<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Investasi hingga Ekspor Impor Jadi Fokus Pemerintah di 2018</title><description>Presiden Jokowi meminta jajarannya di Kabinet Kerja untuk fokus dan berkonsentrasi kepada persoalan investasi, ekspor hingga impor.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/01/06/320/1841096/investasi-hingga-ekspor-impor-jadi-fokus-pemerintah-di-2018</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/01/06/320/1841096/investasi-hingga-ekspor-impor-jadi-fokus-pemerintah-di-2018"/><item><title>Investasi hingga Ekspor Impor Jadi Fokus Pemerintah di 2018</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/01/06/320/1841096/investasi-hingga-ekspor-impor-jadi-fokus-pemerintah-di-2018</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/01/06/320/1841096/investasi-hingga-ekspor-impor-jadi-fokus-pemerintah-di-2018</guid><pubDate>Sabtu 06 Januari 2018 17:25 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/01/06/320/1841096/investasi-hingga-ekspor-impor-jadi-fokus-pemerintah-di-2018-I6j3GbD4KD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Koran SINDO</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/01/06/320/1841096/investasi-hingga-ekspor-impor-jadi-fokus-pemerintah-di-2018-I6j3GbD4KD.jpg</image><title>Foto: Koran SINDO</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta jajarannya di Kabinet Kerja untuk fokus dan berkonsentrasi kepada persoalan investasi guna menjaga kepercayaan internasional terhadap pengelolaan ekonomi di Tanah Air.
Menurut dia, kondisi peningkatan ekonomi Indonesia saat ini dapat dibuktikan dengan adanya kenaikan peringkat ease of doing business dari 120 ke 72. Lembaga pemeringkat kredit, Standard &amp;amp; Poors (S&amp;amp;P), juga menyematkan peringkat layak Investasi kepada Indonesia.   Terakhir, Fitch Ratings juga telah mengumumkan peningkatan peringkat dari sebelumnya BBB- menjadi BBB dengan outlook stabil kepada ekonomi Indonesia. &amp;rdquo;Momentum ini jangan sampai kita kehilangan. Oleh sebab itu, sekali lagi saya ingin lebih fokus dan konsentrasi lagi pada yang namanya investasi,&amp;rdquo; kata Jokowi dalam arahannya saat rapat terbatas (Ratas) di Istana Merdeka, Jakarta.
Baca Juga: Sri Mulyani Orasi Ilmiah Bicara Kekuatan Ekonomi RI di Universitas Brawijaya
Selain investasi, Jokowi meminta masalah ekspor atau perdagangan luar negeri harus diperhatikan secara serius. Baik itu bidang industri, energi, sumber daya dan mineral, kesehatan, pendidikan, pertahanan, pertanian, maupun kelautan hingga perikanan.   &amp;rdquo;Semuanya harus satu, harus jadi satu arah sehingga problem-problem yang dihadapi di lapangan itu betul-betul bisa kita tangani dengan baik,&amp;rdquo; ujarnya. Jokowi berharap, jajarannya mampu segera mencari solusi bila terdapat persoalan agar jalannya pemerintahan dapat berlangsung dengan baik.
Baca Juga: JK Sebut Ekonomi Tidak Kencang, Begini Respons Menko Darmin  &quot;Kemarin juga sudah saya sampaikan, kita ini kalau diibaratkan orang sakit, kita ini baik semuanya. Kolesterol baik, jantung baik, paru-paru baik, darah tinggi juga tidak ada, tapi kok ya enggak bisa lari cepat. Ini problemnya yang harus dicari di mana,&amp;rdquo; katanya.   Sebelumnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal( BKPM) memasang target ambisius terhadap investasi di Indonesia. Tahun 2017 BKPM memasang target investasi yang masuk ke Indonesia sebesar Rp678 triliun dan pada 2018 mencapai Rp863 triliun.  Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan, tingginya target investasi pada   2018 seiring dengan keinginan Presiden Jokowi sebelumnya agar   pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6,1% pada 2018. Oleh karena itu,   investasi pun harus tinggi, mengingat saat ini komponen investasi   menjadi andalan terbesar Indonesia untuk menopang ekonomi.&amp;rdquo;Hanya investasi yang bisa digenjot. Kalau mau tumbuh 6,1%, investasi  harus Rp863 triliun per tahun,&amp;rdquo; katanya. Meski terlihat ambisius, Tom  optimistis bahwa Indonesia mampu meraihnya. Alasannya, kondisi Indonesia  yang stabil menjadi senjata untuk mendorong investasi.   &amp;rdquo;Saya  kira modal yang kita mulai pada awal tahun adalah Indonesia negara  paling aman, paling stabil, dan paling reformasi. Dan kita harus  bersyukur atas hal ini,&amp;rdquo; imbuh dia. Dihubungi terpisah, Deputi Bidang  Pengendalian Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis mengatakan pihaknya  optimistis aliran penanaman modal yang masuk terus tumbuh di 2018.   Pencapaian penanaman modal hingga September 2017 telah mencapai Rp513  triliun atau 76% dari target untuk 2017 yang sebesar Rp678,8 triliun.  &amp;rdquo;Kami yakin target 2017 dapat tercapai. Untuk tahun 2018 ini kami juga  yakin bisa tumbuh karena sudah seharusnya.
