<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Atasi Macet, TOD Dekatkan Hunian Masyarakat dengan Transportasi Massal</title><description>Kawasan hunian berbasis TOD yang terintegerasi dengan jaringan transportasi  publik semakin menjadi primadona di industri properti.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/24/470/1835372/atasi-macet-tod-dekatkan-hunian-masyarakat-dengan-transportasi-massal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2017/12/24/470/1835372/atasi-macet-tod-dekatkan-hunian-masyarakat-dengan-transportasi-massal"/><item><title>Atasi Macet, TOD Dekatkan Hunian Masyarakat dengan Transportasi Massal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2017/12/24/470/1835372/atasi-macet-tod-dekatkan-hunian-masyarakat-dengan-transportasi-massal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2017/12/24/470/1835372/atasi-macet-tod-dekatkan-hunian-masyarakat-dengan-transportasi-massal</guid><pubDate>Minggu 24 Desember 2017 19:54 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/12/24/470/1835372/atasi-macet-tod-dekatkan-hunian-masyarakat-dengan-transportasi-massal-mKbYTHnGf0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/12/24/470/1835372/atasi-macet-tod-dekatkan-hunian-masyarakat-dengan-transportasi-massal-mKbYTHnGf0.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kawasan hunian berbasis transit oriented development (TOD) atau konsep pengembangan properti yang terintegerasi dengan jaringan transportasi publik semakin menjadi primadona di industri properti.
Hal itu tak terlepas dari maraknya pembangunan infrastruktur dan sistem transportasi massal yang semakin memudahkan mobilisasi masyarakat. Problem terbesar masyarakat kota besar dan makin menjadi-jadi saat ini adalah kemacetan, termasuk di Ibu Kota Jakarta.
Terus bertambahnya pengguna kendaraan pribadi dengan panjang jalan yang tak bertambah menjadi salah satu penyumbang makin parahnya kemacetan. Rata-rata masyarakat Jakarta memerlukan waktu sekitar 5 jam di jalan raya setiap harinya dengan kerugian ekonomi mencapai Rp28,1 triliun per tahun.
Maka dari itu pemerintah mulai mengambil langkah strategis dengan membangun sistem transportasi massal, baik itu kereta rel listrik (KRL) commuter line, Bus Transjakarta mau pun light rapid transit (LRT) dan mass rapid transit (MRT) yang diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan yang sangat merugikan warga.
Baca Juga: 8 Keluhan Masyarakat yang Tinggal di Rusun, Sertifikat hingga Kualitas Unit
Pembangunan sistem terpadu ini di harapkan mampu mengubah kehidupan masyarakat, yang selama ini menggunakan kendaraan pribadi, beralih naik transportasi umum. Dampaknya belakangan banyak pengembang properti yang mulai membangun proyek hunian dengan konsep TOD yang terintegrasi dengan akses ke transportasi umum serta dilengkapi jaringan pejalan kaki atau sepeda.
Tidak hanya itu, kawasan TOD menggunakan pendekatan pengembangan kota yang mengadopsi tata ruang campuran dengan memperhatikan jarak dan waktu tempuh yang nyaman bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas kerja dan lainnya. Diketahui, pengembangan TOD kini sangat maju dan telah menjadi tren di kota-kota besar dunia.
Khususnya di kawasan kota besar seperti Tokyo di Jepang, Seoul di Korea, Hong Kong, Singapura, serta beberapa kota di Amerika Serikat dan Eropa yang memanfaatkan jaringan kereta api kota. Salah satu developer yang membangun kawasan TOD adalah Grup Ciputra melalui proyek Citra Maja Raya dengan area pengembangan seluas 2.000 hektare di Maja, Lebak, Banten.
