<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Alutsista Menantang Dunia, Ini Daftar Negara yang Pakai Kapal Perang Buatan Indonesia</title><description>Kiprah PT PAL Indonesia (Persero) sebagai penyedia alat utama sistem persenjataan (alutsista) matra laut makin berkibar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/17/320/1831682/alutsista-menantang-dunia-ini-daftar-negara-yang-pakai-kapal-perang-buatan-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/12/17/320/1831682/alutsista-menantang-dunia-ini-daftar-negara-yang-pakai-kapal-perang-buatan-indonesia"/><item><title>Alutsista Menantang Dunia, Ini Daftar Negara yang Pakai Kapal Perang Buatan Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/17/320/1831682/alutsista-menantang-dunia-ini-daftar-negara-yang-pakai-kapal-perang-buatan-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/12/17/320/1831682/alutsista-menantang-dunia-ini-daftar-negara-yang-pakai-kapal-perang-buatan-indonesia</guid><pubDate>Minggu 17 Desember 2017 20:32 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/17/320/1831682/alutsista-menantang-dunia-ini-daftar-negara-yang-pakai-kapal-perang-buatan-indonesia-HGumyDZIa1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/17/320/1831682/alutsista-menantang-dunia-ini-daftar-negara-yang-pakai-kapal-perang-buatan-indonesia-HGumyDZIa1.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Kiprah PT PAL Indonesia (Persero) sebagai penyedia alat utama sistem persenjataan (alutsista) matra laut makin berkibar.

Tidak hanya peralatan tempur untuk dalam negeri, produk seperti tanker dan kapal perang keluaran perusahaan milik negara ini juga diminati sejumlah negara di dunia.

Pada awal Mei 2017 lalu PT PAL telah resmi menyerahkan kapal perang jenis strategic sealift vessel (SSV) pesanan Angkatan Laut Pemerintah Filipina.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pasar Alutsista RI Diminati Afrika dan Timur Tengah
Kapal SSV ini merupakan kapal pesanan kedua dari total dua pesanan dari negara tersebut. SSV telah melalui serangkaian uji coba dan pengetesan sebelum diserahkan ke Kementerian Pertahanan Filipina.

Kapal yang memiliki panjang 123 meter dan lebar 21 meter ini diproduksi atas hasil lelang internasional yang diadakan Kementerian Pertahanan Filipina pada 2014 silam yang dilengkapi dengan persenja taan canggih dan pendaratan tiga helikopter ditambah fasilitas hanggar.

Kapal ini sekaligus dapat menampung hingga 621 penumpang dan mampu bertahan di lautan selama 30 hari dengan bobot maksimal 7.200 ton. Kecepatannya mencapai 16 knots dengan mesin pendorong 2 x 2,920 KW serta mampu menampung tank, kendaraan tempur, mobil rumah sakit hingga kapal patroli dan transporter .

Kapal perang ini mampu menjangkau perairan dangkal serta dapat difungsikan sebagai rumah sakit apung dan SAR ketika sedang terjadi bencana. SSV ini merupa kan kapal hasil inovasi dari produksi kapal sebelumnya, yaitu kapal landing platform dock (LPD) yang merupakan alih teknologi dengan Korea.
&amp;nbsp;Baca Juga: Mengerikan! Ekspor Senjata Naik ke Level Tertinggi Sejak Perang Dingin
Kapal jenis ini telah banyak digunakan pada operasi militer dan kemanusiaan tingkat internasional dan telah diakui kemampuannya seperti penyelamatan MV Kudus di Somalia dan pencarian korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501. Pesanan kedua ini dinamai Davao del Sur yang berasal dari nama provinsi kelahiran Presiden Filipina Rodrigo Duterte, sedangkan kapal pertama di na mai Tarlac yang merupakan provinsi kelahiran Presiden Filipina sebelumnya Benigno Simeon Aquino.

Secara umum, penyelesaian kapal bernomor lambung 602 tersebut lebih cepat dari proses pesanan pertama yang membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Kapal pertama telah dilepas pada 8 Mei 2016 oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan telah digunakan untuk operasi militer da lam penanggulangan gang guan keamanan dan ketenteraman di wilayah teritorial Filipina.

Karena merasa puas dengan hasilnya, Filipina sudah berencana menambah daftar pesanan armada kapal perangnya jenis SSV dan kapal cepat rudal (KCR) serta satu SSV hospital ship plus dan dua KCR-60. Tidak hanya Filipina, sejumlah negara juga tertarik untuk membeli kapal perang buatan PT PAL, di antaranya Malaysia, Nigeria, Senegal, Guyana Bissau, dan Gabob.

