<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tumbuh Pesat, Ekonomi Digital Bisa Jadi Salah Satu Pendorong Pertumbuhan</title><description>Perkembangan ekonomi digital yang begitu cepat dinilai dapat menjadi  salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/18/320/1832131/tumbuh-pesat-ekonomi-digital-bisa-jadi-salah-satu-pendorong-pertumbuhan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/12/18/320/1832131/tumbuh-pesat-ekonomi-digital-bisa-jadi-salah-satu-pendorong-pertumbuhan"/><item><title>Tumbuh Pesat, Ekonomi Digital Bisa Jadi Salah Satu Pendorong Pertumbuhan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/18/320/1832131/tumbuh-pesat-ekonomi-digital-bisa-jadi-salah-satu-pendorong-pertumbuhan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/12/18/320/1832131/tumbuh-pesat-ekonomi-digital-bisa-jadi-salah-satu-pendorong-pertumbuhan</guid><pubDate>Senin 18 Desember 2017 14:55 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/18/320/1832131/tumbuh-pesat-ekonomi-digital-bisa-jadi-salah-satu-pendorong-pertumbuhan-w18jp7xgwv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/18/320/1832131/tumbuh-pesat-ekonomi-digital-bisa-jadi-salah-satu-pendorong-pertumbuhan-w18jp7xgwv.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Perkembangan ekonomi digital yang begitu cepat dinilai dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan. Selain itu perkembangan ekonomi digital juga bisa menggenjot angka investasi di Tanah Air.
Tumbuhnya era ekonomi digital yang didukung dengan pertumbuhan kelas menengah akan memberikan dorongan yang lebih kuat lagi bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Penetrasi ekonomi digital dalam lima tahun terakhir ini dinilai berhasil menggenjot sektor perdagangan dan ritel di Indonesia.
Meskipun pertumbuhan perdagangan dan ritel saat ini berada di angka 10,5%, dalam lima tahun terakhir rata-rata pertumbuhan perdagangan dan ritel mencapai angka 12,5% per tahun. Sektor ritel melalui jalur perdagangan elektronik dalam jaringan (e-commerce ) mengalami per tumbuhan yang cukup signifikan.
Baca Juga: 2018 Diprediksi Jadi Tahun Emas untuk Ekonomi Kreatif
Tingkat per tumbuhannya hampir mencapai 30 kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Meski demikian pertumbuhannya masih menumpuk pada kegiatan tertentu. &amp;ldquo;Jadi kalau dilihat dari jenis barang konsumsi, tidak semua barang konsumsi diperdagangkan secara online . Lebih banyak produk tahan lama untuk rumah tangga,&amp;rdquo; ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution belum lama ini.
Penetrasi ekonomi digital menimbulkan perubahan dalam kecenderungan konsumsi masyarakat yang mulai bergerak ke arah kegiatan waktu luang. Untuk itu pemerintah telah menyiapkan beberapa hal dalam menghadapi dinamika industri digital.
Baca Juga: Industri Kreatif Akan Serap 16,7 Juta Tenaga Kerja  Di sisi lain, pemerintah juga masih terus menyelesaikan peralihan dari dominasi ekonomi berbasis sumber daya alam ke manufaktur. Beberapa hal yang telah disiapkan pemerintah di antaranya Paket Kebijakan Ekonomi XIV mengenai per jalanan perdagangan digital untuk memberi kemudahan dan kesempatan bisnis tertentu agar berkembang lebih cepat dalam menghadapi perubahan yang sedang terjadi. Se lain itu pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Per pres) No 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI). Dari sisi infrastruktur, pemerintah tengah menyelesaikan proyek Palapa   Ring yang melibatkan swasta dalam pembangunannya dan akan menjadi   infrastruktur bagi teknologi informasi. Ekonom UOB Indonesia Enrico   Tanuwidjaja menilai ekonomi digital pada tahun depan diperkirakan juga   tetap menjadi salah satu fokus pemerintah untuk mendorong angka   investasi di Tanah Air.Dengan populasi lebih dari 262 juta jiwa pada  2016 yang 15% atau 132,7 juta di antaranya adalah pengguna internet, 40%  atau 106 juta adalah pengguna media sosial, dan 35% atau 92 juta adalah  pengguna telepon seluler aktif, Indonesia telah menjadi sebuah negara  yang memiliki fondasi kuat untuk pertumbuhan ekonomi digital yang  berkelanjutan.   Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara  mengungkapkan, untuk menjadikan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi  digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020 mendatang, dibutuhkan sumber  daya manusia (SDM) yang berkualitas. Untuk itu perguruan tinggi  diharapkan bisa menerapkan mata kuliah ekonomi digital. &amp;ldquo;Jadi kampus  harus bisa mengikuti teknologi saat ini karena ekonomi digital adalah  sebuah keniscayaan, potensinya besar, yaitu pada 2020 e-commerce bisa  mencapai USD130 miliar,&amp;rdquo; paparnya.