Perumahan ini didedikasikan sebagai kota mandiri yang hanya berjarak 500 meter dari simpul transportasi massal commuter line Stasiun Maja. Yance Onggo, General Manager Marketing Citra Maja Raya, mengutarakan, Maja merupakan satu dari 10 rencana pengembangan kota baru publik yang diprioritaskan pengembangan infrastrukturnya oleh pemerintah sesuai dengan Program Rencana Pembangun an Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
Baca Juga: Hak Penghuni Rumah Susun Tak Terpenuhi, Perlu Aturan yang Tegas!
&amp;ldquo;Maka dari itu, lahan yang kami punya dikembangkan berbasis TOD karena memang hanya selangkah dari jalur commuter line Stasiun Maja menuju Tanah Abang maupun Rangkas Bitung. Proyek kami merupakan satu-satunya kawasan TOD yang berbentuk perumahan landed karena yang lainnya hunian vertikal seperti apartemen,&amp;rdquo; ujarnya ketika dihubungi KORAN SINDO.
Untuk semakin memudahkan akses penghuni, menurut Yance, Citra Maja Raya akan menyediakan shuttle bus yang berjalan dari depan kompleks hingga Stasiun Maja dan sebaliknya. Selain itu ke depannya juga akan dikembangkan pula basis transportasi darat lainnya berupa feeder busway dan city shuttle bus dengan berbagai rute menuju pusat kota Jakarta.
Perumahan yang menyasar kalangan bawah dan menengah ini telah memasuki tahap pembangunan dengan lebih dari 10.000 unit rumah dan 500 ritel outlet. Juga direncanakan pembangunan fasilitas kota lainnya seperti area komersial dan lifestyle, pasar modern, sport club , ecopark, fasilitas rekreasi water park-theme park, sekolah, ruang terbuka hijau, dan sarana publik lainnya.&amp;ldquo;Sebanyak 1.000 unit rumah sudah terjual dalam satu hari launching  pada 9 Desember 2017 lalu. Jadi total sudah sekitar 11.000 hunian yang  terjual di Citra Maja Raya sejak dipasarkan pada 2014. Dengan harga  terjangkau, mulai sekitar Rp159 jutaan, penghuni bisa mendapatkan rumah  berbasis TOD dengan fasilitas memadai,&amp;rdquo; katanya.
Menurut dia, prospek kawasan TOD ke depannya akan makin dicari karena  mobilitas generasi milenial dengan segala rutinitasnya. Apalagi saat  ini lahan di pusat kota makin terbatas dengan harga terus meroket  sehingga hunian di daerah pinggiran menjadi pilihan utama, tentu dengan  akses transportasi yang mudah.
&amp;ldquo;Area greater Jakarta kini semakin terhubung dengan banyaknya  pembangunan transportasi publik yang nyaman. Jadi proyek hunian yang  dekat dengan akses tersebut menjadi favorit masyarakat,&amp;rdquo; sebut Yance.
Adapun PT Adhi Karya (Persero) Tbk, sebagai pengembang nasional, juga  ikut mengembangkan hunian dengan konsep TOD untuk membantu kebutuhan  masyarakat kaum sub urban terhadap kawasan hunian masa depan.
Baca Juga: Cadangan Tanah Terbatas, Ini Keuntungan Bangun Hunian TOD
Dengan nama LRT City, hunian berbasis kota ini bersifat kompak,  mengadopsi tata campuran (mixed use), maksimalisasi penggunaan angkutan  massal LRT dengan dilengkapi jaringan prasarana pejalan kaki dan sepeda.  Amrozi Hamidi, General Manager Departemen TOD dan Hotel PT Adhi Karya  (Persero) Tbk, melalui sambungan telepon mengemukakan, pengembangan  hunian LRT City ini merupakan upaya pihaknya dalam memberikan ke  hidupan, pelayanan, dan peradaban baru bagi masyarakat kaum urban di  Kota Jakarta dan kaum sub urban di daerah penyangganya.
