<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Operasi Pasar dan Impor Jadi Jurus Andalan Tekan Harga Pangan</title><description>Operasi pasar masih jadi jurus andalan pemerintah untuk menekan harga-harga pangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/01/12/320/1843929/operasi-pasar-dan-impor-jadi-jurus-andalan-tekan-harga-pangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/01/12/320/1843929/operasi-pasar-dan-impor-jadi-jurus-andalan-tekan-harga-pangan"/><item><title>Operasi Pasar dan Impor Jadi Jurus Andalan Tekan Harga Pangan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/01/12/320/1843929/operasi-pasar-dan-impor-jadi-jurus-andalan-tekan-harga-pangan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/01/12/320/1843929/operasi-pasar-dan-impor-jadi-jurus-andalan-tekan-harga-pangan</guid><pubDate>Jum'at 12 Januari 2018 11:04 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/01/12/320/1843929/operasi-pasar-dan-impor-jadi-jurus-andalan-tekan-harga-pangan-ajQsYPU0d3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/01/12/320/1843929/operasi-pasar-dan-impor-jadi-jurus-andalan-tekan-harga-pangan-ajQsYPU0d3.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Operasi pasar masih jadi jurus andalan pemerintah untuk menekan harga-harga pangan. Dari sekian banyak komoditas, baru dua yang kini dilakukan operasi pasar: beras dan telur.

Operasi pasar dilakukan serentak di sejumlah kota-kota besar di Indonesia. Pemerintah yakin operasi pasar bakal membuat harga-harga pangan kembali stabil. Selain untuk menjaga daya beli masyarakat, operasi pasar diyakini bisa menjinakkan inflasi. Operasi pasar beras digelar sejak Oktober dan kian intensif menjelang Natal dan tahun baru 2018.

Karena harga tidak kunjung turun, titik operasi pasar diperluas. Semula hanya 1.100 titik, Januari 2018 menjadi 1.800 titik, sesuai rekomendasi Kementerian Perdagangan. Untuk operasi pasar, Bulog menggunakan cadangan beras medium milik pemerintah (CBP) yang ada saat ini 260.000 ton.
&amp;nbsp;Baca juga: Kemendag Impor Beras Thailand Akibat Harga yang Terus Naik
Beras operasi pasar dijual Rp8.100 per kg, di bawah harga eceran tertinggi beras medium di wilayah produsen sebesar Rp9.450 per kg. Namun, dengan operasi pasar tak berarti masalah langsung selesai. Ibarat memadamkan kebakaran, apinya bisa saja mati, tetapi akar sumber api tidak tersentuh.

Secara teori, tambahan pasokan beras ke pasar lewat operasi pasar akan membuat harga stabil, bahkan menurun. Pasokan dan permintaan yang seimbang akan membuat harga stabil. Tetapi teori itu tidak selalu berlaku.

Pertama, keseimbangan supplydemand mensyaratkan ke-lancaran distribusi. Sumbatan distribusi membuat harga melentik tinggi.

Kedua, distribusi akan lancar apabila pemerintah memiliki informasi memadai tentang harga, pergerakan barang, dan gudang.
&amp;nbsp;Baca juga: Harga Beras Terus Naik, Pedagang Minta Pertimbangkan Buka Keran Impor
Ketiga, supply-demand yang seimbang tak berarti apa-apa bila struktur pasar tak sehat dan ada posisi dominan.

Sejarah perberasan puluhan tahun di negeri ini mengajarkan, operasi pasar beras adalah instrumen jangka pendek. Tujuannya memengaruhi harga, tapi efektivitas dalam memengaruhi harga beras tergantung pada banyak hal: stok pedagang; stok pemerintah; volume, jenis dan harga beras yang digerojok di pasar; dan psikologi publik.
Dengan satu jenis beras, yakni medium, mustahil operasi pasar bisa  meredam harga seluruh jenis beras di pasar. Apalagi bila beras operasi  pasar Bulog berasal dari stok lama. Di Pasar Induk Cipinang, Jakarta,  ada 17 jenis beras, sedangkan di kota lain ada 3-5 jenis beras.
&amp;nbsp;Baca juga: Harga Beras Terus Naik, Pedagang Pasar Induk Tuding Mentan Bohongi Publik
Zaman Presiden Soeharto, operasi pasar menuai kritik. Karena itu,  sejak 1998 operasi pasar beras ditinggalkan lalu diganti pendekatan  subsidi terarah lewat beras untuk rakyat miskin (raskin), yang kemudian  diubah jadi beras untuk keluarga prasejahtera sejahtera (rastra).