Baca Juga: JK Tak Khawatir Ada Kerusuhan di Tahun Politik, Ekonomi Diproyeksi Stabil  Kebutuhan  pertumbuhan ekonomi nasional juga semakin tinggi,&amp;rdquo; ujar Azhar kemarin.  Dia mengatakan investor akan selalu melihat prospek Indonesia dalam  jangka 5&amp;ndash;10 tahun. Karena itu sangat penting untuk merealisasi janji dan  membuktikan komitmen pemerintah khususnya untuk perbaikan iklim  investasi.   Fokusnya dapat diarahkan pada rencana deregulasi  dari 1 hingga 16 yang harus segera dilakukan. &amp;rdquo;Masalahnya ada pada  penerapan di daerah. Seperti proses perizinan yang masih berbelit atau  dipersulit di daerah masih banyak menghambat investor,&amp;rdquo; ujarnya.
Baca Juga: Investor Pasar Modal Didorong Investasi di Sektor Riil
Menurutnya, semua kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah harus  menyamakan visi dalam melihat tujuan pembangunan infrastruktur.  Infrastruktur sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing  perekonomian nasional sehingga semuanya harus punya impian yang sama.   &amp;rdquo;Dalam tiga tahun terakhir ada Rp5.000 triliun minat investasi untuk  masuk. Ini buktinya minat investasi sangat tinggi. Tapi jangan hanya  sebatas minat namun harus jadi realisasi. Realisasi investasi bisa  memakan waktu 3 hingga 5 tahun. Namun sejak mulai proses konstruksi bisa  dirasakan percepatan perekonomian yang bergerak,&amp;rdquo; ujarnya.Sementara itu ekonom INDEF Bhima Yudhistira mengatakan, peringkat EODB   Indonesia memang membaik yang disertai peringkat daya saing yang juga   naik. Namun investor melihat sektor riil seperti daya beli yang lesu,   industri pengolahan seperti kehabisan tenaga, dan banyak kebijakan   seperti 16 paket kebijakan hanya macan kertas.
&amp;rdquo;Ini yang  membuat kepercayaan investor rendah,&amp;rdquo; ujar Bhima. Menurut  Bhima, bukan  hanya reformasi soal perizinan investasi yang didorong,  tetapi sektor  riil juga perlu diberi stimulus.
Baca Juga: Jokowi Ibaratkan Indonesia Orang Sakit yang Kolesterol dan Jantungnya Baik, tapi Tak Bisa Lari Cepat
Adapun selama ini stimulus  tidak berjalan efektif. &amp;rdquo;Buktinya janji  harga gas industri murah sampai  sekarang ternyata masih mahal bahkan  dibanding negara yang tidak punya  gas alam,&amp;rdquo; sebutnya. Dia menilai ada  harapan di 2018 untuk memacu  investasi lebih tinggi namun tergantung  kebijakan pemerintah.   Karena yang diharapkan jadi stimulus  ekonomi ada dua, yaitu belanja  pemerintah dan ekspor. &amp;rdquo;Untuk belanja  pemerintah seperti bansos jangan  telat disalurkan. Kemudian program  padat karya harus segera jalan di  awal tahun. Ini untuk memulihkan daya  beli dan meningkatkan permintaan  sektor ritel,&amp;rdquo; paparnya.
