<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Profitabilitas Bank Tahun Depan Diprediksi Sulit Meningkat</title><description>Rasio profitabilitas atau keuntungan dari aset bank dinilai sulit meningkat dalam setahun ke depan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/13/320/1829584/profitabilitas-bank-tahun-depan-diprediksi-sulit-meningkat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/12/13/320/1829584/profitabilitas-bank-tahun-depan-diprediksi-sulit-meningkat"/><item><title>Profitabilitas Bank Tahun Depan Diprediksi Sulit Meningkat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/13/320/1829584/profitabilitas-bank-tahun-depan-diprediksi-sulit-meningkat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/12/13/320/1829584/profitabilitas-bank-tahun-depan-diprediksi-sulit-meningkat</guid><pubDate>Rabu 13 Desember 2017 11:34 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/13/320/1829584/profitabilitas-bank-tahun-depan-diprediksi-sulit-meningkat-id8opv8cmx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/13/320/1829584/profitabilitas-bank-tahun-depan-diprediksi-sulit-meningkat-id8opv8cmx.jpg</image><title>(Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Rasio profitabilitas atau keuntungan dari aset bank dinilai sulit meningkat dalam setahun ke depan, karena pendapatan dari marjin bunga yang menurun dan naiknya beban pencadangan modal. Hal tersebut seperti diutarakan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah.

&quot;Ada tiga penyebab sedikitnya, dan hal itu membuat tren rasio profitabilitas sulit bergerak,&quot; kata Halim seusai Sarasehan 100 Ekonom di Jakarta.

Penyebab pertama, lanjut Halim, adalah tren terus menurunnya suku bunga perbankan, baik di global maupun domestik. Turunnya suku bunga pinjaman akan membuat marjin bunga bank menipis. Alhasil pendapatan bank bisa saja turun, jika manajemen bank tidak memutar otak untuk menggali sumber pendapatan lain. &quot;Suku bunga dana di dunia itu masih rendah sehingga untuk menaikkan suku bunga kredit itu tidak akan mudah,&quot; ujarnya.

Sejak Januari 2016 hingga November 2017, suku bunga kredit rata-rata di industri perbankan telah turun 128 basis poin, menurut data Bank Indonesia. Penyebab kedua, ujar Halim, adalah masih adanya potensi kenaikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

Meskipun hingga November 2017, NPL industri perbankan sebesar 2,9 persen atau tergolong di level yang rendah, namun tidak menutup kemungkinan, NPL masih bisa naik karena pemulihan ekonomi domestik yang belum merata, terutama di sektor pertambangan dan penggalian. &quot;Saya lihat bank-bank ini akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit,&quot; ujarnya.

Baca juga:
Pengalaman Krisis Keuangan 1998 Jadi Pelajaran Membangun Kondisi Perbankan
Agus Marto Imbau Masyarakat Miliki Minimal 1 Kartu Berlogo GPN

Penyebab ketiga, kata Halim, adalah beban regulasi untuk penambahan cadangan modal perbankan. Penambahan cadangan modal, kata Halim, akan terjadi dalam waktu dekat untuk memitigasi tekanan eksternal dari pasar keuangan global, yang bisa saja menurunkan kesehatan bank. Tingkat profitablitas bank diukur dari salah satu indikator yakni tingkat keuntungan dari aset (return on assets/ RoA) perbankan dalam tiga tahun terakhir. RoA mengukur kemampuan suatu bank menghasilkan keutungan dari aset yang dimilikinya.

Semakin tinggi RoA berarti rasio profitabilitas bank semakin baik  atau produktivitas asetnya tinggi. Sebagai gambaran, dalam tiga tahun  terakhir, bank beraset besar atau Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV,  meneguk RoA pada Desember 2015 empat persen. Tapi kemudian turun ke  kisaran 2,5-3 persen pada bulan Desember 2016, lalu stagnan di kisaran 3  persen pada September 2017.
Namun begitu, di tahun ini rasio profitabilitas atau return on assets   (RoA) perbankan mulai menunjukan peningkatan. Ini lantaran laba bersih   perbankan meningkat pesat di kinerja kuartal III 2017. Kualitas kredit   yang makin membaik juga mengangkat profitabilitas. Dari tujuh bank  papan  atas, tercatat rata-rata RoA mencapai 2,58% per September 2017.  Angka  ini naik 7 basis poin dibandingkan posisi 2,51% di September  2016. Tujuh  bank ini yakni Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI),  Bank Central  Asia (BCA), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Panin, Bank  Tabungan  Negara (BTN) dan Bank OCBC NISP.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, rasio   profitabilitas bank yang membaik karena penurunan cadangan kerugian   penurunan nilai (CKPN). &quot;Hal ini seiring dengan NPL tahun 2017 lebih   baik dibandingkan 2016,&quot; kata Jahja. Saat ini, BCA memiliki rasio RoA   sebesar 3,83% per September 2017.

