<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wawancara Menpar Arief Yahya: Tidak Ada Target Industri Pariwisata yang Berubah di 2018</title><description>Tahun 2018 pemerintah menetapkan pariwisata sebagai tiga besar sektor unggulan yang akan dioptimalkan potensinya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/18/320/1832159/wawancara-menpar-arief-yahya-tidak-ada-target-industri-pariwisata-yang-berubah-di-2018</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/12/18/320/1832159/wawancara-menpar-arief-yahya-tidak-ada-target-industri-pariwisata-yang-berubah-di-2018"/><item><title>Wawancara Menpar Arief Yahya: Tidak Ada Target Industri Pariwisata yang Berubah di 2018</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/18/320/1832159/wawancara-menpar-arief-yahya-tidak-ada-target-industri-pariwisata-yang-berubah-di-2018</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/12/18/320/1832159/wawancara-menpar-arief-yahya-tidak-ada-target-industri-pariwisata-yang-berubah-di-2018</guid><pubDate>Senin 18 Desember 2017 15:23 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/18/320/1832159/wawancara-menpar-arief-yahya-tidak-ada-target-industri-pariwisata-yang-berubah-di-2018-SPKrHRKBI3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/18/320/1832159/wawancara-menpar-arief-yahya-tidak-ada-target-industri-pariwisata-yang-berubah-di-2018-SPKrHRKBI3.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Tahun 2018 pemerintah menetapkan pariwisata sebagai tiga besar sektor unggulan yang akan dioptimalkan potensinya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Hal ini menambah keyakinan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya bahwa pariwisata sangat tepat dijadikan core economy Indonesia. Bencana erupsi Gunung Agung di Bali pada pengujung tahun ini memukul industri pariwisata Tanah Air, khususnya Bali sebagai penyumbang terbesar kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).
Imbasnya target kunjungan wisman 2017 diproyeksikan meleset. Namun, hal itu tidak menyurutkan tekad Menpar Arief Yahya untuk mengejar target wisman tahun depan sebanyak 17 juta.   &amp;rdquo;Saya tidak akan mengubah target,&amp;rdquo; tandasnya. Alokasi anggaran pariwisata 2018 yang hanya Rp3,5 triliun juga menjadi tantangan tersendiri. Ka bar baiknya, era digital memungkinkan pemasaran pariwisata menjadi lebih efektif, di samping dukungan semua stakeholder untuk memajukan pariwisata Indonesia. Strategi apa lagi yang akan di jalankan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tahun depan? Berikut petikan wawancara dengan Menpar Arief Yahya di Jakarta, baru-baru ini:   Mengapa Bapak sangat yakin pariwisata bisa menjadi bisnis inti (core economy) dari bang sa ini?   Sebagai satu bangsa, tidak boleh kita sama sekali tidak punya andalan. Saya selalu yakin bahwa bangsa ini akan bisa bersaing di industri berbasis bu daya (cultural industry). Kalau industri lainnya saya tidak percaya, karena kita untuk menjadi besar dan terbaik (di industri selain pariwisata) itu hampir tidak mungkin. Contohnya di era komunikasi dan informasi, teknologinya semua dikuasai perusahaan Amerika Serikat (AS). Nggak mungkin kita bisa ngejar. Kalau di industri budaya, kita berpeluang untuk besar dan menang. Pariwisata dan ekonomi kreatif masuk dalam golongan ini. Selain nilai budaya, ada nilai komersialnya juga. Pariwisata bisa membuktikan itu. Pariwisata akan menjadi penghasil devisa terbesar Indonesia pada 2019.   Berapa proyeksi devisa pariwisata pada tahun mendatang?   