Namun, sejak Presiden SBY dan Jokowi beleid operasi pasar kembali  dipakai sebagai instrumen stabilisasi harga. Pemerintah sepertinya lupa  operasi pasar beras tidak adil karena bukan cuma rakyat miskin yang  merasakan manfaat, tapi kelompok kaya dan pedagang/ pengecer juga bisa  menikmatinya.

Sebagai pemain, keterlibatan kelompok terakhir ini membuat operasi  pasar tak efektif. Operasi pasar beras akan efektif kalau volume beras  yang digerejok ke pasar tidak terbatas jumlahnya dan siapa pun boleh  membelinya, baik konsumen, pedagang, maupun pengecer.

Apa tidak terjadi moral hazard ? Jika pasar diisi sampai jenuh, kecil   peluang praktik penyalahgunaan. Namun, cara ini memerlukan biaya besar   karena butuh stok beras yang besar pula.

Dan yang lebih penting, cara ini tidak adil karena tidak jelas   pemerintah mau membantu kelompok mana: kelompok miskin, kelompok kaya,   atau kedua-duanya? Kalau pemerintah konsisten, seharusnya bukan operasi   pasar beras yang digalakkan, melainkan memperbesar volume subsidi   pangan.
Ketika ada subsidi pangan dalam bentuk beras, seharusnya tidak ada    lagi operasi pasar beras. Saat keduanya berlaku terjadi double standard :    subsidi umum dan subsidi terarah. Selain tidak adil bagi warga  miskin,   langkah standar ganda semacam ini bakal menguras anggaran yang  besar.   Menjadi masalah karena kini pemerintah justru secara gradual  menghapus   subsidi pangan.
Raskin yang berubah rastra diganti bantuan pangan nontunai (BPNT).     Berbeda dengan raskin/rastra yang berbentuk natura 15 kg beras per     bulan, dalam BPNT keluarga penerima manfaat (KPM) menerima transfer     Rp110.000 per bulan dari bank yang ditunjuk.

Uang hanya bisa dibelanjakan kebutuhan pokok, seperti beras, gula,    telur di pengecer yang ditunjuk. Uang tidak bisa diambil tunai. Jika    tidak habis, uang sisa di voucher bakal menjadi tabungan. Meskipun    diyakini akan lebih baik dan tepat sasaran, skema penyaluran baru ini    masih menyisakan sejumlah masalah.

Pertama , harga pangan di luar Jawa relatif tinggi dibandingkan di    Jawa. Artinya, KPM di luar Jawa akan menerima manfaat lebih rendah    ketimbang mereka yang di Jawa.

Kedua, dengan harga beras medium Rp9.450 per kg (di daerah produsen)    dan Rp9.950 hingga Rp10.250/kg (di daerah konsumen), KPM hanya  menerima   beras setara 10,7 hingga 11,6 kg, lebih rendah dari raskin/-  rastra   selama ini. Artinya, manfaat yang diterima KPM dalam BPNT lebih  rendah   dari raskin/rastra.

Ketiga, apabila pengecer yang ditunjuk tidak menjual beras dan pangan    seperti yang dianjurkan, warga perlu menambah ongkos transportasi    karena harus bolak-balik. Ini membuat manfaat juga lebih rendah.

Keempat, besar bantuan sama, yakni Rp110.000 per KPM. Padahal,    anggota keluarga tiap KPM beda. Idealnya, besar bantuan sesuai jumlah    anggota keluarga.

Kelima, siapa yang mengontrol bila setelah uang bantuan nontunai    ditukar dengan pangan, lalu pangan dijual untuk membeli rokok atau    pulsa? Dalam kondisi demikian, instrumen stabilisasi harga beras    sepenuhnya tergantung pada cadangan beras pemerintah (CBP).

