<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sewa Tempat Mahal dan Upah Jadi Alasan Ambruknya Sektor Ritel</title><description>Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan pertumbuhan sektor  ritel di 2017 paling turun dibandingkan sektor usaha lainnya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/15/320/1830970/sewa-tempat-mahal-dan-upah-jadi-alasan-ambruknya-sektor-ritel</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/12/15/320/1830970/sewa-tempat-mahal-dan-upah-jadi-alasan-ambruknya-sektor-ritel"/><item><title>Sewa Tempat Mahal dan Upah Jadi Alasan Ambruknya Sektor Ritel</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/15/320/1830970/sewa-tempat-mahal-dan-upah-jadi-alasan-ambruknya-sektor-ritel</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/12/15/320/1830970/sewa-tempat-mahal-dan-upah-jadi-alasan-ambruknya-sektor-ritel</guid><pubDate>Jum'at 15 Desember 2017 17:27 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/15/320/1830970/sewa-tempat-mahal-dan-upah-jadi-alasan-ambruknya-sektor-ritel-cXb6QguGl7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/15/320/1830970/sewa-tempat-mahal-dan-upah-jadi-alasan-ambruknya-sektor-ritel-cXb6QguGl7.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan pertumbuhan sektor ritel di 2017 paling turun dibandingkan sektor usaha lainnya. Hal ini menjadi bagian evaluasi para pengusaha yang membahas tentang apa yang terjadi 2017 dan prospek 2018.

Ketua DPP Apindo DKI Jakarta Solihin mengatakan, dari evaluasi 2017 ada beberapa sedikit problem menurunnya beberapa bidang usaha contohnya adalah ritel.

&quot;Kita lihat dengan tutupnya beberapa gerai itu jadi perhatian, tapi kita optimis hadapi 2018 agar semua bisa bangkit,&quot; jelasnya di Mercantile Athletic Club, WTC, Jakarta, Jumat (15/12/2017).
&amp;nbsp;Baca Juga: Banyak Ritel Tutup Sepanjang 2017, Pertanda Daya Beli Melemah?
Solihin enggan mengatakan seberapa besar penurunan pertumbuhan ritel. Yang jelas, katanya, pertumbuhan ritel tidak berubah.

&quot;Kalau bicara ritel ada store baru dan lama. Secara umum banyak pengusaha tutup gerai,&quot; ujarnya.
Baca Juga: Jelang Tahun Baru, YLKI: Waspadai Barang Tidak Layak Konsumsi
Dari evaluasi Apindo, pertumbuhan ritel turun karena beberapa faktor di antaranya mahalnya sewa tempat dan pembayaran upah pegawai.

&quot;Penurunan toko offline, tempat semakin mahal. Ini kontribusi terbesar dan upah. Di ritel padat karya upah kontribusi lebih besar,&quot; tukasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan pertumbuhan sektor ritel di 2017 paling turun dibandingkan sektor usaha lainnya. Hal ini menjadi bagian evaluasi para pengusaha yang membahas tentang apa yang terjadi 2017 dan prospek 2018.

Ketua DPP Apindo DKI Jakarta Solihin mengatakan, dari evaluasi 2017 ada beberapa sedikit problem menurunnya beberapa bidang usaha contohnya adalah ritel.

&quot;Kita lihat dengan tutupnya beberapa gerai itu jadi perhatian, tapi kita optimis hadapi 2018 agar semua bisa bangkit,&quot; jelasnya di Mercantile Athletic Club, WTC, Jakarta, Jumat (15/12/2017).
&amp;nbsp;Baca Juga: Banyak Ritel Tutup Sepanjang 2017, Pertanda Daya Beli Melemah?
Solihin enggan mengatakan seberapa besar penurunan pertumbuhan ritel. Yang jelas, katanya, pertumbuhan ritel tidak berubah.

&quot;Kalau bicara ritel ada store baru dan lama. Secara umum banyak pengusaha tutup gerai,&quot; ujarnya.
Baca Juga: Jelang Tahun Baru, YLKI: Waspadai Barang Tidak Layak Konsumsi
Dari evaluasi Apindo, pertumbuhan ritel turun karena beberapa faktor di antaranya mahalnya sewa tempat dan pembayaran upah pegawai.

&quot;Penurunan toko offline, tempat semakin mahal. Ini kontribusi terbesar dan upah. Di ritel padat karya upah kontribusi lebih besar,&quot; tukasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
