan menuju negara maju? Lalu apakah dapat mengatasi ketimpangan?

Rodrigo melanjutkan, kelas menengah memegang peranan penting dalam  pembangunan, antara lain sebagai investor, penghasil lapangan kerja, dan  inovator.

&amp;ldquo;Pasca krisis keuangan Asia tingkat kemiskinan Indonesia turun dari  24% (1998) jadi 11% (2017). Tapi tugas belum usai. Target jangka  menengah: tingkat kemiskinan 7-8% di tahun 2019,&quot; jelasnya.

Meskipun begitu, pada sesi berikutnya diskusi mengenai pertumbuhan  inklusif di negara kawasan oleh Chatib Basri, Mari Pangestu, dan Sudhir  Shetty.

&quot;Pendekatan masing masing negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik  untuk menghindari middle income trap berbeda,&amp;rdquo; kata Mari Elka Pangestu.

Selain mengadakan pendekatan,  lanjut Mari, harus juga mengubah cara  pandang pembangunan dari berbasis sektor per sektor menjadi melihat  ekonomi secara keseluruhan. Misal, pertanian tidak bisa lepas dari  sektor tenaga kerja.

Akan tetapi, menurut Sudhir Setty memberikan cara agar rakyat yang  kurang mampu dapat terlepas dari kemiskinan, yaitu melalui pendidikan.

&quot;Kemiskinan di Malaysia dan Thailand sudah sangat rendah, tetapi  mungkin Indonesia tidak bisa pakai cara yang sama karena kondisi sudah  beda. Mungkin Indonesia bisa andalkan manufaktur dan jasa yang  didukung  infrastruktur dan human capital yg kuat,&amp;rdquo; lanjut M.Chatib Basri.

Kemudian, Ekonomi Senior Bank Dunia Matthew Wai-Poi mempresentasikan  mengenai kelas menengah di Indonesia bahwa sebagai motor penggerak  pertumbuhan karena menyumbang pajak, dan membuat lapangan kerja.  Sebanyak 115 juta orang Indonesia adalah kelompok yang akan menjadi  kelas menengah, mendapat sebutan Aspiring Middle Class.
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi salah satu pembicara dalam acara bertajuk Building The Middle Class: Inclusive Growth in East Asia and Indonesia, pagi ini di Soehanna Hall Energy Building SCBD Jakarta.

Acara tersebut merupakan bagian dari Voyage To Indonesia, rangkaian acara menjelang Annual Meetings IMF-World Bank di Bali tahun 2018 mendatang

&amp;ldquo;Indonesia memiliki peran besar dalam mengurangi kemiskinan di dunia. Saat krisis (1998) angka kemiskinan mencapai 24%, saat ini (2017) turun menjadi sekitar 11%,&amp;rdquo; ucap Sri Mulyani, yang dikutip dari akun twitter @KemenkeuRI, Senin (4/12/2017).
&amp;nbsp;Baca Juga: Sri Mulyani Minta Kemendikbud Harus Tetapkan Mana Guru Berkualitas, Mana yang Tidak
Dia melanjutkan,  kalangan menengah memegang peranan penting dalam perekonomian karena mereka menciptakan demand, dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

&amp;ldquo;Betapa pentingnya kelas menengah  karena dapat mendorong  pertumbuhan masa depan, membantu mengurangi kemiskinan, dan membuka lapangan kerja,&amp;rdquo; tambah dia.

Selain Menteri Keuangan yang menjadi pembicara, hadir juga Deputi IV Bappenas Pungky Sumadi, Former Minister of Finance M.Charib Basri,  Former Minister of Trade Mari Elka Pangestu, Chief Economist East Asia and Pacific Sudhir Tetty,  World Bank Country Directory Indonesia Rodrigo Chaves, dan Ekonomi Senior Bank Dunia Matthew Wai-Poi.

Sementara itu, menurut World Bank Country Directory Indonesia Rodrigo Chaves, Indonesia mempunyai kisah sukses tentang penduduknya, pasalnya saat 30 tahun lalu penduduk Indonesia dalam keadaan miskin sebesar 70%, sedangkan saat ini di bawah 7%.
&amp;nbsp;Baca Juga: Jumlah Investasi Sama, Kok Kualitas Pendidikan RI Kalah dari Vietnam?
Namun, Indonesia masih mempunyai beberapa pekerjaan dan tantangan, yaitu apakah Indonesia bisa lolos dari perangkap kelas menengah dan menuju negara maju? Lalu apakah dapat mengatasi ketimpangan?

Rodrigo melanjutkan, kelas menengah memegang peranan penting dalam  pembangunan, antara lain sebagai investor, penghasil lapangan kerja, dan  inovator.

&amp;ldquo;Pasca krisis keuangan Asia tingkat kemiskinan Indonesia turun dari  24% (1998) jadi 11% (2017). Tapi tugas belum usai. Target jangka  menengah: tingkat kemiskinan 7-8% di tahun 2019,&quot; jelasnya.

Meskipun begitu, pada sesi berikutnya diskusi mengenai pertumbuhan  inklusif di negara kawasan oleh Chatib Basri, Mari Pangestu, dan Sudhir  Shetty.

&quot;Pendekatan masing masing negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik  untuk menghindari middle income trap berbeda,&amp;rdquo; kata Mari Elka Pangestu.

Selain mengadakan pendekatan,  lanjut Mari, harus juga mengubah cara  pandang pembangunan dari berbasis sektor per sektor menjadi melihat  ekonomi secara keseluruhan. Misal, pertanian tidak bisa lepas dari  sektor tenaga kerja.

Akan tetapi, menurut Sudhir Setty memberikan cara agar rakyat yang  kurang mampu dapat terlepas dari kemiskinan, yaitu melalui pendidikan.

&quot;Kemiskinan di Malaysia dan Thailand sudah sangat rendah, tetapi  mungkin Indonesia tidak bisa pakai cara yang sama karena kondisi sudah  beda. Mungkin Indonesia bisa andalkan manufaktur dan jasa yang  didukung  infrastruktur dan human capital yg kuat,&amp;rdquo; lanjut M.Chatib Basri.

Kemudian, Ekonomi Senior Bank Dunia Matthew Wai-Poi mempresentasikan  mengenai kelas menengah di Indonesia bahwa sebagai motor penggerak  pertumbuhan karena menyumbang pajak, dan membuat lapangan kerja.  Sebanyak 115 juta orang Indonesia adalah kelompok yang akan menjadi  kelas menengah, mendapat sebutan Aspiring Middle Class.
</content:encoded></item></channel></rss>