Tidak hanya menerima pesanan luar negeri, PT PAL Indonesia juga  memproduksi alutsista untuk dalam negeri. Salah satunya untuk TNI  Angkatan Laut (AL) berupa kapal perusak kawal rudal (PKR) KRI I Gusti  Ngurah Rai-332 yang canggih dengan desain stealth atau siluman sehingga  memiliki kemampuan mengelabui sistem radar.

Dalam pembuatan kapal, PT PAL Indonesia menggandeng galangan kapal  asal Belanda, Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS). Proses pembuatan  kapal perang ini dilakukan dengan pembangunan sistem moduler yang  terbagi dalam enam modul. Satu modul di antaranya dikerjakan di Belanda,  sedangkan lima modul lain dikerjakan PT PAL Indonesia.

Direktur Utama (Dirut) PT PAL Indonesia Budiman Saleh mengatakan,  pembangunan kapal PKR dengan program transfer of technology (ToT) ini  menyerap kurang lebih 200 tenaga kerja di PT PAL Indonesia. Tenaga kerja  itu terdiri atas berbagai disiplin keilmuan.

Dari jumlah tersebut, sekitar 75 orang di antaranya dididik  digalangan kapal Damen Schelde- Vlisingen Belanda. Alih teknologi itu  sesuai amanat UU Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan dan  Keputusan KKIP Nomor KEP/12/KKIP/ XII/ 2013 tentang Lead Integrator  Alutsista Matra Laut.

&amp;ldquo;Kapal PKR ini wujud ke bang gaan kepada bangsa untuk memper tahankan kedaulatan bangsa,&amp;rdquo; ujarnya.

Di luar penyediaan alutsista, PT PAL Indonesia juga memperkenalkan  produk inovasi dari pengembangan barge mounted power plant 30 megawatt,  yaitu powership (kapal pembangkit listrik) Indonesia dengan kelas  mermaid dengan kapasitas 36-80 MW yang dikerjakan dengan pola strategic  collaboration dalam pembangunan powership de ngan Karadeniz Holding  (Turki).

Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati menuturkan, PT  PAL Indonesia yang sudah meng eks por peralatan tempur dan kapal perang  merupakan suatu pencapaian yang amat bagus dan bernilai strategis  tinggi. Hal itu, menurut dia, sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo  yang menjadikan negara kita sebagai Poros Maritim Dunia.

Poros Maritim Dunia merupakan visi Pemerintah Indonesia yang banyak  mendapat apresiasi dunia.&amp;ldquo;Visi tersebut bahkan disejajarkan dengan ini  siatif Pemerintah China dengan One Belt One Road,&amp;rdquo; ujar Nuning&amp;mdash;panggilan  akrab Susaningtyas.

Nuning mengatakan, inti dari Poros Maritim Dunia adalah menghubungkan  Samudra Hindia dan Samudra Pasifik sebagai jalur perdagangan laut  internasional. Mengenai daya saing dengan institusi global di bidang  teknologi perkapalan, menurut dia, PT PAL Indonesia harus menjalankan  proses bench marking (tolok ukur) dengan negara-negara produ sen lain  yang telah lebih dulu memiliki produk yang sama dan berkualitas baik.

Tidak lupa harus selalu belajar dan selalu melakukan inovasi agar  tidak ketinggalan zaman dan menghasilkan produk terbaik. &amp;ldquo;Manajemen dan  SDM (sumber daya manusia) PT PAL Indonesia juga harus ditingkatkan  kualitasnya, jangan hanya ber-mindset jago kandang dan malas  berinovasi,&amp;rdquo; tutur Nuning.

Sementara itu ahli militer Laksamana Muda TNI Dr Amarulla Oktavian,  ST, MSc, DESD mengutarakan, kiprah produk PT PAL Indonesia yang semakin  diakui dan dibeli negara lain merupakan sebuah kemajuan teknologi bagi  negara kita.

Kedepannya, lanjut dia, melalui sambungan telepon, perusahaan pelat  merah ini mesti me lakukan proses efisiensi manajemen agar kinerja dan  kualitas produknya tetap tinggi. Proses ef i siensi tersebut meliputi  penyediaan bahan baku yang sesuai de ngan spesifikasi teknis,  memperhitungkan dana pro duksi serta mencari SDM yang lebih terampil  dalam merancang dan membangun kapal modern.