&amp;ldquo;Kami memiliki beberapa lahan seluas 5 hingga 15 hektare yang  berlokasi di titik nol kilometer atau cukup dekat dengan stasiun LRT  lintas layanan Cawang-Dukuh Atas, Cawang- Cibubur, dan Cawang-Bekasi  Timur yang akan dikembangkan untuk menjadi kawasan hunian dan komersial.  Ini merupakan solusi kaum sub urban agar bisa mendapatkan hidup yang  lebih berkualitas karena terbebas dari problem kemacetan yang semakin  parah,&amp;rdquo; tuturnya.
Melalui anak perusahaannya, PT Adhi Persada Properti (APP), terdapat  empat proyek LRT City yang sedang dikembangkan PT Adhi Karya (Persero)  Tbk, yaitu LRT City Sentul-Royal Sentul Park seluas 14,8 hektare dengan  konsep green and smart living , LRT City Bekasi-Eastern Green sebanyak 2  tower seluas 16,9 hektare, LRT City Jaticempaka- Gateway Park seluas  5,2 hektare yang merangkum 6 tower , dan LRT City Ciracas-Urban  Signature seluas 11,5 hektare.
&amp;nbsp;Baca Juga: Gawat! Proyek Rusun Dekat Stasiun Bogor Bisa Jadi Pusat Kemacetan Baru
&amp;ldquo;Tahun depan akan kami kembangkan lagi lima proyek LRT City di  sejumlah lokasi. Dan karena LRT merupakan proyek yang dikerjakan negara,  pembebasan lahan di area sekitarnya tidak pernah bermasalah,&amp;rdquo; ujar  Amrozi.
Sementara itu developer Pikko Group dan PT Pelaksana Jaya Mulia  menggandeng Pulau Intan sebagai kontraktor utama untuk mengembangkan  proyek pusat bisnis dan komersial kawasan terintegrasi Signature Park  Grande (SPG) MT Haryono, Jakarta Selatan, yang berbasis TOD karena  terhubung dengan jalur LRT. SPG MT Haryono terdiri atas dua menara  hunian, yaitu The Light (19 lantai) dan Green Signature (20 lantai) yang  akan terdiri atas sekitar 2.600 unit strata title , pusat bisnis dan  komersial serta pusat lifestyle di lahan seluas 4,4 hektare.&amp;ldquo;Konsep TOD bersinergi dengan visi dan misi Pikko Group yang ingin   membangun keluarga di mana waktu sangat berarti untuk keluarga. Kami   ingin menyediakan hunian yang nyaman dan di luar itu dapat memberikan   banyak waktu untuk keluarga dengan solusi menghemat waktu perjalanan   pergi-pulang ke tempat kerja yang tidak membutuhkan waktu berjam-jam,&amp;rdquo;   papar Marketing Manager Pikko Group Arief Wibowo melalui pesan   elektronik.
Arief menuturkan, proyek ini amat strategis karena lokasinya menjadi   titik pertemuan berbagai macam transportasi umum selama 24 jam seperti   angkutan umum, stasiun kereta, Bus Transjakarta, stasiun LRT serta   pedestrian dan JPO (jembatan penyeberangan orang) yang hijau dan cukup   besar bagi pejalan kaki.
Tidak hanya itu, proyek ini juga menjadi junction Jakarta untuk arus   perpindahan dari Jakarta, Bekasi, Cibubur, dan Bogor. Tak mau kalah,   pengembang mancanegara asal Singapura, Keppel Land Limited (Keppel   Land), tengah membangun Apartemen West Vista at Puri yang berlokasi di   Jalan Lingkar Luar Barat, Puri, Jakarta Barat.
Baca Juga: Sandiaga: Transit Oriented Development Adalah Strategi Jangka Panjang
Proyek berbasis TOD ini merupakan apartemen dengan 48 lantai yang   terletak di kawasan perumahan terkemuka di Jakarta Barat serta dekat   dengan kawasan Puri Central Business District (CBD).