Baca Juga: Panggil Menteri Ekonomi, Jokowi Minta Fokus Investasi dan Perdagangan  Soal ekspor, dia menyarankan  pemerintah harus lebih agresif membuka  jalan ke negara alternatif.  Komoditas ekspor yang dipacu jangan sekadar  bahan mentah, tetapi produk  jadi sehingga bernilai tambahnya positif.  &amp;rdquo;Terakhir, jaga situasi  politik dan kebijakan jangan aneh dan buat  gaduh suasana sehingga tidak  kondusif,&amp;rdquo; urai Bhima.   Sementara  itu di sektor perdagangan,  Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita  mengatakan, untuk mencapai  target pertumbuhan ekonomi 2018 sekitar  5,2%&amp;ndash;5,4% dan laju inflasi pada  kisaran 2,5%&amp;ndash;4,5%, maka pemerintah  menetapkan target pertumbuhan ekspor  nonmigas sebesar 5%&amp;ndash;7%.
(Hafid Fuad)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta jajarannya di Kabinet Kerja untuk fokus dan berkonsentrasi kepada persoalan investasi guna menjaga kepercayaan internasional terhadap pengelolaan ekonomi di Tanah Air.
Menurut dia, kondisi peningkatan ekonomi Indonesia saat ini dapat dibuktikan dengan adanya kenaikan peringkat ease of doing business dari 120 ke 72. Lembaga pemeringkat kredit, Standard &amp;amp; Poors (S&amp;amp;P), juga menyematkan peringkat layak Investasi kepada Indonesia.   Terakhir, Fitch Ratings juga telah mengumumkan peningkatan peringkat dari sebelumnya BBB- menjadi BBB dengan outlook stabil kepada ekonomi Indonesia. &amp;rdquo;Momentum ini jangan sampai kita kehilangan. Oleh sebab itu, sekali lagi saya ingin lebih fokus dan konsentrasi lagi pada yang namanya investasi,&amp;rdquo; kata Jokowi dalam arahannya saat rapat terbatas (Ratas) di Istana Merdeka, Jakarta.
Baca Juga: Sri Mulyani Orasi Ilmiah Bicara Kekuatan Ekonomi RI di Universitas Brawijaya
Selain investasi, Jokowi meminta masalah ekspor atau perdagangan luar negeri harus diperhatikan secara serius. Baik itu bidang industri, energi, sumber daya dan mineral, kesehatan, pendidikan, pertahanan, pertanian, maupun kelautan hingga perikanan.   &amp;rdquo;Semuanya harus satu, harus jadi satu arah sehingga problem-problem yang dihadapi di lapangan itu betul-betul bisa kita tangani dengan baik,&amp;rdquo; ujarnya. Jokowi berharap, jajarannya mampu segera mencari solusi bila terdapat persoalan agar jalannya pemerintahan dapat berlangsung dengan baik.
Baca Juga: JK Sebut Ekonomi Tidak Kencang, Begini Respons Menko Darmin  &quot;Kemarin juga sudah saya sampaikan, kita ini kalau diibaratkan orang sakit, kita ini baik semuanya. Kolesterol baik, jantung baik, paru-paru baik, darah tinggi juga tidak ada, tapi kok ya enggak bisa lari cepat. Ini problemnya yang harus dicari di mana,&amp;rdquo; katanya.   Sebelumnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal( BKPM) memasang target ambisius terhadap investasi di Indonesia. Tahun 2017 BKPM memasang target investasi yang masuk ke Indonesia sebesar Rp678 triliun dan pada 2018 mencapai Rp863 triliun.  Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan, tingginya target investasi pada   2018 seiring dengan keinginan Presiden Jokowi sebelumnya agar   pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6,1% pada 2018. Oleh karena itu,   investasi pun harus tinggi, mengingat saat ini komponen investasi   menjadi andalan terbesar Indonesia untuk menopang ekonomi.&amp;rdquo;Hanya investasi yang bisa digenjot. Kalau mau tumbuh 6,1%, investasi  harus Rp863 triliun per tahun,&amp;rdquo; katanya. Meski terlihat ambisius, Tom  optimistis bahwa Indonesia mampu meraihnya. Alasannya, kondisi Indonesia  yang stabil menjadi senjata untuk mendorong investasi.   &amp;rdquo;Saya  kira modal yang kita mulai pada awal tahun adalah Indonesia negara  paling aman, paling stabil, dan paling reformasi. Dan kita harus  bersyukur atas hal ini,&amp;rdquo; imbuh dia. Dihubungi terpisah, Deputi Bidang  Pengendalian Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis mengatakan pihaknya  optimistis aliran penanaman modal yang masuk terus tumbuh di 2018.   Pencapaian penanaman modal hingga September 2017 telah mencapai Rp513  triliun atau 76% dari target untuk 2017 yang sebesar Rp678,8 triliun.  &amp;rdquo;Kami yakin target 2017 dapat tercapai. Untuk tahun 2018 ini kami juga  yakin bisa tumbuh karena sudah seharusnya.