Padahal, CBP harus hanya 350.000 ton atau setara kebutuhan konsumsi    beras tiga hari. Di APBN 2018, anggaran CBP juga tidak diperbesar. CBP    ini mustahil bisa jadi instrumen pengendali harga. Bisa dipahami  apabila   kemudian pemerintah mengandalkan operasi pasar sebagai jurus   pengendali  harga. Padahal, semua tahu efektivitas operasi pasar amat   rendah. Buat  apa operasi pasar beras?

 
Khudori
 
&amp;nbsp;
 
Penggiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat (2010-sekarang)
 
&amp;nbsp;</description><content:encoded>JAKARTA - Operasi pasar masih jadi jurus andalan pemerintah untuk menekan harga-harga pangan. Dari sekian banyak komoditas, baru dua yang kini dilakukan operasi pasar: beras dan telur.

Operasi pasar dilakukan serentak di sejumlah kota-kota besar di Indonesia. Pemerintah yakin operasi pasar bakal membuat harga-harga pangan kembali stabil. Selain untuk menjaga daya beli masyarakat, operasi pasar diyakini bisa menjinakkan inflasi. Operasi pasar beras digelar sejak Oktober dan kian intensif menjelang Natal dan tahun baru 2018.

Karena harga tidak kunjung turun, titik operasi pasar diperluas. Semula hanya 1.100 titik, Januari 2018 menjadi 1.800 titik, sesuai rekomendasi Kementerian Perdagangan. Untuk operasi pasar, Bulog menggunakan cadangan beras medium milik pemerintah (CBP) yang ada saat ini 260.000 ton.
&amp;nbsp;Baca juga: Kemendag Impor Beras Thailand Akibat Harga yang Terus Naik
Beras operasi pasar dijual Rp8.100 per kg, di bawah harga eceran tertinggi beras medium di wilayah produsen sebesar Rp9.450 per kg. Namun, dengan operasi pasar tak berarti masalah langsung selesai. Ibarat memadamkan kebakaran, apinya bisa saja mati, tetapi akar sumber api tidak tersentuh.

Secara teori, tambahan pasokan beras ke pasar lewat operasi pasar akan membuat harga stabil, bahkan menurun. Pasokan dan permintaan yang seimbang akan membuat harga stabil. Tetapi teori itu tidak selalu berlaku.

Pertama, keseimbangan supplydemand mensyaratkan ke-lancaran distribusi. Sumbatan distribusi membuat harga melentik tinggi.

Kedua, distribusi akan lancar apabila pemerintah memiliki informasi memadai tentang harga, pergerakan barang, dan gudang.
&amp;nbsp;Baca juga: Harga Beras Terus Naik, Pedagang Minta Pertimbangkan Buka Keran Impor
Ketiga, supply-demand yang seimbang tak berarti apa-apa bila struktur pasar tak sehat dan ada posisi dominan.

Sejarah perberasan puluhan tahun di negeri ini mengajarkan, operasi pasar beras adalah instrumen jangka pendek. Tujuannya memengaruhi harga, tapi efektivitas dalam memengaruhi harga beras tergantung pada banyak hal: stok pedagang; stok pemerintah; volume, jenis dan harga beras yang digerojok di pasar; dan psikologi publik.
Dengan satu jenis beras, yakni medium, mustahil operasi pasar bisa  meredam harga seluruh jenis beras di pasar. Apalagi bila beras operasi  pasar Bulog berasal dari stok lama. Di Pasar Induk Cipinang, Jakarta,  ada 17 jenis beras, sedangkan di kota lain ada 3-5 jenis beras.
&amp;nbsp;Baca juga: Harga Beras Terus Naik, Pedagang Pasar Induk Tuding Mentan Bohongi Publik
Zaman Presiden Soeharto, operasi pasar menuai kritik. Karena itu,  sejak 1998 operasi pasar beras ditinggalkan lalu diganti pendekatan  subsidi terarah lewat beras untuk rakyat miskin (raskin), yang kemudian  diubah jadi beras untuk keluarga prasejahtera sejahtera (rastra).

