<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Investor Tak Cemas Akan Shutdown Amerika   </title><description>Pemerintah dan Senat AS juga tidak akan membiarkan &quot;shutdown&quot; tersebut terjadi lama.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2018/01/23/20/1849004/investor-tak-cemas-akan-shutdown-amerika</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2018/01/23/20/1849004/investor-tak-cemas-akan-shutdown-amerika"/><item><title>Investor Tak Cemas Akan Shutdown Amerika   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2018/01/23/20/1849004/investor-tak-cemas-akan-shutdown-amerika</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2018/01/23/20/1849004/investor-tak-cemas-akan-shutdown-amerika</guid><pubDate>Selasa 23 Januari 2018 14:49 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2018/01/23/20/1849004/investor-tak-cemas-akan-shutdown-amerika-OxXtvpBr34.jpg" expression="full" type="image/jpeg">US Shutdown. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2018/01/23/20/1849004/investor-tak-cemas-akan-shutdown-amerika-OxXtvpBr34.jpg</image><title>US Shutdown. (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Analis dan Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed mengatakan investor tidak cemas oleh &quot;shutdown&quot; atau tidak berjalannya pemerintahan Amerika Serikat karena tidak tercapai kata kesepakatan terkait anggaran negara AS.

&quot;Walaupun situasi ini menjadi pembahasan besar di media, namun investor sepertinya tidak terlalu khawatir atas dampaknya terhadap investasi,&quot; kata Hussein Sayed, Selasa (23/1/2018).

Menurutnya, hal yang terjadi menyiratkan bahwa pasar finansial semakin kebal menghadapi drama politik yang terjadi di negara adidaya di bawah pemerintahan Donald Trump. Dia memprediksi bahwa drama &quot;shutdown&quot; tersebut akan segera berakhir. Hal tersebut karena terakhir kali pemerintah AS mengalami &quot;shutdown&quot; pada 2013 selama 16 hari, ekonomi AS harus kehilangan USD24 miliar.
Baca juga:&amp;nbsp;Wall Street Cetak Rekor di Saat Pemerintahan ASShutdown

Terpisah, Bank Indonesia meyakini berhenti beroperasinya sebagian layanan publik di Amerika Serikat (AS) alias &quot;shutdown&quot;, imbas belum disepakatinya anggaran pemerintah oleh Senat, hanya berdampak kecil dan sementara ke Indonesia.

Gubernur BI Agus Martowardojo di Kementerian Keuangan mengatakan, setelah &quot;shutdown&quot; tidak semua layanan dari pemerintah AS berhenti beroperasi. Pemerintah dan Senat AS juga tidak akan membiarkan &quot;shutdown&quot; tersebut terjadi lama.

Sementara itu, ekonom senior Standard Chartered Bank Indonesia, Aldian Taloputra, menilai dampak dari penghentian sementara atau &quot;shutdown&quot; operasional pemerintahan di Amerika Serikat tidak terlalu besar bagi Indonesia.
Baca juga:&amp;nbsp;Trump Wacanakan &quot;Opsi Nuklir&quot; untuk Akhiri Penutupan Pemerintahan AS

Dia menjelaskan, berhentinya kegiatan pemerintah AS tersebut bukan kali pertama terjadi. Pemerintah AS pernah mengalami &quot;shutdown&quot; pada 1-16 Oktober 2013.

Sedangkan Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai bahwa &quot;shutdown&quot; atau penghentian sementara operasional pemerintahan di Amerika Serikat tidak berdampak negatif pada industri pasar modal domestik.</description><content:encoded>JAKARTA - Analis dan Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed mengatakan investor tidak cemas oleh &quot;shutdown&quot; atau tidak berjalannya pemerintahan Amerika Serikat karena tidak tercapai kata kesepakatan terkait anggaran negara AS.

&quot;Walaupun situasi ini menjadi pembahasan besar di media, namun investor sepertinya tidak terlalu khawatir atas dampaknya terhadap investasi,&quot; kata Hussein Sayed, Selasa (23/1/2018).

Menurutnya, hal yang terjadi menyiratkan bahwa pasar finansial semakin kebal menghadapi drama politik yang terjadi di negara adidaya di bawah pemerintahan Donald Trump. Dia memprediksi bahwa drama &quot;shutdown&quot; tersebut akan segera berakhir. Hal tersebut karena terakhir kali pemerintah AS mengalami &quot;shutdown&quot; pada 2013 selama 16 hari, ekonomi AS harus kehilangan USD24 miliar.
Baca juga:&amp;nbsp;Wall Street Cetak Rekor di Saat Pemerintahan ASShutdown

Terpisah, Bank Indonesia meyakini berhenti beroperasinya sebagian layanan publik di Amerika Serikat (AS) alias &quot;shutdown&quot;, imbas belum disepakatinya anggaran pemerintah oleh Senat, hanya berdampak kecil dan sementara ke Indonesia.

Gubernur BI Agus Martowardojo di Kementerian Keuangan mengatakan, setelah &quot;shutdown&quot; tidak semua layanan dari pemerintah AS berhenti beroperasi. Pemerintah dan Senat AS juga tidak akan membiarkan &quot;shutdown&quot; tersebut terjadi lama.

Sementara itu, ekonom senior Standard Chartered Bank Indonesia, Aldian Taloputra, menilai dampak dari penghentian sementara atau &quot;shutdown&quot; operasional pemerintahan di Amerika Serikat tidak terlalu besar bagi Indonesia.
Baca juga:&amp;nbsp;Trump Wacanakan &quot;Opsi Nuklir&quot; untuk Akhiri Penutupan Pemerintahan AS

Dia menjelaskan, berhentinya kegiatan pemerintah AS tersebut bukan kali pertama terjadi. Pemerintah AS pernah mengalami &quot;shutdown&quot; pada 1-16 Oktober 2013.

Sedangkan Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai bahwa &quot;shutdown&quot; atau penghentian sementara operasional pemerintahan di Amerika Serikat tidak berdampak negatif pada industri pasar modal domestik.</content:encoded></item></channel></rss>