Senada, Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta menuturkan, perbaikan   RoA disebabkan karena kenaikan laba bank. &quot;Laba ini didorong kenaikan   pendapatan bunga dan kenaikan fee based income,&quot; terangnya. Selain itu,   proses recovery kredit yang sudah melandai juga menyumbang kenaikan  RoA  perbankan di tahun ini. Bank berlogo 46 ini menargetkan rasio RoA  akan  naik di akhir tahun 2017. Saat ini, posisi RoA BNI sebesar 2,80%  per  September 2017.</description><content:encoded>JAKARTA - Rasio profitabilitas atau keuntungan dari aset bank dinilai sulit meningkat dalam setahun ke depan, karena pendapatan dari marjin bunga yang menurun dan naiknya beban pencadangan modal. Hal tersebut seperti diutarakan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah.

&quot;Ada tiga penyebab sedikitnya, dan hal itu membuat tren rasio profitabilitas sulit bergerak,&quot; kata Halim seusai Sarasehan 100 Ekonom di Jakarta.

Penyebab pertama, lanjut Halim, adalah tren terus menurunnya suku bunga perbankan, baik di global maupun domestik. Turunnya suku bunga pinjaman akan membuat marjin bunga bank menipis. Alhasil pendapatan bank bisa saja turun, jika manajemen bank tidak memutar otak untuk menggali sumber pendapatan lain. &quot;Suku bunga dana di dunia itu masih rendah sehingga untuk menaikkan suku bunga kredit itu tidak akan mudah,&quot; ujarnya.

Sejak Januari 2016 hingga November 2017, suku bunga kredit rata-rata di industri perbankan telah turun 128 basis poin, menurut data Bank Indonesia. Penyebab kedua, ujar Halim, adalah masih adanya potensi kenaikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

Meskipun hingga November 2017, NPL industri perbankan sebesar 2,9 persen atau tergolong di level yang rendah, namun tidak menutup kemungkinan, NPL masih bisa naik karena pemulihan ekonomi domestik yang belum merata, terutama di sektor pertambangan dan penggalian. &quot;Saya lihat bank-bank ini akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit,&quot; ujarnya.

Baca juga:
Pengalaman Krisis Keuangan 1998 Jadi Pelajaran Membangun Kondisi Perbankan
Agus Marto Imbau Masyarakat Miliki Minimal 1 Kartu Berlogo GPN

Penyebab ketiga, kata Halim, adalah beban regulasi untuk penambahan cadangan modal perbankan. Penambahan cadangan modal, kata Halim, akan terjadi dalam waktu dekat untuk memitigasi tekanan eksternal dari pasar keuangan global, yang bisa saja menurunkan kesehatan bank. Tingkat profitablitas bank diukur dari salah satu indikator yakni tingkat keuntungan dari aset (return on assets/ RoA) perbankan dalam tiga tahun terakhir. RoA mengukur kemampuan suatu bank menghasilkan keutungan dari aset yang dimilikinya.

Semakin tinggi RoA berarti rasio profitabilitas bank semakin baik  atau produktivitas asetnya tinggi. Sebagai gambaran, dalam tiga tahun  terakhir, bank beraset besar atau Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV,  meneguk RoA pada Desember 2015 empat persen. Tapi kemudian turun ke  kisaran 2,5-3 persen pada bulan Desember 2016, lalu stagnan di kisaran 3  persen pada September 2017.
Namun begitu, di tahun ini rasio profitabilitas atau return on assets   (RoA) perbankan mulai menunjukan peningkatan. Ini lantaran laba bersih   perbankan meningkat pesat di kinerja kuartal III 2017. Kualitas kredit   yang makin membaik juga mengangkat profitabilitas. Dari tujuh bank  papan  atas, tercatat rata-rata RoA mencapai 2,58% per September 2017.  Angka  ini naik 7 basis poin dibandingkan posisi 2,51% di September  2016. Tujuh  bank ini yakni Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI),  Bank Central  Asia (BCA), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Panin, Bank  Tabungan  Negara (BTN) dan Bank OCBC NISP.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, rasio   profitabilitas bank yang membaik karena penurunan cadangan kerugian   penurunan nilai (CKPN). &quot;Hal ini seiring dengan NPL tahun 2017 lebih   baik dibandingkan 2016,&quot; kata Jahja. Saat ini, BCA memiliki rasio RoA   sebesar 3,83% per September 2017.

Senada, Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta menuturkan, perbaikan   RoA disebabkan karena kenaikan laba bank. &quot;Laba ini didorong kenaikan   pendapatan bunga dan kenaikan fee based income,&quot; terangnya. Selain itu,   proses recovery kredit yang sudah melandai juga menyumbang kenaikan  RoA  perbankan di tahun ini. Bank berlogo 46 ini menargetkan rasio RoA  akan  naik di akhir tahun 2017. Saat ini, posisi RoA BNI sebesar 2,80%  per  September 2017.</content:encoded></item></channel></rss>
