<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Amerika Klaim Yerusalem Ibu Kota Israel, Bagaimana Kondisi Ekonomi Palestina?</title><description>Konflik yang memanas ini tampaknya menekan Palestina. Lalu, bagaimana  kondisi ekonomi Palestina  sekarang ini?</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/11/20/1828428/amerika-klaim-yerusalem-ibu-kota-israel-bagaimana-kondisi-ekonomi-palestina</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/12/11/20/1828428/amerika-klaim-yerusalem-ibu-kota-israel-bagaimana-kondisi-ekonomi-palestina"/><item><title>Amerika Klaim Yerusalem Ibu Kota Israel, Bagaimana Kondisi Ekonomi Palestina?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/11/20/1828428/amerika-klaim-yerusalem-ibu-kota-israel-bagaimana-kondisi-ekonomi-palestina</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/12/11/20/1828428/amerika-klaim-yerusalem-ibu-kota-israel-bagaimana-kondisi-ekonomi-palestina</guid><pubDate>Senin 11 Desember 2017 12:32 WIB</pubDate><dc:creator>Widi Agustian</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/11/20/1828428/amerika-klaim-yerusalem-ibu-kota-israel-bagaimana-kondisi-ekonomi-palestina-fdu7WfhfOm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/11/20/1828428/amerika-klaim-yerusalem-ibu-kota-israel-bagaimana-kondisi-ekonomi-palestina-fdu7WfhfOm.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Kondisi di Timur Tengah kembali memanas. Hal ini seiring dengan pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Konflik yang memanas ini tampaknya menekan Palestina, negara yang hingga kini masih tertatih-tatih. Lalu, bagaimana  kondisi ekonomi Palestina sekarang ini?
&amp;nbsp;Baca juga: World Bank Ingatkan Israel soal Pembatasan Ekonomi Palestina
Setelah perang Gaza yang berakhir pada 2014, pertumbuhan ekonomi Palestina turun menjadi 0,7% pada kuartal pertama 2017.

Terpuruknya pertumbuhan ekonomi Palestina terjadi akibat dampak dari rekonstruksi pasca-perang dan turunnya konsumsi rumah tangga. Demikian menurut Economic Outlook Palestina yang dirilis World Bank pada October 2017.
&amp;nbsp;Baca juga: Ke Istana, Apa Saja yang Dibahas Presiden World Bank dengan Jokowi?
Pada 2015-2016, Palestina mencatatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 3,4%. Namun, bantuan untuk rekonstruksi yang cair kian sedikit di 2017 menyebabkan perlambatan aktivitas rekonstruksi.

Hal ini diperparah dengan perlambatan konsumsi swasta di Tepi Barat (West Bank) karena ketegangan politik mendorong pertumbuhan PDB mengalami penurunan.

Tak hanya itu, tingkat pengangguran di negara tersebut mencapai 29%, angka ini lumayan tinggi. Sementara itu, angka pengangguran di Gaza mencapai 44%, dua kali lebih tinggi daripada di Tepi Barat. Dengan dari 60% penduduk berusia antara 15 dan 29 tahun di Gaza tidak bekerja.
&amp;nbsp;Baca juga: Bank Tak Bisa Danai Semua Proyek Infrastruktur, RI Bisa Andalkan Kerjasama Swasta
Seiring dengan pembenahan ekonomi yang dilakukan, pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu jangka pendek diproyeksikan mencapai 3%.

Minimnya bantuan dari negara lain dan kemungkinan berlanjutnya konflik menimbulkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi, dan lapangan kerja di Palestina.
</description><content:encoded>JAKARTA - Kondisi di Timur Tengah kembali memanas. Hal ini seiring dengan pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Konflik yang memanas ini tampaknya menekan Palestina, negara yang hingga kini masih tertatih-tatih. Lalu, bagaimana  kondisi ekonomi Palestina sekarang ini?
&amp;nbsp;Baca juga: World Bank Ingatkan Israel soal Pembatasan Ekonomi Palestina
Setelah perang Gaza yang berakhir pada 2014, pertumbuhan ekonomi Palestina turun menjadi 0,7% pada kuartal pertama 2017.

Terpuruknya pertumbuhan ekonomi Palestina terjadi akibat dampak dari rekonstruksi pasca-perang dan turunnya konsumsi rumah tangga. Demikian menurut Economic Outlook Palestina yang dirilis World Bank pada October 2017.
&amp;nbsp;Baca juga: Ke Istana, Apa Saja yang Dibahas Presiden World Bank dengan Jokowi?
Pada 2015-2016, Palestina mencatatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 3,4%. Namun, bantuan untuk rekonstruksi yang cair kian sedikit di 2017 menyebabkan perlambatan aktivitas rekonstruksi.

Hal ini diperparah dengan perlambatan konsumsi swasta di Tepi Barat (West Bank) karena ketegangan politik mendorong pertumbuhan PDB mengalami penurunan.

Tak hanya itu, tingkat pengangguran di negara tersebut mencapai 29%, angka ini lumayan tinggi. Sementara itu, angka pengangguran di Gaza mencapai 44%, dua kali lebih tinggi daripada di Tepi Barat. Dengan dari 60% penduduk berusia antara 15 dan 29 tahun di Gaza tidak bekerja.
&amp;nbsp;Baca juga: Bank Tak Bisa Danai Semua Proyek Infrastruktur, RI Bisa Andalkan Kerjasama Swasta
Seiring dengan pembenahan ekonomi yang dilakukan, pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu jangka pendek diproyeksikan mencapai 3%.

Minimnya bantuan dari negara lain dan kemungkinan berlanjutnya konflik menimbulkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi, dan lapangan kerja di Palestina.
</content:encoded></item></channel></rss>