&amp;ldquo;Dengan mengaryakan SDM yang merancang sendiri tanpa bantuan pihak  lain, tentu ini akan menghemat biaya dan lebih murah. Uangnya juga tidak  kemana-mana, masuk ke kantong anak negeri,&amp;rdquo; imbuh Dekan Fakultas  Manajemen Pertahanan (FMP) Universitas Pertahanan (Unhan) ter sebut.

Amarulla mengatakan, SDM Indonesia memang perlu ditingkatkan  kualifikasinya. Di luar negeri misalnya, pekerjaan sederhana seperti  mengelas kapal umumnya berasal dari seorang doktor, beda dengan yang  dipekerjakan di Tanah Air. (Rendra Hanggara)</description><content:encoded>JAKARTA - Kiprah PT PAL Indonesia (Persero) sebagai penyedia alat utama sistem persenjataan (alutsista) matra laut makin berkibar.

Tidak hanya peralatan tempur untuk dalam negeri, produk seperti tanker dan kapal perang keluaran perusahaan milik negara ini juga diminati sejumlah negara di dunia.

Pada awal Mei 2017 lalu PT PAL telah resmi menyerahkan kapal perang jenis strategic sealift vessel (SSV) pesanan Angkatan Laut Pemerintah Filipina.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pasar Alutsista RI Diminati Afrika dan Timur Tengah
Kapal SSV ini merupakan kapal pesanan kedua dari total dua pesanan dari negara tersebut. SSV telah melalui serangkaian uji coba dan pengetesan sebelum diserahkan ke Kementerian Pertahanan Filipina.

Kapal yang memiliki panjang 123 meter dan lebar 21 meter ini diproduksi atas hasil lelang internasional yang diadakan Kementerian Pertahanan Filipina pada 2014 silam yang dilengkapi dengan persenja taan canggih dan pendaratan tiga helikopter ditambah fasilitas hanggar.

Kapal ini sekaligus dapat menampung hingga 621 penumpang dan mampu bertahan di lautan selama 30 hari dengan bobot maksimal 7.200 ton. Kecepatannya mencapai 16 knots dengan mesin pendorong 2 x 2,920 KW serta mampu menampung tank, kendaraan tempur, mobil rumah sakit hingga kapal patroli dan transporter .

Kapal perang ini mampu menjangkau perairan dangkal serta dapat difungsikan sebagai rumah sakit apung dan SAR ketika sedang terjadi bencana. SSV ini merupa kan kapal hasil inovasi dari produksi kapal sebelumnya, yaitu kapal landing platform dock (LPD) yang merupakan alih teknologi dengan Korea.
&amp;nbsp;Baca Juga: Mengerikan! Ekspor Senjata Naik ke Level Tertinggi Sejak Perang Dingin
Kapal jenis ini telah banyak digunakan pada operasi militer dan kemanusiaan tingkat internasional dan telah diakui kemampuannya seperti penyelamatan MV Kudus di Somalia dan pencarian korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501. Pesanan kedua ini dinamai Davao del Sur yang berasal dari nama provinsi kelahiran Presiden Filipina Rodrigo Duterte, sedangkan kapal pertama di na mai Tarlac yang merupakan provinsi kelahiran Presiden Filipina sebelumnya Benigno Simeon Aquino.

Secara umum, penyelesaian kapal bernomor lambung 602 tersebut lebih cepat dari proses pesanan pertama yang membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Kapal pertama telah dilepas pada 8 Mei 2016 oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan telah digunakan untuk operasi militer da lam penanggulangan gang guan keamanan dan ketenteraman di wilayah teritorial Filipina.

Karena merasa puas dengan hasilnya, Filipina sudah berencana menambah daftar pesanan armada kapal perangnya jenis SSV dan kapal cepat rudal (KCR) serta satu SSV hospital ship plus dan dua KCR-60. Tidak hanya Filipina, sejumlah negara juga tertarik untuk membeli kapal perang buatan PT PAL, di antaranya Malaysia, Nigeria, Senegal, Guyana Bissau, dan Gabob.

Tidak hanya menerima pesanan luar negeri, PT PAL Indonesia juga  memproduksi alutsista untuk dalam negeri. Salah satunya untuk TNI  Angkatan Laut (AL) berupa kapal perusak kawal rudal (PKR) KRI I Gusti  Ngurah Rai-332 yang canggih dengan desain stealth atau siluman sehingga  memiliki kemampuan mengelabui sistem radar.