Baca Juga: JK Tak Khawatir Ada Kerusuhan di Tahun Politik, Ekonomi Diproyeksi Stabil  Kebutuhan  pertumbuhan ekonomi nasional juga semakin tinggi,&amp;rdquo; ujar Azhar kemarin.  Dia mengatakan investor akan selalu melihat prospek Indonesia dalam  jangka 5&amp;ndash;10 tahun. Karena itu sangat penting untuk merealisasi janji dan  membuktikan komitmen pemerintah khususnya untuk perbaikan iklim  investasi.   Fokusnya dapat diarahkan pada rencana deregulasi  dari 1 hingga 16 yang harus segera dilakukan. &amp;rdquo;Masalahnya ada pada  penerapan di daerah. Seperti proses perizinan yang masih berbelit atau  dipersulit di daerah masih banyak menghambat investor,&amp;rdquo; ujarnya.
Baca Juga: Investor Pasar Modal Didorong Investasi di Sektor Riil
Menurutnya, semua kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah harus  menyamakan visi dalam melihat tujuan pembangunan infrastruktur.  Infrastruktur sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing  perekonomian nasional sehingga semuanya harus punya impian yang sama.   &amp;rdquo;Dalam tiga tahun terakhir ada Rp5.000 triliun minat investasi untuk  masuk. Ini buktinya minat investasi sangat tinggi. Tapi jangan hanya  sebatas minat namun harus jadi realisasi. Realisasi investasi bisa  memakan waktu 3 hingga 5 tahun. Namun sejak mulai proses konstruksi bisa  dirasakan percepatan perekonomian yang bergerak,&amp;rdquo; ujarnya.Sementara itu ekonom INDEF Bhima Yudhistira mengatakan, peringkat EODB   Indonesia memang membaik yang disertai peringkat daya saing yang juga   naik. Namun investor melihat sektor riil seperti daya beli yang lesu,   industri pengolahan seperti kehabisan tenaga, dan banyak kebijakan   seperti 16 paket kebijakan hanya macan kertas.
&amp;rdquo;Ini yang  membuat kepercayaan investor rendah,&amp;rdquo; ujar Bhima. Menurut  Bhima, bukan  hanya reformasi soal perizinan investasi yang didorong,  tetapi sektor  riil juga perlu diberi stimulus.
Baca Juga: Jokowi Ibaratkan Indonesia Orang Sakit yang Kolesterol dan Jantungnya Baik, tapi Tak Bisa Lari Cepat
Adapun selama ini stimulus  tidak berjalan efektif. &amp;rdquo;Buktinya janji  harga gas industri murah sampai  sekarang ternyata masih mahal bahkan  dibanding negara yang tidak punya  gas alam,&amp;rdquo; sebutnya. Dia menilai ada  harapan di 2018 untuk memacu  investasi lebih tinggi namun tergantung  kebijakan pemerintah.   Karena yang diharapkan jadi stimulus  ekonomi ada dua, yaitu belanja  pemerintah dan ekspor. &amp;rdquo;Untuk belanja  pemerintah seperti bansos jangan  telat disalurkan. Kemudian program  padat karya harus segera jalan di  awal tahun. Ini untuk memulihkan daya  beli dan meningkatkan permintaan  sektor ritel,&amp;rdquo; paparnya.
Baca Juga: Panggil Menteri Ekonomi, Jokowi Minta Fokus Investasi dan Perdagangan  Soal ekspor, dia menyarankan  pemerintah harus lebih agresif membuka  jalan ke negara alternatif.  Komoditas ekspor yang dipacu jangan sekadar  bahan mentah, tetapi produk  jadi sehingga bernilai tambahnya positif.  &amp;rdquo;Terakhir, jaga situasi  politik dan kebijakan jangan aneh dan buat  gaduh suasana sehingga tidak  kondusif,&amp;rdquo; urai Bhima.   Sementara  itu di sektor perdagangan,  Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita  mengatakan, untuk mencapai  target pertumbuhan ekonomi 2018 sekitar  5,2%&amp;ndash;5,4% dan laju inflasi pada  kisaran 2,5%&amp;ndash;4,5%, maka pemerintah  menetapkan target pertumbuhan ekspor  nonmigas sebesar 5%&amp;ndash;7%.
(Hafid Fuad)</content:encoded></item></channel></rss>