Pada 2016 penerimaan devisa wisman mencapai USD13,8 miliar atau sekitar Rp176 triliun-Rp184 triliun. Dalam rencana kerja Kemenpar, devisa pariwisata tahun depan ditargetkan Rp223 triliun dan pada 2019 sekitar Rp275 triliun- Rp280 triliun.   Kenaikan devisa itu apakah karena jumlah wismannya naik ataukah belanja wisman yang juga naik?   Kemenpar itu targetnya bukan hanya jumlah wisman, tapi juga devisa. Jangan khawatir Menparnya ngawur membidik wisman karena saya juga ditarget jumlah devisanya. Jadi, selain jumlah, ki ta juga kejar pendapatan dari devisa. Kita beruntung dua-duanya naik. Jumlah wismannya 2016 itu naik sekitar 15%, dari 10,4 juta menjadi 12 juta. Tapi, rata-rata spending (belanja) wismannya ju ga naik dari USD11.000 menjadi USD12.000 per wisman per kunjungan. Tahun ini ke mungkinan spendingnya tidak naik karena pertumbuhan jumlahnya sangat tinggi, yaitu 24% sampai oktober. Tahun 2019 juga kemungkinan masih USD1.200.Apakah faktor-faktor pendukung yang ada sudah cukup ideal untuk membantu pencapaian target-target di sektor pariwisata?   Dalam Rencana Kerja Pemerintah 2018, presiden telah menetapkan tiga  sektor prioritas yaitu pertanian, pariwisata, perikanan. Untuk  pariwisata, saya berani mengatakan bahwa ini sudah pada track yang  benar. Di pariwisata itu ada pemasaran, destinasi, dan Sumber Daya  Manusia (SDM) atau kelembagaan. Untuk pemasaran, kita harus masuk ke  digital, kalau nggak kita akan kalah. Pasalnya, 70% customer kita sudah  menggunakan digital.   Selanjutnya di pengembangan destinasi,  kita sudah tetapkan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas atau &amp;rdquo;10 Bali  baru&amp;rdquo;. Di situ rumusnya 3A, yaitu atraksi, aksesibilitas, dan amenitas.  Kalau untuk atraksi, kita tidak khawatir karena sumber daya alam dan  budaya kita selalu Top 20 di dunia. Untuk aksesibilitas, kita mendorong  perbaikan infrastruktur, terutama bandara.   Dan kalau mau jadi  destinasi utama kelas dunia, maka bandaranya harus internasional. Kalau  atraksi dan akses bagus, investor dengan sendirinya akan masuk untuk  membangun amenitas atau akomodasi seperti perhotelan. Lalu di bidang  SDM/kelembagaan, SDM harus kita sertifikasi dengan standar global,  minimal regional seperti di ASEAN kita punya Mutual Re cognition  Arrangement (MRA) untuk profesi kepariwisataan. Kita akan menyertifikasi  dari saat ini sekitar 125.000 menjadi 500.000 orang.   Kesiapan masyarakat di destinasi wisata dalam menerima tamu asing terkadang masih menjadi kendala. Bagaimana mengatasinya?   Kita selalu menyiapkan SDM. Kita sepakat orang-orangnya akan kita  lakukan transformasi dengan mengundang para top management atau para  General Manager dari luar. Ini bisa dilakukan secara bertahap, misalnya  kita minta tenaga ahli lulusan Bali dulu selama li ma tahun pertama,  setelah itu dari lokal bisa bench marking. Batam dulu pendekatannya  seperti itu dan berhasil. Untuk destinasi internasional, saya rasa orang  asing pun tidak apa-apa kita undang.   Terkait 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP), tahun depan mana yang akan diprioritaskan?   Dari 10 Destinasi Prioritas (Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Tanjung  Kelayang, Tanjung Lesung, Bromo-Tengger-Semeru, Morotai, Wakatobi,  Kepulauan Seribu, Labuan Bajo) itu kita fokuskan lagi. Melalui rapat  terbatas dengan presiden, kita sepakat akan memfokuskan diri kepada  percepatan empat destinasi yaitu Danau Toba, Labuan Bajo, Borobudur,  Mandalika. Destinasi tersebut juga kita nilai sudah siap 3A-nya.   Pada awal menjadi Menpar, Bapak selalu menekankan tentang strategi BAS  (Branding, Ad vertising, Selling). Apakah ini masih akan di terapkan  pada 2018?   