<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Gara-Gara Krisis 1998, Infrastruktur Indonesia Terpuruk di Bawah Standar Global   </title><description>Posisi stok infrastruktur terhadap PDB di jaman orde baru sebelum krisis 1998, pernah di angka 49%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/01/18/320/1846818/gara-gara-krisis-1998-infrastruktur-indonesia-terpuruk-di-bawah-standar-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/01/18/320/1846818/gara-gara-krisis-1998-infrastruktur-indonesia-terpuruk-di-bawah-standar-global"/><item><title>   Gara-Gara Krisis 1998, Infrastruktur Indonesia Terpuruk di Bawah Standar Global   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/01/18/320/1846818/gara-gara-krisis-1998-infrastruktur-indonesia-terpuruk-di-bawah-standar-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/01/18/320/1846818/gara-gara-krisis-1998-infrastruktur-indonesia-terpuruk-di-bawah-standar-global</guid><pubDate>Kamis 18 Januari 2018 13:36 WIB</pubDate><dc:creator>Ulfa Arieza</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/01/18/320/1846818/gara-gara-krisis-1998-infrastruktur-indonesia-terpuruk-di-bawah-standar-global-iRbb4bcbjJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/01/18/320/1846818/gara-gara-krisis-1998-infrastruktur-indonesia-terpuruk-di-bawah-standar-global-iRbb4bcbjJ.jpg</image><title>Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Upaya pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur bukan tanpa alasan. Pasalnya, stok infrastruktur Indonesia dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) masih sekitar 38%.

Padahal, kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, rata-rata standar global stok infrastruktur terhadap PDB adalah 70%.

&quot;Indonesia di 2012 dan mungkin tidak jauh beda di pada hari ini kondisinya masih 32% di bawah standar global,&quot; ujarnya dalam acara Proyek Investasi Non Anggaran Pemerintah (PINA) Day 2018, di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (18/1/2018).
Baca Juga: Menteri Bambang: Modal Tak Selalu soal Uang

Bambang memaparkan, posisi stok infrastruktur terhadap PDB di jaman orde baru sebelum krisis 1998, pernah di angka 49% atau hampir separuh dari PDB negara. Sayangnya, krisis 1998, mengubah seluruh keadaan tersebut. Setelah krisis, stok infrastruktur terhada pembangunan terus melambat.

&quot;Tapi gara-gara krisis 1998 collapse semua, sebagian collapse betulan karena keuangannya collapse dengan krisis,  sebagian lagi menjadi wan prestasi karena penunjukan pemegang konsesi berbau KKN,&quot; kata Bambang.
Baca Juga:&amp;nbsp;Luhut: ADB Tawarkan Rp200 Triliun untuk Normalisasi Sungai Citarum

Secara konsep, apabila pertumbuhan infrastruktur tidak bisa mengikuti pertumbuhan GDP, hal tersebut akan menghambat pertumbuhan ekonomi. &quot;Cuman yang kita khawatir nanti, pertumbuhan di Indonesia tidak akan sustainable dan tidak akan lebih cepat kalau infrastruktur tidak dibenahi,&quot;kata dia.

Lama -lama, lanjut dia, infrastruktur bukan lagi faktor pendukung tapi faktor penghambat dari pertumbuhan. Sebagai gambaran, besaran stok infrastruktur terhadap PDB di negara maju seperti Jepang mencapai di atas 100% atau lebih besar daripada GDP. Sementara China sudah hampir 80% dan  Amerika Serikat  sekitar 75%-76%.</description><content:encoded>JAKARTA - Upaya pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur bukan tanpa alasan. Pasalnya, stok infrastruktur Indonesia dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) masih sekitar 38%.

Padahal, kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, rata-rata standar global stok infrastruktur terhadap PDB adalah 70%.

&quot;Indonesia di 2012 dan mungkin tidak jauh beda di pada hari ini kondisinya masih 32% di bawah standar global,&quot; ujarnya dalam acara Proyek Investasi Non Anggaran Pemerintah (PINA) Day 2018, di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (18/1/2018).
Baca Juga: Menteri Bambang: Modal Tak Selalu soal Uang

Bambang memaparkan, posisi stok infrastruktur terhadap PDB di jaman orde baru sebelum krisis 1998, pernah di angka 49% atau hampir separuh dari PDB negara. Sayangnya, krisis 1998, mengubah seluruh keadaan tersebut. Setelah krisis, stok infrastruktur terhada pembangunan terus melambat.

&quot;Tapi gara-gara krisis 1998 collapse semua, sebagian collapse betulan karena keuangannya collapse dengan krisis,  sebagian lagi menjadi wan prestasi karena penunjukan pemegang konsesi berbau KKN,&quot; kata Bambang.
Baca Juga:&amp;nbsp;Luhut: ADB Tawarkan Rp200 Triliun untuk Normalisasi Sungai Citarum

Secara konsep, apabila pertumbuhan infrastruktur tidak bisa mengikuti pertumbuhan GDP, hal tersebut akan menghambat pertumbuhan ekonomi. &quot;Cuman yang kita khawatir nanti, pertumbuhan di Indonesia tidak akan sustainable dan tidak akan lebih cepat kalau infrastruktur tidak dibenahi,&quot;kata dia.

Lama -lama, lanjut dia, infrastruktur bukan lagi faktor pendukung tapi faktor penghambat dari pertumbuhan. Sebagai gambaran, besaran stok infrastruktur terhadap PDB di negara maju seperti Jepang mencapai di atas 100% atau lebih besar daripada GDP. Sementara China sudah hampir 80% dan  Amerika Serikat  sekitar 75%-76%.</content:encoded></item></channel></rss>