Baca Juga: Industri Animasi Kesulitan Cari Pendanaan untuk Kekayaan Hak Intelektual  Selain e-commerce , sektor  ekonomi digital yang akan berkembang pesat pada tahun depan adalah  lembaga keuangan digital atau financial technology (fintech). Gencar nya  perkembangan fintech di Indonesia bisa memberikan efek positif sebagai  salah satu pendorong literasi keuangan di masyarakat. Untuk itu  pemerintah diminta memberikan dukungan berupa insentif kepada fintech  lokal sehingga kehadirannya dapat menyejahterakan masyarakat. Pakar ICT  dan ekonomi kreatif Hasnil Fajri mengatakan, kendala perkembangan  fintech di Indonesia adalah kurangnya akses modal dalam membangun usaha.    Di sisi lain, perusahaan fintech membutuhkan regulasi yang  jelas agar bisa bersaing dengan perusahaan fintech asing. &amp;ldquo;Mereka tidak  membayar pajak, untuk itu dibutuhkan insentif dari pemerintah sehingga  fintech lokal bisa berkembang,&amp;rdquo; kata Hasnil. Seharusnya pemerintah bisa  lebih tegas dengan kehadiran fintech asing di Indonesia. Hal ini telah  diterapkan Pemerintah China sehingga mampu mendorong kemajuan perusahaan  fintech lokal di negara tersebut.</description><content:encoded>JAKARTA - Perkembangan ekonomi digital yang begitu cepat dinilai dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan. Selain itu perkembangan ekonomi digital juga bisa menggenjot angka investasi di Tanah Air.
Tumbuhnya era ekonomi digital yang didukung dengan pertumbuhan kelas menengah akan memberikan dorongan yang lebih kuat lagi bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Penetrasi ekonomi digital dalam lima tahun terakhir ini dinilai berhasil menggenjot sektor perdagangan dan ritel di Indonesia.
Meskipun pertumbuhan perdagangan dan ritel saat ini berada di angka 10,5%, dalam lima tahun terakhir rata-rata pertumbuhan perdagangan dan ritel mencapai angka 12,5% per tahun. Sektor ritel melalui jalur perdagangan elektronik dalam jaringan (e-commerce ) mengalami per tumbuhan yang cukup signifikan.
Baca Juga: 2018 Diprediksi Jadi Tahun Emas untuk Ekonomi Kreatif
Tingkat per tumbuhannya hampir mencapai 30 kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Meski demikian pertumbuhannya masih menumpuk pada kegiatan tertentu. &amp;ldquo;Jadi kalau dilihat dari jenis barang konsumsi, tidak semua barang konsumsi diperdagangkan secara online . Lebih banyak produk tahan lama untuk rumah tangga,&amp;rdquo; ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution belum lama ini.
Penetrasi ekonomi digital menimbulkan perubahan dalam kecenderungan konsumsi masyarakat yang mulai bergerak ke arah kegiatan waktu luang. Untuk itu pemerintah telah menyiapkan beberapa hal dalam menghadapi dinamika industri digital.
Baca Juga: Industri Kreatif Akan Serap 16,7 Juta Tenaga Kerja  Di sisi lain, pemerintah juga masih terus menyelesaikan peralihan dari dominasi ekonomi berbasis sumber daya alam ke manufaktur. Beberapa hal yang telah disiapkan pemerintah di antaranya Paket Kebijakan Ekonomi XIV mengenai per jalanan perdagangan digital untuk memberi kemudahan dan kesempatan bisnis tertentu agar berkembang lebih cepat dalam menghadapi perubahan yang sedang terjadi. Se lain itu pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Per pres) No 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI). Dari sisi infrastruktur, pemerintah tengah menyelesaikan proyek Palapa   Ring yang melibatkan swasta dalam pembangunannya dan akan menjadi   infrastruktur bagi teknologi informasi. Ekonom UOB Indonesia Enrico   Tanuwidjaja menilai ekonomi digital pada tahun depan diperkirakan juga   tetap menjadi salah satu fokus pemerintah untuk mendorong angka   investasi di Tanah Air.Dengan populasi lebih dari 262 juta jiwa pada  2016 yang 15% atau 132,7 juta di antaranya adalah pengguna internet, 40%  atau 106 juta adalah pengguna media sosial, dan 35% atau 92 juta adalah  pengguna telepon seluler aktif, Indonesia telah menjadi sebuah negara  yang memiliki fondasi kuat untuk pertumbuhan ekonomi digital yang  berkelanjutan.   Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara  mengungkapkan, untuk menjadikan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi  digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020 mendatang, dibutuhkan sumber  daya manusia (SDM) yang berkualitas. Untuk itu perguruan tinggi  diharapkan bisa menerapkan mata kuliah ekonomi digital. &amp;ldquo;Jadi kampus  harus bisa mengikuti teknologi saat ini karena ekonomi digital adalah  sebuah keniscayaan, potensinya besar, yaitu pada 2020 e-commerce bisa  mencapai USD130 miliar,&amp;rdquo; paparnya.
Baca Juga: Industri Animasi Kesulitan Cari Pendanaan untuk Kekayaan Hak Intelektual  Selain e-commerce , sektor  ekonomi digital yang akan berkembang pesat pada tahun depan adalah  lembaga keuangan digital atau financial technology (fintech). Gencar nya  perkembangan fintech di Indonesia bisa memberikan efek positif sebagai  salah satu pendorong literasi keuangan di masyarakat. Untuk itu  pemerintah diminta memberikan dukungan berupa insentif kepada fintech  lokal sehingga kehadirannya dapat menyejahterakan masyarakat. Pakar ICT  dan ekonomi kreatif Hasnil Fajri mengatakan, kendala perkembangan  fintech di Indonesia adalah kurangnya akses modal dalam membangun usaha.    Di sisi lain, perusahaan fintech membutuhkan regulasi yang  jelas agar bisa bersaing dengan perusahaan fintech asing. &amp;ldquo;Mereka tidak  membayar pajak, untuk itu dibutuhkan insentif dari pemerintah sehingga  fintech lokal bisa berkembang,&amp;rdquo; kata Hasnil. Seharusnya pemerintah bisa  lebih tegas dengan kehadiran fintech asing di Indonesia. Hal ini telah  diterapkan Pemerintah China sehingga mampu mendorong kemajuan perusahaan  fintech lokal di negara tersebut.</content:encoded></item></channel></rss>