Mengingat anggarannya terbatas, saya terpaksa ambil  langkah pragmatis. Kita akan lebih banyak di selling,advertising-nya  kurang, apa lagi branding. Itu jangka pendeknya akan tercapai, tapi  jangka menengah dan panjangnya sangat buruk karena tidak meninggalkan  brand yang kuat. Jadi, kita bukan marketer yang baik.Apa tantangan terbesar tahun depan?   Saya nggak basa-basi,  anggarannya kurang. Idealnya anggaran kita Rp9  triliun, tapi kita hanya  di beri (Anggaran Pendapatan dan Belanja  Negara) Rp3,7 triliun atau  sekitar 42%-nya. Ini berat dan saya nanti  tidak mewariskan sesuatu itu  yang benar. Bayangkan, nggak ada  branding,maka kita nanti nggak punya  brand yang kuat. Sesuatu yang  ditetapkan sebagai core economy, tapi  alokasi sumber dayanya sedikit  sekali. Padahal, untuk menarik wisman  itu juga ada per hitungannya,  yaitu USD20 per wisman. Tapi, dengan  anggaran yang 42% itu berarti cuma  USD8 per wisman.   Apakah hal itu akan memengaruhi target kunjungan 17 juta wisman pada 2018?   Target tahun depan tetap 17 juta wisman dan 270 juta pergerakan   wisatawan nusantara (wisnus). Saya nggak mau target berubah karena kalau   berubah kita akan semakin jauh tertinggal dari negara lain.  Strateginya  kita perbanyak selling dan lebih banyak menggunakan media  digital.  Pasarnya juga akan lebih diperketat. Selain itu, dua event  besar yaitu  Asian Games dan pertemuan tahunan IMF-World Bank tahun  depan juga akan  kita optimalkan untuk memacu kunjungan wisata. Kita  sudah membuat tujuh  paket yang akan kita jual sesuai dengan destinasi  yang siap di sekitar  dua venue besar Asian Games ya itu Jakarta dan  Palembang. Untuk event  IMF-World Bank di Bali juga kita tawarkan 60  paket wisata di Bali dan  enam destinasi lainnya (Lombok, Komodo,  Yogyakarta, Tana Toraja,  Danau Toba, Banyuwangi). Pro duknya sudah siap  semua, tinggal kita  promosikan.   Berdasarkan Peraturan Presiden No 93/2017, struktur organisasi Kemenpar akan berubah pada 2018. Perubahan apa yang signifikan?   Per 1 Januari 2018 kita akan mulai berubah. Hal yang mendasari   perubahan ini adalah organisasi yang berorientasi pada customernya.   Nantinya satu direktur akan membawahi satu pasar. Contohnya dulu pasar   China, In dia, Australia, Jepang, itu di bawah satu direktur. Nantinya,   masing-masing negara itu di pegang satu direktur. Tapi, untuk yang   perbatasan saya titipi juga kawasan timur Indonesia. Dengan perubahan   struktur ini akan lebih efektif dan efisien.</description><content:encoded>JAKARTA - Tahun 2018 pemerintah menetapkan pariwisata sebagai tiga besar sektor unggulan yang akan dioptimalkan potensinya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Hal ini menambah keyakinan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya bahwa pariwisata sangat tepat dijadikan core economy Indonesia. Bencana erupsi Gunung Agung di Bali pada pengujung tahun ini memukul industri pariwisata Tanah Air, khususnya Bali sebagai penyumbang terbesar kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).
Imbasnya target kunjungan wisman 2017 diproyeksikan meleset. Namun, hal itu tidak menyurutkan tekad Menpar Arief Yahya untuk mengejar target wisman tahun depan sebanyak 17 juta.   &amp;rdquo;Saya tidak akan mengubah target,&amp;rdquo; tandasnya. Alokasi anggaran pariwisata 2018 yang hanya Rp3,5 triliun juga menjadi tantangan tersendiri. Ka bar baiknya, era digital memungkinkan pemasaran pariwisata menjadi lebih efektif, di samping dukungan semua stakeholder untuk memajukan pariwisata Indonesia. Strategi apa lagi yang akan di jalankan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tahun depan? Berikut petikan wawancara dengan Menpar Arief Yahya di Jakarta, baru-baru ini:   Mengapa Bapak sangat yakin pariwisata bisa menjadi bisnis inti (core economy) dari bang sa ini?   