Ini merupakan lokasi strategis karena dihubungkan oleh jalan lingkar   luar Jakarta. Penghuni akan menikmati akses yang sangat baik ke pusat   Kota Jakarta serta daerah-daerah penting lainnya di Jabodetabek.
&amp;ldquo;Nantinya terminal, hunian, perkantoran, area komersial, dan parkir   akan terintegrasi dengan transportasi LRT. Fasilitas ini jelas akan   menambah kenyamanan para penghuni West Vista at Puri, Jakarta Barat,   yang saat ini tengah kami kembangkan,&amp;rdquo; kata Goh York Lin, Presiden   Keppel Land Indonesia.
(Rendra Hanggar)</description><content:encoded>JAKARTA - Kawasan hunian berbasis transit oriented development (TOD) atau konsep pengembangan properti yang terintegerasi dengan jaringan transportasi publik semakin menjadi primadona di industri properti.
Hal itu tak terlepas dari maraknya pembangunan infrastruktur dan sistem transportasi massal yang semakin memudahkan mobilisasi masyarakat. Problem terbesar masyarakat kota besar dan makin menjadi-jadi saat ini adalah kemacetan, termasuk di Ibu Kota Jakarta.
Terus bertambahnya pengguna kendaraan pribadi dengan panjang jalan yang tak bertambah menjadi salah satu penyumbang makin parahnya kemacetan. Rata-rata masyarakat Jakarta memerlukan waktu sekitar 5 jam di jalan raya setiap harinya dengan kerugian ekonomi mencapai Rp28,1 triliun per tahun.
Maka dari itu pemerintah mulai mengambil langkah strategis dengan membangun sistem transportasi massal, baik itu kereta rel listrik (KRL) commuter line, Bus Transjakarta mau pun light rapid transit (LRT) dan mass rapid transit (MRT) yang diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan yang sangat merugikan warga.
Baca Juga: 8 Keluhan Masyarakat yang Tinggal di Rusun, Sertifikat hingga Kualitas Unit
Pembangunan sistem terpadu ini di harapkan mampu mengubah kehidupan masyarakat, yang selama ini menggunakan kendaraan pribadi, beralih naik transportasi umum. Dampaknya belakangan banyak pengembang properti yang mulai membangun proyek hunian dengan konsep TOD yang terintegrasi dengan akses ke transportasi umum serta dilengkapi jaringan pejalan kaki atau sepeda.
Tidak hanya itu, kawasan TOD menggunakan pendekatan pengembangan kota yang mengadopsi tata ruang campuran dengan memperhatikan jarak dan waktu tempuh yang nyaman bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas kerja dan lainnya. Diketahui, pengembangan TOD kini sangat maju dan telah menjadi tren di kota-kota besar dunia.
Khususnya di kawasan kota besar seperti Tokyo di Jepang, Seoul di Korea, Hong Kong, Singapura, serta beberapa kota di Amerika Serikat dan Eropa yang memanfaatkan jaringan kereta api kota. Salah satu developer yang membangun kawasan TOD adalah Grup Ciputra melalui proyek Citra Maja Raya dengan area pengembangan seluas 2.000 hektare di Maja, Lebak, Banten.
Perumahan ini didedikasikan sebagai kota mandiri yang hanya berjarak 500 meter dari simpul transportasi massal commuter line Stasiun Maja. Yance Onggo, General Manager Marketing Citra Maja Raya, mengutarakan, Maja merupakan satu dari 10 rencana pengembangan kota baru publik yang diprioritaskan pengembangan infrastrukturnya oleh pemerintah sesuai dengan Program Rencana Pembangun an Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
Baca Juga: Hak Penghuni Rumah Susun Tak Terpenuhi, Perlu Aturan yang Tegas!
&amp;ldquo;Maka dari itu, lahan yang kami punya dikembangkan berbasis TOD karena memang hanya selangkah dari jalur commuter line Stasiun Maja menuju Tanah Abang maupun Rangkas Bitung. Proyek kami merupakan satu-satunya kawasan TOD yang berbentuk perumahan landed karena yang lainnya hunian vertikal seperti apartemen,&amp;rdquo; ujarnya ketika dihubungi KORAN SINDO.