Dalam pembuatan kapal, PT PAL Indonesia menggandeng galangan kapal  asal Belanda, Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS). Proses pembuatan  kapal perang ini dilakukan dengan pembangunan sistem moduler yang  terbagi dalam enam modul. Satu modul di antaranya dikerjakan di Belanda,  sedangkan lima modul lain dikerjakan PT PAL Indonesia.

Direktur Utama (Dirut) PT PAL Indonesia Budiman Saleh mengatakan,  pembangunan kapal PKR dengan program transfer of technology (ToT) ini  menyerap kurang lebih 200 tenaga kerja di PT PAL Indonesia. Tenaga kerja  itu terdiri atas berbagai disiplin keilmuan.

Dari jumlah tersebut, sekitar 75 orang di antaranya dididik  digalangan kapal Damen Schelde- Vlisingen Belanda. Alih teknologi itu  sesuai amanat UU Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan dan  Keputusan KKIP Nomor KEP/12/KKIP/ XII/ 2013 tentang Lead Integrator  Alutsista Matra Laut.

&amp;ldquo;Kapal PKR ini wujud ke bang gaan kepada bangsa untuk memper tahankan kedaulatan bangsa,&amp;rdquo; ujarnya.

Di luar penyediaan alutsista, PT PAL Indonesia juga memperkenalkan  produk inovasi dari pengembangan barge mounted power plant 30 megawatt,  yaitu powership (kapal pembangkit listrik) Indonesia dengan kelas  mermaid dengan kapasitas 36-80 MW yang dikerjakan dengan pola strategic  collaboration dalam pembangunan powership de ngan Karadeniz Holding  (Turki).

Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati menuturkan, PT  PAL Indonesia yang sudah meng eks por peralatan tempur dan kapal perang  merupakan suatu pencapaian yang amat bagus dan bernilai strategis  tinggi. Hal itu, menurut dia, sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo  yang menjadikan negara kita sebagai Poros Maritim Dunia.

Poros Maritim Dunia merupakan visi Pemerintah Indonesia yang banyak  mendapat apresiasi dunia.&amp;ldquo;Visi tersebut bahkan disejajarkan dengan ini  siatif Pemerintah China dengan One Belt One Road,&amp;rdquo; ujar Nuning&amp;mdash;panggilan  akrab Susaningtyas.

Nuning mengatakan, inti dari Poros Maritim Dunia adalah menghubungkan  Samudra Hindia dan Samudra Pasifik sebagai jalur perdagangan laut  internasional. Mengenai daya saing dengan institusi global di bidang  teknologi perkapalan, menurut dia, PT PAL Indonesia harus menjalankan  proses bench marking (tolok ukur) dengan negara-negara produ sen lain  yang telah lebih dulu memiliki produk yang sama dan berkualitas baik.

Tidak lupa harus selalu belajar dan selalu melakukan inovasi agar  tidak ketinggalan zaman dan menghasilkan produk terbaik. &amp;ldquo;Manajemen dan  SDM (sumber daya manusia) PT PAL Indonesia juga harus ditingkatkan  kualitasnya, jangan hanya ber-mindset jago kandang dan malas  berinovasi,&amp;rdquo; tutur Nuning.

Sementara itu ahli militer Laksamana Muda TNI Dr Amarulla Oktavian,  ST, MSc, DESD mengutarakan, kiprah produk PT PAL Indonesia yang semakin  diakui dan dibeli negara lain merupakan sebuah kemajuan teknologi bagi  negara kita.

Kedepannya, lanjut dia, melalui sambungan telepon, perusahaan pelat  merah ini mesti me lakukan proses efisiensi manajemen agar kinerja dan  kualitas produknya tetap tinggi. Proses ef i siensi tersebut meliputi  penyediaan bahan baku yang sesuai de ngan spesifikasi teknis,  memperhitungkan dana pro duksi serta mencari SDM yang lebih terampil  dalam merancang dan membangun kapal modern.

&amp;ldquo;Dengan mengaryakan SDM yang merancang sendiri tanpa bantuan pihak  lain, tentu ini akan menghemat biaya dan lebih murah. Uangnya juga tidak  kemana-mana, masuk ke kantong anak negeri,&amp;rdquo; imbuh Dekan Fakultas  Manajemen Pertahanan (FMP) Universitas Pertahanan (Unhan) ter sebut.

Amarulla mengatakan, SDM Indonesia memang perlu ditingkatkan  kualifikasinya. Di luar negeri misalnya, pekerjaan sederhana seperti  mengelas kapal umumnya berasal dari seorang doktor, beda dengan yang  dipekerjakan di Tanah Air. (Rendra Hanggara)</content:encoded></item></channel></rss>