Namun, sejak Presiden SBY dan Jokowi beleid operasi pasar kembali  dipakai sebagai instrumen stabilisasi harga. Pemerintah sepertinya lupa  operasi pasar beras tidak adil karena bukan cuma rakyat miskin yang  merasakan manfaat, tapi kelompok kaya dan pedagang/ pengecer juga bisa  menikmatinya.

Sebagai pemain, keterlibatan kelompok terakhir ini membuat operasi  pasar tak efektif. Operasi pasar beras akan efektif kalau volume beras  yang digerejok ke pasar tidak terbatas jumlahnya dan siapa pun boleh  membelinya, baik konsumen, pedagang, maupun pengecer.

Apa tidak terjadi moral hazard ? Jika pasar diisi sampai jenuh, kecil   peluang praktik penyalahgunaan. Namun, cara ini memerlukan biaya besar   karena butuh stok beras yang besar pula.

Dan yang lebih penting, cara ini tidak adil karena tidak jelas   pemerintah mau membantu kelompok mana: kelompok miskin, kelompok kaya,   atau kedua-duanya? Kalau pemerintah konsisten, seharusnya bukan operasi   pasar beras yang digalakkan, melainkan memperbesar volume subsidi   pangan.
Ketika ada subsidi pangan dalam bentuk beras, seharusnya tidak ada    lagi operasi pasar beras. Saat keduanya berlaku terjadi double standard :    subsidi umum dan subsidi terarah. Selain tidak adil bagi warga  miskin,   langkah standar ganda semacam ini bakal menguras anggaran yang  besar.   Menjadi masalah karena kini pemerintah justru secara gradual  menghapus   subsidi pangan.
Raskin yang berubah rastra diganti bantuan pangan nontunai (BPNT).     Berbeda dengan raskin/rastra yang berbentuk natura 15 kg beras per     bulan, dalam BPNT keluarga penerima manfaat (KPM) menerima transfer     Rp110.000 per bulan dari bank yang ditunjuk.

Uang hanya bisa dibelanjakan kebutuhan pokok, seperti beras, gula,    telur di pengecer yang ditunjuk. Uang tidak bisa diambil tunai. Jika    tidak habis, uang sisa di voucher bakal menjadi tabungan. Meskipun    diyakini akan lebih baik dan tepat sasaran, skema penyaluran baru ini    masih menyisakan sejumlah masalah.

Pertama , harga pangan di luar Jawa relatif tinggi dibandingkan di    Jawa. Artinya, KPM di luar Jawa akan menerima manfaat lebih rendah    ketimbang mereka yang di Jawa.

Kedua, dengan harga beras medium Rp9.450 per kg (di daerah produsen)    dan Rp9.950 hingga Rp10.250/kg (di daerah konsumen), KPM hanya  menerima   beras setara 10,7 hingga 11,6 kg, lebih rendah dari raskin/-  rastra   selama ini. Artinya, manfaat yang diterima KPM dalam BPNT lebih  rendah   dari raskin/rastra.

Ketiga, apabila pengecer yang ditunjuk tidak menjual beras dan pangan    seperti yang dianjurkan, warga perlu menambah ongkos transportasi    karena harus bolak-balik. Ini membuat manfaat juga lebih rendah.

Keempat, besar bantuan sama, yakni Rp110.000 per KPM. Padahal,    anggota keluarga tiap KPM beda. Idealnya, besar bantuan sesuai jumlah    anggota keluarga.

Kelima, siapa yang mengontrol bila setelah uang bantuan nontunai    ditukar dengan pangan, lalu pangan dijual untuk membeli rokok atau    pulsa? Dalam kondisi demikian, instrumen stabilisasi harga beras    sepenuhnya tergantung pada cadangan beras pemerintah (CBP).

Padahal, CBP harus hanya 350.000 ton atau setara kebutuhan konsumsi    beras tiga hari. Di APBN 2018, anggaran CBP juga tidak diperbesar. CBP    ini mustahil bisa jadi instrumen pengendali harga. Bisa dipahami  apabila   kemudian pemerintah mengandalkan operasi pasar sebagai jurus   pengendali  harga. Padahal, semua tahu efektivitas operasi pasar amat   rendah. Buat  apa operasi pasar beras?

 
Khudori
 
&amp;nbsp;
 
Penggiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat (2010-sekarang)
 
&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