Sebagai satu bangsa, tidak boleh kita sama sekali tidak punya andalan. Saya selalu yakin bahwa bangsa ini akan bisa bersaing di industri berbasis bu daya (cultural industry). Kalau industri lainnya saya tidak percaya, karena kita untuk menjadi besar dan terbaik (di industri selain pariwisata) itu hampir tidak mungkin. Contohnya di era komunikasi dan informasi, teknologinya semua dikuasai perusahaan Amerika Serikat (AS). Nggak mungkin kita bisa ngejar. Kalau di industri budaya, kita berpeluang untuk besar dan menang. Pariwisata dan ekonomi kreatif masuk dalam golongan ini. Selain nilai budaya, ada nilai komersialnya juga. Pariwisata bisa membuktikan itu. Pariwisata akan menjadi penghasil devisa terbesar Indonesia pada 2019.   Berapa proyeksi devisa pariwisata pada tahun mendatang?   Pada 2016 penerimaan devisa wisman mencapai USD13,8 miliar atau sekitar Rp176 triliun-Rp184 triliun. Dalam rencana kerja Kemenpar, devisa pariwisata tahun depan ditargetkan Rp223 triliun dan pada 2019 sekitar Rp275 triliun- Rp280 triliun.   Kenaikan devisa itu apakah karena jumlah wismannya naik ataukah belanja wisman yang juga naik?   Kemenpar itu targetnya bukan hanya jumlah wisman, tapi juga devisa. Jangan khawatir Menparnya ngawur membidik wisman karena saya juga ditarget jumlah devisanya. Jadi, selain jumlah, ki ta juga kejar pendapatan dari devisa. Kita beruntung dua-duanya naik. Jumlah wismannya 2016 itu naik sekitar 15%, dari 10,4 juta menjadi 12 juta. Tapi, rata-rata spending (belanja) wismannya ju ga naik dari USD11.000 menjadi USD12.000 per wisman per kunjungan. Tahun ini ke mungkinan spendingnya tidak naik karena pertumbuhan jumlahnya sangat tinggi, yaitu 24% sampai oktober. Tahun 2019 juga kemungkinan masih USD1.200.Apakah faktor-faktor pendukung yang ada sudah cukup ideal untuk membantu pencapaian target-target di sektor pariwisata?   Dalam Rencana Kerja Pemerintah 2018, presiden telah menetapkan tiga  sektor prioritas yaitu pertanian, pariwisata, perikanan. Untuk  pariwisata, saya berani mengatakan bahwa ini sudah pada track yang  benar. Di pariwisata itu ada pemasaran, destinasi, dan Sumber Daya  Manusia (SDM) atau kelembagaan. Untuk pemasaran, kita harus masuk ke  digital, kalau nggak kita akan kalah. Pasalnya, 70% customer kita sudah  menggunakan digital.   Selanjutnya di pengembangan destinasi,  kita sudah tetapkan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas atau &amp;rdquo;10 Bali  baru&amp;rdquo;. Di situ rumusnya 3A, yaitu atraksi, aksesibilitas, dan amenitas.  Kalau untuk atraksi, kita tidak khawatir karena sumber daya alam dan  budaya kita selalu Top 20 di dunia. Untuk aksesibilitas, kita mendorong  perbaikan infrastruktur, terutama bandara.   Dan kalau mau jadi  destinasi utama kelas dunia, maka bandaranya harus internasional. Kalau  atraksi dan akses bagus, investor dengan sendirinya akan masuk untuk  membangun amenitas atau akomodasi seperti perhotelan. Lalu di bidang  SDM/kelembagaan, SDM harus kita sertifikasi dengan standar global,  minimal regional seperti di ASEAN kita punya Mutual Re cognition  Arrangement (MRA) untuk profesi kepariwisataan. Kita akan menyertifikasi  dari saat ini sekitar 125.000 menjadi 500.000 orang.   Kesiapan masyarakat di destinasi wisata dalam menerima tamu asing terkadang masih menjadi kendala. Bagaimana mengatasinya?   