Untuk semakin memudahkan akses penghuni, menurut Yance, Citra Maja Raya akan menyediakan shuttle bus yang berjalan dari depan kompleks hingga Stasiun Maja dan sebaliknya. Selain itu ke depannya juga akan dikembangkan pula basis transportasi darat lainnya berupa feeder busway dan city shuttle bus dengan berbagai rute menuju pusat kota Jakarta.
Perumahan yang menyasar kalangan bawah dan menengah ini telah memasuki tahap pembangunan dengan lebih dari 10.000 unit rumah dan 500 ritel outlet. Juga direncanakan pembangunan fasilitas kota lainnya seperti area komersial dan lifestyle, pasar modern, sport club , ecopark, fasilitas rekreasi water park-theme park, sekolah, ruang terbuka hijau, dan sarana publik lainnya.&amp;ldquo;Sebanyak 1.000 unit rumah sudah terjual dalam satu hari launching  pada 9 Desember 2017 lalu. Jadi total sudah sekitar 11.000 hunian yang  terjual di Citra Maja Raya sejak dipasarkan pada 2014. Dengan harga  terjangkau, mulai sekitar Rp159 jutaan, penghuni bisa mendapatkan rumah  berbasis TOD dengan fasilitas memadai,&amp;rdquo; katanya.
Menurut dia, prospek kawasan TOD ke depannya akan makin dicari karena  mobilitas generasi milenial dengan segala rutinitasnya. Apalagi saat  ini lahan di pusat kota makin terbatas dengan harga terus meroket  sehingga hunian di daerah pinggiran menjadi pilihan utama, tentu dengan  akses transportasi yang mudah.
&amp;ldquo;Area greater Jakarta kini semakin terhubung dengan banyaknya  pembangunan transportasi publik yang nyaman. Jadi proyek hunian yang  dekat dengan akses tersebut menjadi favorit masyarakat,&amp;rdquo; sebut Yance.
Adapun PT Adhi Karya (Persero) Tbk, sebagai pengembang nasional, juga  ikut mengembangkan hunian dengan konsep TOD untuk membantu kebutuhan  masyarakat kaum sub urban terhadap kawasan hunian masa depan.
Baca Juga: Cadangan Tanah Terbatas, Ini Keuntungan Bangun Hunian TOD
Dengan nama LRT City, hunian berbasis kota ini bersifat kompak,  mengadopsi tata campuran (mixed use), maksimalisasi penggunaan angkutan  massal LRT dengan dilengkapi jaringan prasarana pejalan kaki dan sepeda.  Amrozi Hamidi, General Manager Departemen TOD dan Hotel PT Adhi Karya  (Persero) Tbk, melalui sambungan telepon mengemukakan, pengembangan  hunian LRT City ini merupakan upaya pihaknya dalam memberikan ke  hidupan, pelayanan, dan peradaban baru bagi masyarakat kaum urban di  Kota Jakarta dan kaum sub urban di daerah penyangganya.
&amp;ldquo;Kami memiliki beberapa lahan seluas 5 hingga 15 hektare yang  berlokasi di titik nol kilometer atau cukup dekat dengan stasiun LRT  lintas layanan Cawang-Dukuh Atas, Cawang- Cibubur, dan Cawang-Bekasi  Timur yang akan dikembangkan untuk menjadi kawasan hunian dan komersial.  Ini merupakan solusi kaum sub urban agar bisa mendapatkan hidup yang  lebih berkualitas karena terbebas dari problem kemacetan yang semakin  parah,&amp;rdquo; tuturnya.