Kita selalu menyiapkan SDM. Kita sepakat orang-orangnya akan kita  lakukan transformasi dengan mengundang para top management atau para  General Manager dari luar. Ini bisa dilakukan secara bertahap, misalnya  kita minta tenaga ahli lulusan Bali dulu selama li ma tahun pertama,  setelah itu dari lokal bisa bench marking. Batam dulu pendekatannya  seperti itu dan berhasil. Untuk destinasi internasional, saya rasa orang  asing pun tidak apa-apa kita undang.   Terkait 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP), tahun depan mana yang akan diprioritaskan?   Dari 10 Destinasi Prioritas (Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Tanjung  Kelayang, Tanjung Lesung, Bromo-Tengger-Semeru, Morotai, Wakatobi,  Kepulauan Seribu, Labuan Bajo) itu kita fokuskan lagi. Melalui rapat  terbatas dengan presiden, kita sepakat akan memfokuskan diri kepada  percepatan empat destinasi yaitu Danau Toba, Labuan Bajo, Borobudur,  Mandalika. Destinasi tersebut juga kita nilai sudah siap 3A-nya.   Pada awal menjadi Menpar, Bapak selalu menekankan tentang strategi BAS  (Branding, Ad vertising, Selling). Apakah ini masih akan di terapkan  pada 2018?   Mengingat anggarannya terbatas, saya terpaksa ambil  langkah pragmatis. Kita akan lebih banyak di selling,advertising-nya  kurang, apa lagi branding. Itu jangka pendeknya akan tercapai, tapi  jangka menengah dan panjangnya sangat buruk karena tidak meninggalkan  brand yang kuat. Jadi, kita bukan marketer yang baik.Apa tantangan terbesar tahun depan?   Saya nggak basa-basi,  anggarannya kurang. Idealnya anggaran kita Rp9  triliun, tapi kita hanya  di beri (Anggaran Pendapatan dan Belanja  Negara) Rp3,7 triliun atau  sekitar 42%-nya. Ini berat dan saya nanti  tidak mewariskan sesuatu itu  yang benar. Bayangkan, nggak ada  branding,maka kita nanti nggak punya  brand yang kuat. Sesuatu yang  ditetapkan sebagai core economy, tapi  alokasi sumber dayanya sedikit  sekali. Padahal, untuk menarik wisman  itu juga ada per hitungannya,  yaitu USD20 per wisman. Tapi, dengan  anggaran yang 42% itu berarti cuma  USD8 per wisman.   Apakah hal itu akan memengaruhi target kunjungan 17 juta wisman pada 2018?   Target tahun depan tetap 17 juta wisman dan 270 juta pergerakan   wisatawan nusantara (wisnus). Saya nggak mau target berubah karena kalau   berubah kita akan semakin jauh tertinggal dari negara lain.  Strateginya  kita perbanyak selling dan lebih banyak menggunakan media  digital.  Pasarnya juga akan lebih diperketat. Selain itu, dua event  besar yaitu  Asian Games dan pertemuan tahunan IMF-World Bank tahun  depan juga akan  kita optimalkan untuk memacu kunjungan wisata. Kita  sudah membuat tujuh  paket yang akan kita jual sesuai dengan destinasi  yang siap di sekitar  dua venue besar Asian Games ya itu Jakarta dan  Palembang. Untuk event  IMF-World Bank di Bali juga kita tawarkan 60  paket wisata di Bali dan  enam destinasi lainnya (Lombok, Komodo,  Yogyakarta, Tana Toraja,  Danau Toba, Banyuwangi). Pro duknya sudah siap  semua, tinggal kita  promosikan.   Berdasarkan Peraturan Presiden No 93/2017, struktur organisasi Kemenpar akan berubah pada 2018. Perubahan apa yang signifikan?   Per 1 Januari 2018 kita akan mulai berubah. Hal yang mendasari   perubahan ini adalah organisasi yang berorientasi pada customernya.   Nantinya satu direktur akan membawahi satu pasar. Contohnya dulu pasar   China, In dia, Australia, Jepang, itu di bawah satu direktur. Nantinya,   masing-masing negara itu di pegang satu direktur. Tapi, untuk yang   perbatasan saya titipi juga kawasan timur Indonesia. Dengan perubahan   struktur ini akan lebih efektif dan efisien.</content:encoded></item></channel></rss>