Melalui anak perusahaannya, PT Adhi Persada Properti (APP), terdapat  empat proyek LRT City yang sedang dikembangkan PT Adhi Karya (Persero)  Tbk, yaitu LRT City Sentul-Royal Sentul Park seluas 14,8 hektare dengan  konsep green and smart living , LRT City Bekasi-Eastern Green sebanyak 2  tower seluas 16,9 hektare, LRT City Jaticempaka- Gateway Park seluas  5,2 hektare yang merangkum 6 tower , dan LRT City Ciracas-Urban  Signature seluas 11,5 hektare.
&amp;nbsp;Baca Juga: Gawat! Proyek Rusun Dekat Stasiun Bogor Bisa Jadi Pusat Kemacetan Baru
&amp;ldquo;Tahun depan akan kami kembangkan lagi lima proyek LRT City di  sejumlah lokasi. Dan karena LRT merupakan proyek yang dikerjakan negara,  pembebasan lahan di area sekitarnya tidak pernah bermasalah,&amp;rdquo; ujar  Amrozi.
Sementara itu developer Pikko Group dan PT Pelaksana Jaya Mulia  menggandeng Pulau Intan sebagai kontraktor utama untuk mengembangkan  proyek pusat bisnis dan komersial kawasan terintegrasi Signature Park  Grande (SPG) MT Haryono, Jakarta Selatan, yang berbasis TOD karena  terhubung dengan jalur LRT. SPG MT Haryono terdiri atas dua menara  hunian, yaitu The Light (19 lantai) dan Green Signature (20 lantai) yang  akan terdiri atas sekitar 2.600 unit strata title , pusat bisnis dan  komersial serta pusat lifestyle di lahan seluas 4,4 hektare.&amp;ldquo;Konsep TOD bersinergi dengan visi dan misi Pikko Group yang ingin   membangun keluarga di mana waktu sangat berarti untuk keluarga. Kami   ingin menyediakan hunian yang nyaman dan di luar itu dapat memberikan   banyak waktu untuk keluarga dengan solusi menghemat waktu perjalanan   pergi-pulang ke tempat kerja yang tidak membutuhkan waktu berjam-jam,&amp;rdquo;   papar Marketing Manager Pikko Group Arief Wibowo melalui pesan   elektronik.
Arief menuturkan, proyek ini amat strategis karena lokasinya menjadi   titik pertemuan berbagai macam transportasi umum selama 24 jam seperti   angkutan umum, stasiun kereta, Bus Transjakarta, stasiun LRT serta   pedestrian dan JPO (jembatan penyeberangan orang) yang hijau dan cukup   besar bagi pejalan kaki.
Tidak hanya itu, proyek ini juga menjadi junction Jakarta untuk arus   perpindahan dari Jakarta, Bekasi, Cibubur, dan Bogor. Tak mau kalah,   pengembang mancanegara asal Singapura, Keppel Land Limited (Keppel   Land), tengah membangun Apartemen West Vista at Puri yang berlokasi di   Jalan Lingkar Luar Barat, Puri, Jakarta Barat.
Baca Juga: Sandiaga: Transit Oriented Development Adalah Strategi Jangka Panjang
Proyek berbasis TOD ini merupakan apartemen dengan 48 lantai yang   terletak di kawasan perumahan terkemuka di Jakarta Barat serta dekat   dengan kawasan Puri Central Business District (CBD).
Ini merupakan lokasi strategis karena dihubungkan oleh jalan lingkar   luar Jakarta. Penghuni akan menikmati akses yang sangat baik ke pusat   Kota Jakarta serta daerah-daerah penting lainnya di Jabodetabek.
&amp;ldquo;Nantinya terminal, hunian, perkantoran, area komersial, dan parkir   akan terintegrasi dengan transportasi LRT. Fasilitas ini jelas akan   menambah kenyamanan para penghuni West Vista at Puri, Jakarta Barat,   yang saat ini tengah kami kembangkan,&amp;rdquo; kata Goh York Lin, Presiden   Keppel Land Indonesia.
(Rendra Hanggar)</content:encoded></item></channel></rss>
